Menurut Kantor Berita ABNA, sejak film Innocence of Muslims produksi Amerika Serikat tersebar, warga Lebanon secara serentak mengungkapkan kemarahan dengan melakukan unjuk rasa mengecam pembuatan film nista tersebut. Meski telah berlalu lebih dari dua pekan lalu warga Lebanon masih juga melanjutkan aksi kecamannya. Warga Lebanon tidak hanya mengecam para pelaku langsung dari pembuatan film tersebut namun juga mengecam pemerintah AS yang melindungi pelaku dan juga penguasa Arab yang hanya bungkam dengan peristiwa penghinaan tersebut.
Aksi unjuk rasa tersebut juga diikuti oleh para pejabat Front Amal, Hizbullah, berbagai kelompok politik, budaya dan sosial serta kelompok lintas mazhab dan lintas agama Lebanon. Termasuk warga Kristiani Lebanon.
Mereka membawa spanduk yang bertuliskan kecaman atas penistaan terhadap Rasulullah Saw, dan mengutuk Amerika Serikat dan Israel atas aksi tercela itu.
Dalam demonstrasi itu, Nezar Said, salah satu imam jemaah shalat di kota Nabtia, berpidato mengecam aksi penistaan tersebut dan berpendapat bahwa melalui aksi itu Amerika Serikat dan Israel berusaha menyulut fitnah dan perpecahan antara umat Muslim dan Kristen.
Demonstrasi rakyat Lebanon sama dengan demonstrasi kaum muslimin lainnya diseluruh dunia yang menuntut agar penghinaan symbol-simbol suci agama harus dihentikan dan tak boleh lagi terulang. Muhammad Baqi salah seorang petinggi Hizbullah mengatakan, "Umat Islam dan Kristiani Lebanon berada dibawah satu bendera mengecam aksi nista Zionisme."
Sementara itu Marwan Fares anggota Parlemen Lebanon yang turut dalam aksi unjuk rasa mengatakan, "Pidato Sayyid Hasan Nashrullah mengenai film yang menghina Nabi Saw tersebut adalah juga pernyataan kami."
Aksi unjuk rasa yang diikuti pemuka Islam dari Sunni dan Syiah tersebut oleh rakyat Lebanon dijadikan wadah pemersatu. Mereka menuntut kepada lembaga-lembaga internasional khususnya PBB untuk membuat peraturan tegas agar tidak terjadi lagi kasus penghinaan yang serupa terhadap simbol-simbol yang dimuliakan oleh pengikut agama-agama dunia.