28 Maret 2013 - 03:39

Dalam laporan New York Times , disebutkan CIA berperan dalam mengakomodir lalu lintas persenjataan untuk oposisi. Sejumlah pejabat pihak oposisi juga mengkonfirmasi adanya bantuan CIA.

Menurut Kantor Berita ABNA, dinukil dari situs berita DetikNews yang menyebutkan Peranan Amerika Serikat dalam pemberontakan yang dilakukan di Suriah, ternyata tidak hanya pada dukungan politis semata. Dukungan (CIA) lembaga intelijen AS kepada kaum pemberontak, terbongkar.

Terungkapnya peranan CIA tersebut diungkapkan New York Times dalam laporannya, Senin (25/3) waktu setempat. CIA berada di tengah-tengah Arab dan Turki yang sama-sama mendukung tergulingnya rezim Bashar al-Assad.

Dalam laporan itu, disebutkan CIA berperan dalam mengakomodir lalu lintas persenjataan untuk oposisi. Sejumlah pejabat pihak oposisi juga mengkonfirmasi adanya bantuan CIA.

Proses pengangkutan senjata yang awalnya dalam skala kecil pada awal 2012, meningkat tajam belakangan ini. Sebanyak 160 penerbangan kargo militer dari Jordania, Arab Saudi dan Qatar diduga 'diamankan' oleh CIA.

CIA juga diduga membantu pengadaan senjata secara besar-besaran dari Kroasia. Lembaga intelijen ini lantas menentukan oposisi mana saja yang berhak menerima bantuan senjata.

Bukan hanya  itu, menurut laporan Associated Press kelompok teroris bahkan mendapat pelatihan militer terlebih dahulu sebelum di kirim ke Suriah. Seorang pejabat AS mengakui hal tersebut dalam wawancaranya dengan wartawan Associated Press, dia mengatakan, "Kami memberikan pelatihan militer bagi kelompok oposisi di Yordania selama beberapa bulan sebelum mereka kami terjunkan ke Suriah. Hal ini untuk mempercepat proses tergulingnya Bashar Asad."

Kelompok oposisi Suriah gencar melakukan serangan kepada rezim Bashar sejak dua tahun silam. Awalnya, aksi protes warga yang semula damai berubah menjadi perang senjata yang memanas. Anehnya, kelompok oposisi mayoritas justru berkebangsaan asing, yang didatangkan dari Qatar, Turki, Yordania dan Arab Saudi. Bahkan beberapa media mengungkap, kelompok oposisi yang berperang dengan militer Suriah tersebut ada yang berkebangsaan Perancis dan beberapa Negara Eropa lainnya bahkan ada yang berasal dari Afrika. Oleh karenanya, Allamah Syahid al Buthi dalam khutbah Jum'atnya sebelum beliau dibunuh anasir dari kelompok teroris sebab dukungannya atas pemerintahan Bashar Asad menyebut perang yang terjadi di Suriah tersebut adalah perang dunia.