Menurut Kantor Berita ABNA, Ariel Sharon mantan orang terkuat di Israel dikabarkan meninggal dunia setelah mengalami koma selama dua minggu terakhir ini. Ia meninggal saat anak-anaknya sedang mendampingi akibat stroke yang dideritanya di Sheba Medical Centre Tel Aviv tempatnya selama ini dirawat Sabtu 11 Januri 2014.
Sumber-sumber media Israel melaporkan Sharon telah mengalami gagal ginjal yang menyebabkan kondisinya memburuk.
Pejabat di rumah sakit di luar Ibu Kota Tel Aviv, di mana Sharon sedang dirawat menolak berkomentar terkait masalah ini. Sementara sumber-sumber dari pemerintah Israel juga tetap diam.
Mengutip dari media berbasis online milik Israel haaretz.com meninggalnya mantan jenderal Israel yang berbaring di rumah sakit sejak 4 Januari 2006 ini sontak menjadi berita hangat dan meluas di jaringan televisi setempat.
Sebelumnya, mengutip berita dari detiknews.com dilansir dari The Times of Israel, Sabtu (11/1/2014), Sharon mengalami gagal ginjal dan infeksi darah.
“Dia dalam kondisi kritis yang mengancam jiwa,” kata para dokter di rumah sakit Sheba Medical Center tempat Sharon dirawat.
Keluarga Sharon terus berada di sisinya untuk mendampingi mantan pemimpin negeri Yahudi itu. Sejumlah tokoh Israel juga tampak mendampinginya, termasuk orang yang pernah ditunjuk Sharon untuk memimpin badan intelijen Mossad, Meir Dagan.
Sharon telah berada dalam kondisi koma selama 8 tahun. Pria berumur 85 tahun itu belakangan telah mengalami disfungsi sejumlah organ vital. Selama ini kondisinya selalu stabil. Namun beberapa hari lalu para dokter menyampaikan bahwa kondisinya telah menurun drastis.
Sharon mengalami koma usai mendapat serangan stroke pada 4 Januari 2006. Ia kemudian dioperasi selama tujuh jam menyusul pendaharan otak yang dialaminya tidak lama setelah dikirimkan ke rumah sakit. Sejak saat itu nyawa Sharon bergantung pada alat penunjang kehidupan.
Setahun silam tim dokter melaporkan, kondisi kesehatan Sharon menunjukkan kemajuan lantaran otaknya mulai kembali “aktif.” Namun begitu, kondisi Sharon saat itu tidak lekas membaik. Sejak 2006 dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali sadar.
Sharon Yang Kontroversial
Sharon lahir tanah Palestina 26 Febuari 1946. Ketika Sharon lahir, tanah Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris Raya.
Sebagai orang muda Yahudi, merupakan suatu kebanggaan untuk bergabung dengan tentara Israel. Akhirnya, langkah yang sama diambil Sharon.
Sharon memilih Organisasi Militer Bawah Tanah Haganah sebagai tempatnya mengabdi. Dia pun turut berperang dalam perang Arab-Israel yang berlangsung 1948-1949, dalam peranannya sebagai komandan pleton.
Setelah Negara Israel berdiri tahun 1948, karir militer Sharon semakin melesat. Dia tidak pernah absen dari segala macam perang yang disulut oleh Israel.
Tidak pernah absennya Sharon dari medan perang, membuat dirinya dikenal sebagai Komandan tanpa rasa takut dan seorang yang memiliki strategi brilian.
Perang Suez pada 1957, semakin menaikan nama Sharon di mata dunia. Kala itu, strategi jitunya berhasil menumpas perlawanan tentara Mesir.
Puas melihat kinerja Sharon, Militer Israel mengganjar Sharon dengan hadiah kenaikan pengkat menjadi Mayor Jenderal.
Enam tahun berselang, saat Mesir dan Suriah menyerang Israel secara tiba-tiba. Taktik menyerang tentara ketiga Mesir saat mereka berada di Sinai, merubah arah angin dan membuat pasukan gabungan Suriah dan Mesir harus gigit jari karena kemenangan di depan mata mereka dirampas oleh Israel yang dipimpin oleh Sharon.
Raksasa Politik
Cemerlang di medan perang, Sharon melebarkan sayapnnya ke ranah politik. Di 1973 Sharon terpilih menjadi anggota parlemen (Knesset) lewat partai garis keras Israel Partai Likud.
Hanya saja, masa pengabdian Sharon di Knesset tidak berlangsung lama. Satu tahun setelah menjabat, dia memilih mundur dari Knesset. Jabatan Penasihat Keamanan Perdana Menteri Yitzhak Rabin lebih menggiurkan bagi Sharon dibanding hanya duduk rapat dan merapatkan konstitusi.
Tapi, di 1977 Sharon terpilih lagi di Knesset dan membuat dirinya kembali jadi penyambung lidah rakyat Israel di Parlemen. Di 1981 Sharon ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan Israel.
Tugas sebagai Menteri Pertahanan Israel datang bertepatan dengan puncak perlawanan Palestina terhadap Israel. Organisasi Pembebas Palestina (PLO) yang dipimpin Yasser Arafat secara kencang mengkritisi Israel.
Jengah dengan suara Arafat, Sharon memutar otak dan memilih untuk memerintahkan tentara Isreal angkat senjata dan melancarkan invasi ke Utara Israel, dimana di daerah itu termasuk salah satu basis tentara Palestina.
Tanpa memberi informasi jelas kepada PM Israel, Sharon menyuruh angkatan bersenjata Israel masuk ke Ibu Kota Lebanon, Beirut. Di sana Sharon kembali menunjukan tajinya, PLO berhasil diusir dari Lebanon.
Israel memang berhasil mengusir Palestina dari Lebanon. Tetapi, peristiwa itu ternyata menyisakan tragedi kemanusian yang masih di ingat sampai saat ini.
Kala itu, ratusan pengungsi Palestian tewas di dua kamp yang terletak di Beirut. Mereka dibunuh oleh Milisi Kristen Lebanon yang sepenuhnya di bawah kendali Sharon.
Peristiwa yang dikenal sebagai pembantaian Sabra dan Shatila, segera menancapkan kebencian mendalam warga Palestina terhadap sosok Sharon.
Israel pun saat itu memilih untuk tidak ada di pihak Jenderal besar ini. Mereka memilih menendang Sharon dari jabatannya. Dan, Israel turut menuntut pertanggungjawaban Sharon atas peristiwa keji yang dia rencanakan.