Menurut Kantor Berita ABNA, ribuan warga Bahrain sabtu [14/2] menyambut peringatan revolusi Negara mereka dengan mengadakan demonstrasi besar-besaran di jalan-jalan. Namun pihak rezim tidak tinggal diam. Rezim Ali Khalifah mengerahkan seluruh kesatuan kepolisian menyambut ribuan warga Bahrain yang sedang melakukan aksi damai dengan kekerasan seperti menembakkan gas air mata, bom sonik, peluru karet bahkan peluru tajam. Menurut saksi, para pengunjuk rasa yang turut disertai perempuan dan anak-anak meneriakkan slogan "Kami korbankan jiwa demi Bahrain" sambil mengibarkan bendera negara tersebut. Namun aksi tersebut dibubarkan paksa dan demonstran terpaksa berlarian setelah digempur dengan gas air mata dan bom sonik yang dilepaskan oleh pihak keamanan.
Foto-foto para demonstran yang cedera akibat terkena peluru karet aparat mulai beredar di media sosial hari itu juga dan dilaporkan juga sejumlah aktivis berhasil ditahan oleh aparat keamanan. Tak pelak, aksi damai yang dibubarkan paksa aparat tersebut menuai komentar negatif dan kecaman dari citizen.
Pengunjuk rasa membalas aksi aparat yang menutup jalan utama menuju Manama dengan juga menyekat lorong-lorong diperkampungan dengan batu, tong sampah dan tumpukan sampah, sehingga aparat keamanan kesulitan untuk membersihkannya.
Bahrain adalah Negara kecil di Teluk Persia, yang sebelumnya merupakan bagian dari Negara Iran. Setelah berlepas diri dan menjalin kerjasama dengan AS, Negara tersebut berubah haluan politik menjadi kerajaan depostik yang otoriter dan kerap memberlakukan aturan diskriminasi bagi warganya. Hal tersebutlah yang menyulut kemarahan rakyat yang mayoritas menganut Syiah sehingga tercetuslah aksi revolusi tanggal 14 Februari 2011. Diantara tuntutan revolusi tersebut adalah hak yang sama dalam bidang pendidikan dan lowongan pekerjaan yang merata, yang selama ini diabaikan dan disepelakan oleh rezim Khalifah.
Sampai saat ini, Rejim Al Khalifah telah membunuh ratusan penduduk bermazhab Syiah dan memenjarakan ribuan warga sipil serta aktivis politik.