20 Juni 2013 - 18:18
Warga Syiah Direlokasi, Ribuan Warga Girang dan Ucap Syukur

Pengungsi Syiah Sampang yang menuntut Pemerintah agar bisa dikembalikan ke kampung halamannya, justru mendapat jawaban dengan pengusiran paksa untuk menempati pemukiman yang telah disediakan pemerintah di Puspoagro Sidoarjo. Ribuan warga sekitar yang menyaksikan pengusiran paksa tersebut, girang dan mengucapkan syukur. Bahkan wakil bupati Sampang sujud syukur atas kejadian tersebut.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ribuan massa yang mengklaim sebagai perwakilan santri dari berbagai pesantren di seluruh Madura melakukan demonstrasi sekaligus mengusir 168 pengungsi Syiah yang bertahan di GOR Sampang pada Kamis (20/6). Aksi ini dilakukan dibantu oleh aparat kepolisian. Demikian keterangan Drs. Ahmad Hidayat kepada Islam Indonesia di Jakarta.

Menurut Sekretaris Jenderal Ahlul Bait Indonesia (ABI) tersebut, para pengungsi yang tadinya memilih bertahan diseret secara paksa untuk masuk ke dalam mobil-mobl yang disediakan dan akan membawa mereka ke Sidoarjo. Beberapa anggota polisi wanita (Polwan) bahkan menggiring dan menyeret beberapa pengungsi wanita dari dalam GOR Sampang. "Sebetulnya kami tidak setuju dengan upaya relokasi tersebut dan memilih untuk bertahan di GOR Sampang, tapi apa daya kami menghadapi paksaan massa yang ribuan dan ratusan polisi yang mengusir kami," ujar Ahmad Hidayat.

Seorang pengungsi yang menolak disebutkan namanya mengisahkan proses pengusiran itu berlangsung dalam situasi yang panas dan menegangkan. Selain meneriakan takbir, banyak diantara para demonstran itu menghujat dan mengejek para pengungsi Syiah saat mereka digiring ke luar GOR Sampang. "Kami diperlakukan seolah maling, para perempuan kami  banyak yang histeris dan shock diperlakukan seperti ini" ujarnya.  Namun, dalam proses pengusiran itu, para demonstran tidak tergerak melakukan kekerasan secara fisik kepada para pengungsi.

Barang-barang pengungsi kemudian diangkut ke dalam sedikitnya enam truk. Satu unit bus milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur dioperasikan khusus untuk mengangkut para pengungsi.

"Kami ini bingung mau dibawa ke mana," Kata Matsali, salah seorang pengungsi, Kamis, 20 Juni 2013. Namun, dari sejumlah informasi yang dihimpun Tempo, pengungsi Syiah akan dibawa ke Puspoagro Sidoarjo.

Setelah semua barang diangkut, puluhan petugas Satuan Polisi Pamong Praja menggiring seluruh pengungsi yang menolak diungsikan. Para pengungsi wanita berteriak histeris dan menangis karena dibentak oleh aparat keamanan. Para pengungsi diangkut dengan dua bus dan sebuah minibus. "Balas mereka, ya, Allah!" teriak pengungsi sambil masuk ke bus.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Sampang Rudy Setiadi menolak memberi tahu ke mana pengungsi akan direlokasi. "Saya tidak berwenang soal itu," katanya.

Melihat pengungsi direlokasi, ratusan warga Sunni yang memadati GOR Sampang berteriak-teriak girang sambil mengucap syukur.

Usai pengusiran, ABI merencanakan akan mengadukan soal ini ke pihak-pihak yang  berwenang. Kendati merasa pesimis dengan sikap pemerintah, namun menurut Ahmad, mereka tak akan lelah untuk terus memperjuangkan nasib dan kebebasan mereka memeluk sebuah keyakinan. "Sebetulnya kami telah menghubungi para pejabat negara untuk mengadukan soal ini termasuk kepada Presiden SBY. Tapi tak ada respon sama sekali,"ungkapnya.

Pengungsi Syiah Sampang berada di GOR sejak sembilan bulan lalu. Mereka bertahan dan ingin dipulangkan ke kampung halamannya di Nangkernang, setelah terjadi pembakaran permukiman warga Syiah di Dusun Nangkernang dan Blu'uran, Sampang. Peristiwa ini menewaskan seorang warga Syiah.