25 Oktober 2026 - 23:00
Foroughi: Ya'juj dan Ma'juj Ada di Setiap Zaman

Seorang pengajar Hauzah Ilmiah menjelaskan bahwa Ya'juj dan Ma'juj selalu ada di setiap zaman. Menurutnya, Ya'juj dan Ma'juj tidak pernah lenyap, melainkan senantiasa hadir dalam diri manusia, berupa dorongan hawa nafsu terhadap harta, seksualitas, kekuasaan, popularitas, kedudukan, dan berbagai keinginan lainnya. Semua itu merupakan Ya'juj dan Ma'juj yang bersemayam dalam diri manusia.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Foroughi, pengajar Hauzah Ilmiah, dalam pengajian akhlak bulanannya yang diselenggarakan pada Kamis malam di Institut Sabereh, Teheran, mengajak para peserta untuk tidak hanya memandang sebab-sebab lahiriah, tetapi melihat Allah sebagai Musabbib al-Asbab, yakni Zat yang menjadi penyebab dari segala sebab.

Ia mengatakan, “Kesampingkanlah persoalan dari suku atau keturunan mana kalian berasal. Ketahuilah bahwa kita sedang menuju keadaan terputusnya ketergantungan pada segala sebab! Tinggalkanlah ketergantungan pada sebab-sebab itu dan pandanglah hanya Allah sebagai Musabbib al-Asbab.”

Ia melanjutkan, “Kalian harus menjadi Ahlullah, yakni orang-orang yang dekat dengan Allah, dan menjadi pengikut wilayah. Artinya, meletakkan tangan kita dalam genggaman Allah!

Pada dasarnya, semua nabi datang untuk menggandeng tangan kita dan menyerahkannya ke dalam genggaman Allah. Al-Qur'an juga berfirman:

«يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ»

Tangan Allah berada di atas tangan mereka.

Kalian harus melihat kehadiran tangan Allah dalam kehidupan kalian.

Ketika Imam Sajjad As memberikan sedekah kepada orang miskin, beliau mencium tangannya sendiri seraya bersabda bahwa sedekah seorang mukmin, sebelum sampai ke tangan orang fakir dan membutuhkan, terlebih dahulu sampai ke tangan Allah.”

Sebagian Manusia Dibangkitkan dalam Wujud Binatang Buas

Pengajar Hauzah Ilmiah tersebut menjelaskan bahwa pada hari kiamat, sebagian manusia akan dibangkitkan dalam wujud binatang buas. Ia mengatakan, “Selama manusia belum menjadi Ahlullah, ia tidak akan mampu keluar dari sifat kebuasannya! Untuk keluar dari alam kebinatangan, manusia harus memperhatikan alam hakikat. Jangan hanya melihat penampilan lahiriah manusia. Ketahuilah bahwa di dalam dirinya terdapat sifat-sifat buas, meskipun zaman ini disebut sebagai era peradaban! Manusia seperti ini sama sekali belum menggenggam tangan Allah. Bahkan, ia tidak mengetahui untuk apa dirinya hidup!”

Ia melanjutkan, “Ayat-ayat Al-Qur'an mengubah cara pandang manusia dan memberinya pemahaman serta pemikiran yang berbeda.

Dalam Surah At-Takwir ayat 5, Al-Qur'an berfirman:

«وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ»

Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Ayat ini menjelaskan bahwa hari kiamat adalah saat ketika binatang-binatang buas dikumpulkan di Padang Mahsyar! Artinya, manusia yang belum benar-benar menjadi manusia dan belum menjadi pengikut wilayah akan dibangkitkan dalam wujud binatang buas!” Ia menambahkan, “Apabila tangan manusia tidak diletakkan dalam genggaman Imam, berarti kezaliman juga telah dilakukan terhadap tatanan alam semesta dan penciptaan! Seluruh alam saling terhubung, dan ruh alam semesta adalah manusia.

Jika tangan manusia tidak berada dalam genggaman manusia sempurna (insan kamil), yakni Imam Maksum, berarti kezaliman telah dilakukan terhadap seluruh alam. Sebab, tujuan akhir alam semesta adalah manusia, dan manusia merupakan mata rantai yang menghubungkan alam dengan hakikat.

Alam diciptakan untuk manusia, sedangkan manusia diciptakan untuk Allah!

Bahkan, kegembiraan alam semesta bergantung pada kegembiraan manusia. Ketika kita bergembira, alam pun bergembira. Ketika keadaan batin kita memburuk, keadaan alam pun ikut memburuk. Kegembiraan dan kesedihan manusia mengalir ke seluruh wujud, dan gerak manusia pun memengaruhi seluruh alam keberadaan!

Perjalanan batin atau sair anfusi ini saling terhubung. Karena itu, manusia harus mengenal dirinya sendiri, mengetahui asal dan tempat kembalinya, serta memahami untuk apa ia diciptakan dan datang ke dunia ini!”

Keberadaan Ya'juj dan Ma'juj di Setiap Zaman

Foroughi menjelaskan bahwa Ya'juj dan Ma'juj selalu ada di setiap zaman. Ia mengatakan, “Al-Qur'an telah menyinggung kerusakan yang dilakukan Ya'juj dan Ma'juj. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 94, Allah berfirman:

«قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ»

Mereka berkata, ‘Wahai Zulkarnain! Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj adalah orang-orang yang membuat kerusakan di bumi.’

Jangan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an ini secara terpisah dari kehidupan kalian. Sebaliknya, ayat-ayat tersebut harus memperoleh makna dalam kehidupan kalian sendiri. Ketahuilah bahwa tatanan alam ini dipenuhi Ya'juj dan Ma'juj. Jika manusia tidak menjadi Ahlullah, ia akan berada bersama Ya'juj dan Ma'juj serta menjalani kehidupan bersama mereka.”

Ia menegaskan, “Ya'juj dan Ma'juj tidak pernah lenyap. Mereka ada di setiap zaman dan bersemayam dalam diri manusia. Dorongan hawa nafsu terhadap harta, seksualitas, kekuasaan, popularitas, jabatan, dan sebagainya, itulah Ya'juj dan Ma'juj yang berada di dalam diri kalian. Jika tangan kalian tidak berada dalam genggaman para wali Allah, Ya'juj dan Ma'juj itulah yang akan menguasai kehidupan kalian dan menjadikannya sia-sia. Selama tangan manusia berada dalam genggaman Zulkarnain pada zamannya, ia akan terlindungi dari segala bahaya dan setiap Ya'juj dan Ma'juj. Karena itu, pada setiap zaman, manusia harus meletakkan tangannya dalam genggaman Zulkarnain pada zamannya.”

Pengajar Hauzah Ilmiah tersebut kemudian menjelaskan, “Pelaku yang tidak dikenal (fa'il majhul) menarik kita dari dalam diri menuju kepada-Nya agar kita menjadi Ahlullah. Kita harus melihat nama Allah yang mana yang telah kita capai. Menjadi Ahlullah berarti terwujudnya salah satu nama Allah dalam diri manusia. Kita harus melihat sedang berada pada tingkatan yang mana. Apakah kita berada pada maqam salam, maqam taslim, atau maqam lainnya? Semua ayat dan perkataan dalam riwayat memiliki energi. Semuanya memberikan kekuatan dan energi khusus kepada kita untuk melesat menuju Allah. Di antara begitu banyak nama Allah, kalian harus melihat nama Allah yang mana yang telah hadir dalam kehidupan kalian dan mengatur kehidupan kalian.”

Ia melanjutkan, “Jalan untuk mencapai Allah dan mata rantai yang menghubungkan manusia dengan-Nya adalah kebersamaan dengan Rasulullah Saw dan para Imam As, yang merupakan manusia sempurna secara menyeluruh. Perjalanan ini bukanlah gerakan fisik atau gerakan lahiriah, melainkan perubahan keadaan dan kualitas kehidupan. Sekarang, lihatlah apakah kehidupan kalian sudah sesuai dengan kehidupan Rasulullah Saw atau belum! Pada dasarnya, syariat memang hadir untuk tujuan tersebut, dan melalui syariatlah hal itu dapat dipahami.”

Mencapai Tauhid Cinta melalui Wilayah

Foroughi menjelaskan bahwa manusia dapat mencapai tauhid hubbi, yakni tauhid dalam cinta, melalui wilayah. Ia mengatakan, “Tauhid memiliki berbagai bentuk, dan wilayah mengantarkan manusia kepada tauhid dalam cinta. Wilayah mengubah fitrah dan tabiat manusia. Apabila terdapat kekurangan dalam penciptaannya, wilayah akan menghadirkan kesucian dalam dirinya. Di sisi lain, hubungan dengan manusia sempurna akan membawa manusia kepada keamanan yang menyeluruh.”

Ia menegaskan, “Jalan perjalanan spiritual (sair wa suluk) dan surga yang dapat dirasakan sejak kehidupan sekarang adalah wilayah dan kecintaan kepada Ahlulbait As. Namun, kecintaan itu harus disertai ketaatan kepada Imam. Jika hanya disebut cinta tanpa adanya ketaatan, hal itu tidak lebih dari sekadar pengakuan! Melalui cinta yang tulus dan disertai ketaatan, pintu Ahlulbait As akan terbuka bagi kita. Cinta ini meleburkan diri manusia, melahirkan ketaatan dan penyucian jiwa, serta membentuk kepribadiannya. Cinta tersebut membangun batin manusia dan sekaligus menjadi penebus dosa-dosanya.”

Pengajar akhlak tersebut juga menjelaskan bahwa salawat dapat membangun hubungan cinta antara manusia dan wilayah. Ia mengatakan, “Memasuki alam ini, menempuh perjalanan di dalamnya, menjadi Ahlullah, dan menjadi bagian dari penduduk Madinah dapat dicapai melalui kasih sayang dan kecintaan kepada Ahlulbait As. Salawat akan semakin memperkuat kecintaan tersebut.”

Ia menambahkan, “Salawat merupakan salah satu rahasia Ilahi. Ia adalah sebuah rahasia, bagian dari ilmu-ilmu yang tersembunyi. Melalui salawat, manusia dapat mencapai kecintaan tersebut. Usahakanlah agar kalian senantiasa bersalawat dalam setiap kesempatan. Ketika sedang mengemudi, ketika berada di meja makan, atau ketika sedang dalam perjalanan, teruslah bersalawat. Bersalawat sebenarnya sangat mudah dilakukan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa siapa pun yang bersalawat, para malaikat akan memohonkan ampunan baginya dan mengucapkan amin.”

Pada akhir pengajiannya, Foroughi mengatakan, “Jalan spiritualitas tidaklah sulit! Sebaliknya, jalan ini sebenarnya sangat mudah, tetapi kitalah yang menjadikannya sulit. Sifat-sifat tercela dalam diri kitalah yang membuat perjalanan tersebut menjadi berat dan menghalangi kita untuk terus maju.”

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha