Menurut Kantor Berita ABNA, meskipun sejak awalnya ISIS hanya menargetkan penguasaan dan penyerbuan ke Irak sebagai sayap militer yang berafiliasi ke Al-Qaedah, namun pada perkembangan selanjutnya juga melakukan agresi penyerangan ke Suriah yang kemudian membuatnya bentrok dengan sayap al-Qaedah lainnyya, yaitu Jabha an-Nusra. Tidak jarang kedua kelompok teroris tersebut terlibat pertempuran sengit untuk memperebutkan wilayah.
Dalam pertempuran sengit terakhir, Jabhah an Nusra mengalami kekalahan, dan kemudian mengirim wakilnya untuk melakukan perundingan dengan ISIS di kota Riqqa untuk diadakan kesepakatakan damai dan mengakhiri konflik dua kelompok yang sama-sama lahir dari rahim al-Qaedah tersebut. Namun tawaran damai tersebut ditolak ISIS karena menganggap Jabhah an-Nusra adalah kelompok kafir dan layak diperangi.
Karena wilayah kekuasaan ISIS sudah merebak di Irak dan Suriah, kelompok ini mendeklarasikan berdirinya kekhalifaan Islam dan mendesak umat Islam untuk memberikan baiat kepada Abu Bakar al Baghdadi sebagai khalifah. Menjawab seruan itu, beberapa cabang al Qaedah yang tersebar di Afganistan, Suriah, Somalia, Yaman dan Filipina menyatakan baiatnya secara resmi kepada Abu Bakar al Bahgdadi. Menyusul kemudian al-Qaedah cabang Algeria dan Pakistan. Bagi kelompok yang menolak memberikan baiatnya maka akan diperangi oleh ISIS dan dikategorikan kafir.
Untuk meraih simpatik dan merekrut anggota, ISIS memanfaatkan media-media sosial. Menurut perkembangan terbaru, disebutkan terdapat 300 warga Negara Indonesia yang telah bergabung dengan ISIS.