30 September 2011 - 20:30

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad kembali melontarkan pernyataan pedas terhadap Amerika Serikat. Dalam pertemuan dengan aktivis antiperang dan pemuka masyarakat di New York, ia mengatakan para negarawan AS adalah figur-figur yang "paling lemah dan paling tidak bijaksana", karena mereka tidak mampu menyelesaikan persoalan, bahkan persoalan kecil sekalipun.

Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad kembali melontarkan pernyataan pedas terhadap Amerika Serikat. Dalam pertemuan dengan aktivis antiperang dan pemuka masyarakat di New York, ia mengatakan para negarawan AS adalah figur-figur yang "paling lemah dan paling tidak bijaksana", karena mereka tidak mampu menyelesaikan persoalan, bahkan persoalan kecil sekalipun.

"Bangsa-bangsa dunia selama 30 tahun terakhir menganggap pemerintahan AS sebagai kekuatan yang 'tak terkalahkan', tapi sekarang AS berada pada posisi dimana pemerintahnya tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan di dalam negerinya, bahkan untuk persoalan yang remeh," kata Ahmadinejad.

Salah satu buktinya, selama lebih dari 60 tahun, negarawan-negarawan AS tidak mampu menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan Palestina. "Sekarang, kekuatan-kekuatan hegemoni bicara sial kebebasan dan demokrasi pada bangsa lain, tapi mereka menerapkan prinsip-prinsip itu dengan menggunakan bom dan persenjataan untuk melayani kemauan para kapitalis," tukas Ahmadinejad.

Ia juga mengatakan bahwa sejumlah negara kuat tapi jahat, menyerang negara lain dan membunuh jutaan orang demi mengisi pundi-pundi uang kaum kapitalis dan menjadi budak para kapitalis.

Mempertanyakan Kotak Hitam

Ahmadinejad berada di New York untuk memberikan pidatonya di pertemuan tahunan ke-66 Majelis Umum PBB. Setibanya di New York, pada Selasa (20/9) ia langsung diwawancari oleh stasiun televisi NBC. Dalam wawancara itu, Ahmadinejad mempertanyakan sejumlah hal yang masih misterius seputar peristiwa serangan 11 September 2001.

IRIB dalam laporannya mengutip pernyataan Ahmadinejad yang mengatakan bahwa bangsa-bangsa di dunia tidak puas dengan laporan-laporan AS seputar peristiwa itu, termasuk di kalangan warga AS sendiri.

"Dalam peringatan peristiwa itu beberapa waktu lalu, sejumlah warga Amerika berkumpul di Ground Zero dan memprotes klaim-klaim pemerintah Washington. Mereka menilai 11 Septermber sebagai peristiwa yang mencurigakan," kata Ahmadinejad seperti dilansir IRIB.

Ia melanjutkan, ""Di dalam Kotak Hitam 11 September ada sesuatu yang belum diungkap. Pemerintah Amerika Serikat mengkhawatirkan hal ini dan tidak ingin menjelaskannya kepada publik. Polling yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen warga negara itu, tidak puas dengan masalah tersebut."

Presiden Iran itu mengatakan, perlu dibentuk sebuah tim investigasi independen untuk menyelidiki berbagai dimensi peristiwa 9/11 yang kontroversial itu.

Ungkit Imperialisme Dunia, Wakil Barat Tinggalkan Sidang

Pada bagian lain dari pidatonya, Mahmoud Ahmadinejad menandaskan, dewasa ini kita menyaksikan maraknya kebangkitan Islam di dunia.

Beliau lebih lanjut menekankan, kini kita menyaksikan maraknya kebangkitan Islam di dunia baik di Asia, Eropa dan Amerika serta setiap hari lingkup transformasi tuntutan keadilan dan kebebasan semakin lebar. Dalam kesempatan tersebut ia menyatakan kesiapan Iran untuk merealisasikan masalah ini demi kepentingan bangsa dunia.

Presiden Iran seraya menyebutkan data statistik soal kemiskinan di dunia, perang, pembantaian massal dan instabilitas mengatakan, penguasa dunia memisahkan antara moral dan kehidupan sosial serta mengklaim bahwa kondisi ini disebabkan manusia mengikuti tuntunan para nabi dan kelemahan bangsa serta kinerja sejumlah kelompok. Menurut Ahmadinejad, penguasa dunia seperti ini mengaku ideologi dan kinerja mereka sebagai solusi untuk menyelamatkan umat manusia, padahal faktor utama dari kondisi ini harus ditemukan di sistem yang menguasai dunia saat ini dan mekanisme manajeman global.

Ahmadinejad dalam kesempatan tersebut juga menanyakan kepada publik internasional soal pelaku dan pengobar perang dunia pertama, kedua, perang di Vietnam, pendudukan Irak serta Afghanistan. Saat menyampaikan pertanyaan ini, sejumlah wakil negara Barat meninggalkan ruang sidang.

Ahmadinejad menandaskan,"Sangat jelas seperti terang di siang hari bahwa imperialis dunia dan pengobar peperangan dunia pertama, kedua dan dalang instabilitas global sejak dahulu hingga kini dengan mengubah wajah mereka menguasai Dewan Keamanan PBB serta pusat-pusat utama ekonomi dan politik global. Apakah mereka ini memiki kelayakan untuk menguasai pusat-pusat tersebut dan apakah bisa diterima klaim mereka sebagai pelindung kebebasan dan demokrasi serta hak-hak berbagai bangsa dunia, sementara di sisi lain mereka dengan klaimnya menyerang serta menduduki negara lain? Apakah bunga demokrasi dan kebebasan akan mekar dengan rudal serta bom pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ?"

"Jika sejumlah negara Eropa dengan dalih holocaust setelah enam dekade masih terus memberikan ganti rugi kepada Israel, apakah pelaku perbudakan dan imperialisme tidak boleh memberikan ganti rugi kepada bangsa dunia," tandas Ahmadinejad.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad lebih dalam mengecam aksi kaum adidaya dunia merampas kebebasan hak-hak bangsa lain. Ia mengatakan bahwa kekuatan arogan dunia mencari kemajuan mereka, kemakmuran, dan kehormatan mereka dalam kehancuran, kemiskinan, dan penghinaan pihak lain.

Menurut Ahmadinejad "[Mereka] menganggap diri superior dari pihak lain dan berhak untuk mendapatkan hak khusus dan eksklusif yang tidak sesuai dengan nilai atau hak pihak lain dan membolehkan diri mereka menginjak-injak hak bangsa-bangsa."

Lebih lanjut dijelaskannya bahwa nilai-nilai kemanusiaan seperti perdamaian, keadilan, dan kebebasan tidak dapat dicapai melalui intervensi militer.

Dengan tegas Ahmadinejad menyatakan bahwa nilai-nilai tersebut dapat dicapai di bawah naungan kemerdekaan dan penerimaan hak bersama serta empati dan kerja sama, bukan manajemen dunia saat ini yang tidak benar atau intervensi kekuatan arogan 'atau melalui laras senjata NATO.

Sama seperti kunjungan pada tahun-tahun sebelumnya, Ahmadinejad kembali menekankan urgensi restrukturisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa serta perubahan di negara-negara anggotanya.

Ditambahkan Ahmadinejad, "Para pemilik budak, kolonialis, dan para pengobar Perang Dunia Pertama dan Kedua, yang sama dengan hanya mengubah wajah, mereka merebut kekuasaan di [PBB] Dewan Keamanan dan pusat-pusat utama ekonomi dan politik dunia."

"Kita tidak boleh membiarkan PBB terjerumus lebih dalam lagi dari sikap utama yaitu realisasi kehendak kolektif bangsa-bangsa menjadi sekedar alat bagi kaum arogan dunia."

Presiden Republik Islam Iran juga menyampaikan berbagai masalah, krisis, protes, dan ketimpangan yang terjadi di dunia akibat ulah para kekuatan adidaya dunia. Fakta-fakta yang dikemukakan oleh Ahmadinejad itu sangat pahit dirasa dan menyakitkan telinga para diplomat perwakilan dunia Barat, tidak terkecuali Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Mereka pun lantas meninggalkan ruangan sidang ketika Ahmadinejad berpidato.

Ahmadinejad menggunakan podium internasional di PBB itu untuk mengungkap borok negara-negara arogan yang menurutnya, merupakan sumber dari sebagian besar tragedi dan krisis di dunia saat ini.