Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al Uzhma Jawadi Amuli di hadapan jama'ah mahasiswa dan pelajar Hauzah menjelang tahun baru Syamsi dan kedatangan musim semi menyatakan, "Makna dari Parvardin (bulan pertama tahun baru Iran, red) dan tahun baru adalah bumi setiap hari selama 24 jam berputar mengikuti porosnya dan menghasilkan perubahan hari, begitu juga dalam tempo satu tahun, bumi mengitari matahari dan menghasilkan tahun yang baru."
Beliau kemudian menegaskan, "Kita sebagai penghuni planet bumi ini, sebagaimana bumi yang mengitari matahari mengalami perubahan setiap tahunnya, maka setiap kitapun memiliki tahun baru." Ulama marja yang juga sebagai tenaga pengajar Hauzah ilmiyah ini selanjutnya memberikan pemisalan dalam ceramahnya, "Barang siapa yang usianya 50 tahun sama halnya telah mengitari matahari sebanyak 50 kali. Dan jika selama 50 tahun itu, orang tersebut sekedar mengitari matahari tanpa aktivitas yang bisa mengembangkan dirinya, tidak mengalami perubahan intelektual dan spritual dari tahun ke tahun, ia sama saja dengan anak kecil, hanya saja usianya telah mencapai 50 tahun."
Ayatullah Al Uzhma Jawad Amuli selanjutnya mengatakan, "Al-Qur'anul Karim, dalam hal pemilihan rotasi membagi manusia menjadi 3 kelompok. Sebagian manusia memilih berotasi mengelilingi hawa nafsunya, oleh karenanya setiap tahunnya, ia hanya lebih mengembangkan sifat kezaliman dalam dirinya. Sebagian lagi memilih berotasi mengililingi kesukaan atau hobbinya, sehingga setiap tahunnya ia berfokus pada apa yang disukainya itu. Dan sebagian lagi, memilih berorati mengelilingi akal, wahyu dan suara hatinya, dan misdaq dari kelompok ketiga ini adalah para Aimmah as."
Ulama yang juga seorang mufassir terkemuka ini menyatakan, "Nabi Muhammad saww memiliki usia yang penuh dengan keberkahan, itulah sebabya Allah SWT dalam Al-Qur'an bersumpah demi umur Nabi Muhammad saww. Itu karena Nabi Muhammad saww dalam pergerakan dirinya mengelilingi matahari mengikuti akal sehat, wahyu dan nuraninya."
Dalam pembahasan lain pada bagian ceramahnya, Ayatullah Al Uzhma Jawadi Amuli kemudian mengingatkan agar setiap muslim berpegang pada akhlak dan hakikat (kebenaran). Beliau mengatakan, "Insan adalah makhluk hakiki takwini bukan I'tibari yang akan selalu mengalami perubahan dan pengembangan. Bukan mahluk yang stagnan, statis dan tetap tanpa perubahan."
Selanjutnya, beliau menasehatkan bahwa bukanlah akal yang menetapkan aturan, "Akal hanyalah untuk mengenali baik tidaknya suatu aturan, benar tidaknya aturan yang ada, bukan untuk menetapkan atau membuat aturan. Allah Subhana wa ta'ala lah yang pembuat aturan. Dengan bantuan akal dan petunjukNya kita akhirnya bisa mengenal dan mengetahui aturan-aturan-Nya untuk kemudian kita ikuti untuk mencapai derajat insan kamil."