28 Januari 2017 - 14:27
Aliansi Anti Perang Tolak Kunjungan Raja Salman ke Indonesia

Aliansi Anti Perang menegaskan Raja Salman bertanggung jawab atas perang berkepanjangan di Yaman dan Suriah. Aliansi menuduh Raja Salman melanjutkan para pendahulunya memecah belah umat Islam atas dasar perbedaan agam dan mazhab.

Menurut Kantor Berita ABNA, Gerakan sipil dan kemanusiaan bernama Aliansi Anti Perang menolak kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Indonesia dalam sebuah aksi unjuk rasa yang mereka gelar didepan Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta Jum'at (27/1). Mereka menuding Raja Arab Saudi tersebut sebagai sebagai penjahat perang dan kemanusiaan. Dalam aksinya, sejumlah demonstran tersebut menandatangani pernyataan penolakan kunjungan Raja Salman di atas kain putih raksasa.

Pengumpulan penandatanganan anti-Salman ini direncanakan setiap hari Ahad. Nantinya akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo sepekan sebelum kedatangan raja ketujuh Saudi itu.

Raja Salman dijadwalkan datang ke Indonesia awal Maret. Dia akan berada di Indonesia selama 1-9 Maret 2016 dan akan menjadi kunjungan kepala negara terlama di Indonesia. 

Aliansi Anti Perang menegaskan Raja Salman bertanggung jawab atas perang berkepanjangan di Yaman dan Suriah. Aliansi menuduh Raja Salman melanjutkan para pendahulunya memecah belah umat Islam atas dasar perbedaan agam dan mazhab.

“Serangan mesin perang Saudi membunuhi warga sipil, terutama anak-anak, perempuan, dan orang tua,” kata Aliansi Anti Perang dalam siaran pers sebagaimana dikutip dari Albalad.co Jum'at (27/1). “Kejahatan Saudi lainnya adalah menyokong para pemberontak menyerang Irak dan Suriah.”

Perang Suriah sejak Maret 2011 telah menewaskan setengah juta orang dan memaksa sebelas juta lainnya mengungsi. Perang Yaman sejak Maret 2015 sudah nembunuh belasan ribu orang.Sebagian pihak menilai kedua perang itu wujud dari persaingan Saudi dan Iran dalam memperebutkan pengaruh di Timur Tengah.

Dalam aksinya Aliansi Anti Perang memberikan statement yang isinya :

  1. Salman adalah sponsor dan penjahat perang dan juru adu domba di pelbagai negara seperti Yaman, Suriah, Irak, Bahrain, dll.
  2. Rombongan delegasi yang dibawanya begitu banyak dan berlebihan. Menunjukkan arogansi dan berbahaya bagi Indonesia karena tak ada yang bisa memastikan di balik rombongan itu tak ada elemen ISIS, Al Qaida dan para intoleran yang akan masuk ke pelbagai daerah di Indonesia dan menyebarkan propaganda sektarianisme seperti selalu disponsori Salman selama ini
  3. Sesuai prinsip-prinsip berbangsa yang menjunjung tinggi perikemanusiaan dan keadilan seperti termuat dalam preambul konstitusi kita dan menjadi filosofi dari konsitusi, kita harus menolak penjahat perang seperti Salman dan penjajah kemanusiaan yang selama ini menjadi kepanjangan tangan kolonialisme Amerika, Israel dan Inggris di dunia Islam.
  4. Kita menghormati rakyat Arab Saudi tapi menolak keras kerajaannya yang zalim, berlumuran darah dan suka mengadu domba negara-negara lain demi kepentingan-kepentingan kolonial.