26 Mei 2017 - 06:55
Arab Saudi Bekerja untuk Kepentingan AS di Kawasan

"Trump mengajak Arab Saudi untuk memerangi terorisme tapi memasukkan Hizbullah dalam daftar kelompok teroris, sementara Hizbullah selama ini hanya mempertahankan batas negara. Yang hizbullah lakukan adalah bertahan didalam negeri menjaga kedaulatan dan kehormatan bangsa ini."

Menurut Kantor Berita ABNA, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon Sayid Hasan Nashrullah kamis sore (25/5) menyampaikan pidato dalam acara perayaan kemenangan Hizbullah yang ke-17 atas pembebasan kota Hermel Lebanon. 

Diawal pidatonya, Nashrullah menyebut kota Hermel adalah kota yang telah melahirkan ribuan syuhada dan ruh para syuhada yang gugur dalam membebaskan kota Hermel akan terus hidup setiap tahunnya di hati-hati penduduk kota tersebut. 

"Sejarah Lebanon adalah sejarah perlawanan. Perayaan kemenangan atas Israel tahun 2000 lalu, menunjukkan sikap politik Lebanon. Ketika Israel menyerang bagian selatan Lebanon, dunia internasional saat itu bungkam, dan Lebanon harus menghadapinya sendiri." Ungkapnya. 

Sekjen Hizbullah lebih lanjut mengatakan, "AS dan Barat tidak hanya mendukung Israel namun juga memberikan bantuannya, dan hanya ada dua negara saat itu yang membela dan mendukung perjuangan Lebanon, yaitu Iran dan Suriah. Negara-negara Arab lainnya apalagi negara Barat tidak pernah memberikan bantuan sedikitpun pada rakyat Lebanon. Mayoritas negara Barat justru berpihak pada Zionis Israel."

"Meski dengan kekuatan sendiri, pejuang Lebanon berhasil mengusir Zionis dari Lebanon. Kemenangan tersebut dicapai atas ketegaran rakyat Lebanon dan kepiawaian tokoh-tokoh pejuang yang telah mengorbankan dirinya demi kemenangan bangsa Lebanon. Saya akan selalu mengulang dan mengulang untuk menyebut nama-nama besar mereka diantaranya, Sayid Musawi Shadr, Sayid Abbas al-Musawi , Syaikh Raghib Harb dan 'Imad Mughniyah." Tambahnya. 

Mengenai pertemuan KTT Arab Islam Amerika yang diadakan di Riyadh Arab Saudi yang tutut dihadiri Presiden AS Donald Trump, Sayid Hasan Nashrullah mengatakan, "Pertemuan Riyadh tidak memberikan keuntungan sedikitpun bagi Lebanon, dan Lebanon tidak peduli dengan itu. Saya sangat mengapresiasi langkah dan kebijakan Menteri Luar Negeri Lebanon yang pemberani dan jujur dengan meninggalkan pertemuan tersebut." 

"Kejadian terakhir di Bahrain punya hubungan erat dengan pertemuan Riyadh. Yang terjadi di Riyadh bukan pertemuan dan dialog antar kepala negara melainkan intervensi dan campur tangan AS dalam urusan internal negara-negara Islam. Tujuan Arab Saudi menghadirkan Trump dalam pertemuan tersebut adalah menunjukkan peran dan pengaruh besarnya Trump di dunia Arab. Arab Saudi hari ini telah menjadi markas peletak dasar ideologi takfiri dan terorisme." Lanjutnya. 

Sayid Nashrullah berkata, "Yang dituntut di Bahrain oleh rakyatnya adalah reformasi, pemenuhan hak-hak politik dan persamaan hak dihadapan hukum, namun tuntutan tersebut dibalas dengan pembunuhan, penangkapan ulama, pengrusakan masjid-masjid dan mencabut hak kewarganegaraan Syaikh Isa Qasim."

"Arab Saudi telah menjadi markas dan tempat lahirnya pemikiran takfiri dan dibentuknya kelompok-kelompok teroris. Ketika Arab Saudi menggelontorkan dana besar untuk mensuplai kelompok pemberontak dan teroris di Suriah, Iran mendukung dan membela Suriah. Namun dalam pertemuan Riyadh, Arab Saudi malah menuduh Iran dalang dibalik gerakan terorisme di Timur Tengah." Tambahnya. 

Sekjen Hizbullah tersebut menambahkan, "Semua langkah yang ditempuh Arab Saudi untuk memberikan pencitraan negatif dan melemahkan Iran, tetap tidak ada yang berhasil sampai hari ini. Dalam perang Irak-Iran, Arab Saudi berada pada kubu Irak dan tidak hanya mendukung namun juga membantu persenjataan dan dana. Namun langkah itu tidak juga berhasil membuat Iran lemah."

"Trump mengajak Arab Saudi untuk memerangi terorisme tapi memasukkan Hizbullah dalam daftar kelompok teroris, sementara Hizbullah selama ini hanya mempertahankan batas negara. Yang hizbullah lakukan adalah bertahan didalam negeri menjaga kedaulatan dan kehormatan bangsa ini." Tegasnya. 

Pada bagian akhir orasinya, Sayid Hasan Nahsrullah mengatakan, "Pertemuan Riyadh tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kegagalan. Rakyat Lebanon akan terus mendukung muqawah sampai meraih kemenangannya secara sempurna."