Menurut Kantor Berita ABNA, Khatib Shalat Jumat Tehran mengatakan partisipasi aktif bangsa Iran dalam pawai akbar memperingari hari kemenangan Revolusi Islam pada 22 Bahman yang bertepatan dengan 11 Februari, menyebabkan kegagalan musuh menghadapi Republik Islam.
"Semakin meriah pawai akbar 22 Bahman diperingati, musuh semakin putus asa menghadapi Iran," ujar Ayatullah Mohammad Ali Movahedi Kermani, Jumat (7/2).
Menyinggung sepak terjang AS terhadap Iran, Ayatullah Kermani menegaskan, Washington masih melancarkan sanksi ekonomi dan kebijakan anti-Iran lainnya.
"[AS] terus melancarkan tudingan infaktual demi menjegal kemajuan Iran", tegasnya.
Khatib shalat Jumat Tehran mengungkapkan bahwa bangsa Iran selamanya tidak pernah khawatir terhadap segala bentuk tekanan tersebut, bahkan menilai berbagai sanksi dan tekanan terhadap Republik Islam bukan sebagai masalah serius.
Ayatullah Kermani mendesak pemerintahan Rouhani segera menjawab dengan tegas tudingan anti-Iran yang dilancarkan Menlu AS, John Kerry dan wakilnya Wendy Sherman mengenai program nuklir Tehran.
Sebelumnya, Selasa (4/2) juru runding AS dalam perundingan Jenewa, Wendy Sherman menyoal tuntutan Iran dalam mempertahankan sejumlah fasilitas nuklirnya.
"Kita tahu Iran tidak perlu memiliki fasilitas pengayaan uranium bawah tanah seperti Fordow ... [atau] reaktor air berat di Arak untuk memiliki program nuklir damai," ujarnya.
Menteri Luar Negeri Iran pada hari Rabu (5/2) membantah statemen Sherman dan menilainya "tidak berguna."
"Teknologi nuklir Iran tidak dapat dirundingkan dan pernyataan tentang fasilitas nuklir Iran itu tidak berarti, dan tidak perlu dinegosiasikan," kata Mohammad Javad Zarif.
"Sherman harus tetap berpegang pada realitas dan berhenti berbicara tentang hal-hal yang mustahil, bahkan jika itu hanya untuk konsumsi dalam negeri ... mengingat pencapaian solusi dapat terhalang dengan ungkapan seperti itu," tambah Menteri Luar Negeri Iran.