13 Juni 2011 - 19:30

Hujjatul Islam Hasan Akhtari dalam wawancaranya mengatakan, "Kami sungguh berbesar hati, mengharapkan kunjungan Syaikh Al-Azhar dan ulama Mesir yang lain ke Iran dan saya berharap mereka menerima undangan kami, semoga persaudaraan Iran dan Mesir demi persamaan dan kerjasama akan menjadi kenyataan."

Menurut Kantor Berita ABNA, pimpinan Majma Jahani Ahlul Bait Hujjatul Islam Wal Muslimin Muhammad Hasan Akhtari dalam wawancaranya oleh beberapa wartawan sebuah surat khabar Mesir Al-Ahram membincangkan undangan Shaykh Al-Azhar Ahmad Tayyib ke Iran dan mufti Mesir Ali Jumʽah yang sudah dikirim namun hingga ke hari ini mereka belum mendapatkan jawaban.

Beliau dalam wawancara pada hari sabtu (11/6) mengatakan, “Kami sungguh berbesar hati mengharapkan kesediaan Syaikh Al-Azhar dan ulama Mesir yang lain untuk mengunjungi Iran dan saya berharap mereka menerima undangan kami, semoga persaudaraan Iran dan Mesir demi persamaan dan kerjasama akan menjadi kenyataan.”

Hujjatul Islam Wal Muslimin Muhammad Hasan Akhtari mengingatkan bahawa Hauzah Ilmiyah di Iran sudah bersedia menjalin kerjasama dalam berbagai bidang, khususnya kebudayaan, Agama, pertukaran dosen dan pelajar dengan Universitas Al-Azhar. Beliau mengatakan, “Pintu Iran untuk Al-Azhar dan ulama besar mereka sentiasa terbuka untuk semua urusan yang bermanfaat bagi umat”.

Mengenai pernyataan banyak pengamat politik yang mengatakan kebangkitan revolusi Mesir terinspirasi dari kebangkitan rakyat di Iran beliau mengatakan, “Mesir tidak pernah kekurangan tokoh yang intelek dan memiiiki pendirian. Rakyat Mesir adalah bangsa yang mulia di kalangan bangsa-bangsa di dunia dan mereka sendiri bebas menentukan nasib politik negeri mereka di masa depan”.

Lebih lanjut Akhtari mengatakan, “Yang penting di sini ialah semua partai di Mesir mampu duduk bersama dan menghindari perpecahan khususnya bersatu untuk menampik segala pengaruh kekuatan asing yang menentang segala bentuk pembaharuan di Mesir."

Beliau menganggap politik luar Mesir dekade lalu sebagai sebab revolusi dalam negara ini dan mengatakan, “Kami mengenali bangsa Mesir yang tidak merestui politik luar yang mencampuri urusan dalam negeri”.

Mengenai tudingan bahwa Majma’ Jahani Ahlul Bait berusaha menyebarkan Syiah, beliau mengatakan, “Tuduhan ini tidak benar, kami pencinta Ahlul Bait sama ada Sunni atau Syiah dari seluruh dunia mempunyai hubungan, Majma’ Ahlul Bait tidak mempunyai tugas menyebarkan mazhab Syiah atau membahaskan perbandingan mazhab ini."

Pimpinan Majma’ Jahani Ahlul Bait tersebut lebih lanjut mengatakan Imam Khomeini menganggap perdebatan antara mazhab Sunni dan Syiah adalah haram. Kata beliau, “Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin revolusi juga telah mengeluarkan fatwa kewajiban menghormati sahabat dan Ummul Mukminin”.Mengenai hubungan Iran dan Mesir yang terputus sejak beberapa tahun yang lalu, beliau mengatakan, “Walaupun hubungan diplomatik antara dua negara, warga Mesir dan Iran sudah dan masih mempunyai hubungan baik. Iran sejak 20 tahun lalu melanjutkan usaha memperbaiki hubungan dua pihak”.

Hujjatul Islam Akhtari lebih lanjut berkata, “Hubungan dengan komunitas Syiah di Mesir adalah dalam rangka kerja keanggotaan mereka dalam Majma’ Umumi dan pertukaran pendapat tentang masalah Arab, Islam dan persoalan-persoalan internasional”.

Tambah beliau lagi, “Iran secara resmi dengan berdasar pada rasa kemanusiaan telah membuka pintunya untuk kerjasama ekonomi, budaya dan agama dengan Mesir, serta untuk kunjungan warga kedua-dua negara agar pandangan antara dua Negara ini bisa lebih didekatkan”.