17 Desember 2013 - 20:30
Posko Pelajar Indonesia di Lintasan Najaf-Karbala

“Harapan kami membuat posko ini, berharap keberkahan dan syafaat dari Imam Husain as. Dengan berkhidmat kepada para peziarahnya, kita berharap bisa menjadi salah satu pecintanya dan dilihat oleh Imam kelak.”

 

Menurut Kantor Berita ABNA, dalam literatur klasik Syiah, melakukan perjalanan kaki menuju makam Imam Husain as di Karbala sangat dianjurkan, diantaranya disebutkan dari Imam Ja’far Shadiq as dalam Kamil az Ziyarat hal. 134 yang berkata, “Barangsiapa yang dengan berjalan kaki berziarah ke makam Imam Husain as, Allah SWT akan memberikan satu kebaikan pada setiap langkah kaki yang diayunkan, satu dosa darinya terhapus dan baginya satu derajat lebih tinggi.” Pasca kejatuhan rezim Saddam Husain, tradisi ziarah Arbain dengan berjalan kaki dilakukan secara terbuka dan terang-terangan oleh masyarakat muslim Syiah. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, jumlah peziarah membludak menjadi jutaan orang. Hari-hari menjelang Arbain adalah hari yang penuh sesak oleh lautan manusia di jalan-jalan sepanjang Najaf ke Karbala Irak.

 

Diantara amalan lainnya yang ditradisikan menjelang Arbain adalah membangun posko-posko yang memberikan pelayanan kepada para peziarah yang berjalan kaki dari Najaf ke Karbala. Posko-posko tersebut dibuat masyarakat setempat sepanjang jalan sampai ke kota Karbala. Memberikan pelayanan kepada ribuan pejalan kaki yang lewat setiap harinya berupa penyajian makanan, minuman, tempat istrahat dan kamar kecil yang kesemuanya disediakan secara gratis. Bahkan dibeberapa posko khusus disediakan pelayanan berupa pemijatan kaki, pelayanan kesehatan dan penyediaan obat-obatan yang juga gratis bagi para peziarah.

 

Tidak ketinggalan, pelajar Indonesia yang sementara menuntut ilmu di kota Najaf, turut berbaur dengan masyarakat setempat untuk memberikan perkhidmatan kepada para peziarah yang telah berdatangan dari berbagai wilayah di Irak bahkan dari luar negeri. Posko yang oleh bahasa setempat disebut Maukeb, juga dibuat oleh 20an pelajar Indonesia yang pengumpulan dananya dengan mengorek saku sendiri.

 

“Dana awalnya kami kumpul dari uang saku sendiri. Tentu jumlahnya sangat terbatas dan tidak seberapa. Kami bertawakkal saja, niat kami adalah memberi pelayanan kepada para pecinta Imam Husain seberapapun yang kami bisa. Alhamdulillah, sejak hari pertama justru bantuan berdatangan tidak henti.” Ungkap Ali Ridha al Hamid yang berada di Irak sejak tahun 2011.

 

“Ini yang pertama kalinya dilakukan pelajar Indonesia disini. Jadi pelayanan kami juga sangat sederhana, yaitu sekedar menyediakan teh panas, susu dan air putih juga kue-kue kering yang kami beli di pasar.” Tambahnya.

 

Ali Ridha al Hamid lebih lanjut menambahkan, “Kami membuka maukeb sesaat setelah shalat subuh, dengan menyiapkan susu panas, kue kering dan cake untuk sarapan pagi para pejalan kaki. Respon para peziarah sangat positif, utamanya mereka yang dari pedesaan. Mereka takjub dan kaget karena tidak menyangka ada Syiah dan pecinta Imam Husain di Indonesia. Mereka sangat senang banget waktu mereka tahu kita dari Indonesia.”

 

“Warga setempat sangat membantu kami. Mereka menyumbangkan gula pasir, ada yang memberi kue-kue kering, ada pula yang memberi minyak tanah untuk pemanas karena kami tidak menggunakan pemanas yang menggunakan minyak bukan listrik.” Lanjutnya.

 

Ketika ditanyakan siapa saja yang pernah mampir di maukeb Indonesia, pelajar Indonesia yang juga memperkenalkan dirinya sebagai Abu Thurab tersebut menjelaskan, “Banyak peziarah Iran yang mampir di maukeb kita. Juga dari pengurus Haram, misalnya kemarin, maukeb kita disinggahi pengurus masjid Kufah. Putra Syaikh Fayad salah seorang ulama marja besar di Irak juga sempat mampir. Kemudian semalam ada pihak dari Haram Imam Husein yang datang memberi beras, kurma dan jamur kaleng. Namun beras dan jamur kami berikan ke maukeb Thailand karena mereka memasak makanan sementara maukeb kita tidak. Kita cuma membagikan makanan-makanan kecil.”

 

“Alhamdulillah, kita tidak pernah kekurangan. Ada saja pecinta Imam Husain yang memberikan sumbangan sehingga maukeb kita masih bisa terus aktif memberi pelayanan. Kami benar-benar merasakan karamah Imam Husain as karena makanan di maukeb ini selalu ada.” Jelasnya lagi.

 

“Harapan kami membuat posko ini, berharap keberkahan dan syafaat dari Imam Husain as. Dengan berkhidmat kepada para peziarahnya, kita berharap bisa menjadi salah satu pecintanya dan dilihat oleh Imam kelak.” Lengkap pelajar Indonesia yang belajar bebas di Haram Imam Ali as dan Masjid Hindi di kota Najaf.

 

“Kami membuka maukeb sejak Jum’at pekan kemarin dan rencananya sampai Jum’at pekan ini dan selanjutnya kami semua akan turut berjalan ke Karbala.” Tutur Ali Ridha menutup pembicaraan.  

 

Tahun 2012 lalu peziarah Karbala mencapai angka 15 juta orang, dan tahun ini diperkirakan jumlah peziarah akan menembus angka 20 juta orang.

 

Foto: indonesia and thailand maukib!we r neighbour ehehheheeehehh^_^

Foto: ‎نحن خادم الحسين في موكب الاندونيسين... و نسألكم الدعاء‎

Foto