6 Oktober 2026 - 23:24
Syahid Nasrallah Memperkuat Infrastruktur Strategis Front Perlawanan / Sayid Perlawanan Mewujudkan Budaya Asyura Sepanjang Kehidupan Jihadnya

Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon menilai bahwa menjaga khazanah berharga peninggalan Syahid Sayid Hassan Nasrallah serta mendokumentasikan pemikiran intelektual, budaya, politik, dan operasionalnya secara terhimpun dan sistematis merupakan kebutuhan vital bagi Front Perlawanan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Sheikh Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, dalam pidatonya pada Selasa sore dalam acara peluncuran lembaga yang bertugas menjaga dan menerbitkan warisan Syahid Sayid Hassan Nasrallah, menegaskan pentingnya menjaga warisan berharga Sayid Perlawanan tersebut.

Pada awal pidatonya, Sheikh Naim Qassem menyinggung kesabaran dan keteguhan perlawanan dalam menghadapi agresi yang terus berlangsung, khususnya selama dua tahun terakhir.

Ia mengatakan, “Jika agresi Israel-Amerika dengan intensitas seperti yang diarahkan terhadap perlawanan Hizbullah, rakyat Lebanon, dan para pejuang terhormat kami dilakukan terhadap negara lain mana pun di dunia, maka perlawanan dan negara itu sudah sejak lama runtuh.”

Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa keteguhan perlawanan merupakan bagian dari keberkahan Sayid para syuhada perlawanan, arahan-arahannya, rakyat yang suci, beriman dan bermartabat, para pejuang yang terhormat, serta keluarga-keluarga yang selalu berkorban tanpa banyak bertanya.

Ia menambahkan, “Jangan mengatakan kepada kami apa yang harus kami lakukan. Selama agresi ini masih berlangsung, kami tidak dapat menjadi apa pun selain perlawanan. Katakan kepada musuh agar keluar dari tanah kami, barulah jalan menuju penyelesaian terbuka.”

Menurutnya, solusi dimulai dengan keluarnya musuh secara terhina, yakni Israel dan Amerika yang disebutnya memberikan dukungan penuh terhadap agresi di kawasan.

“Inilah solusi kami. Jangan meminta solusi lain dari kami,” katanya.

Sekretaris Jenderal Hizbullah kemudian menegaskan bahwa selama 23 tahun, Syahid Sayid Hassan Nasrallah memperkuat infrastruktur Front Perlawanan dan menyusun peta jalan menuju kemuliaan, kebebasan, dan kebahagiaan. Warisan tersebut, menurutnya, merupakan peninggalan strategis dan abadi bagi generasi mendatang.

Ia menambahkan bahwa menjaga warisan berharga itu serta mendokumentasikan pemikiran intelektual, budaya, politik, dan operasional Sayid Hassan Nasrallah secara terhimpun dan terklasifikasi merupakan kebutuhan vital bagi Front Perlawanan.

Sheikh Naim Qassem mengatakan bahwa penyusunan sistematis warisan hidup tersebut, termasuk penghimpunan karya lisan dan tertulisnya, akan membuka ruang yang luas bagi para peneliti, universitas, dan lembaga strategis untuk memanfaatkannya secara mendalam. Langkah itu juga dinilai dapat menjaga kesinambungan wacana perlawanan di ruang publik dan media.

Menyinggung sejarah berdirinya Hizbullah, Sheikh Naim Qassem mengatakan, “Hizbullah didirikan pada 1982. Sayid Hassan pada 1992, yakni sepuluh tahun setelah pendirian Hizbullah, menerima amanah sebagai Sekretaris Jenderal dari Sayid para syuhada perlawanan, Sayid Abbas al-Musawi.”

Ia melanjutkan bahwa Sayid Hassan Nasrallah termasuk tokoh yang terlibat sejak masa pendirian. Sejak 1992 hingga kesyahidannya, selama 31 tahun, ia bekerja untuk memperkokoh pilar-pilar perlawanan, pemikiran autentik, dan arah perjuangan yang dinilainya akan terus berpengaruh bagi generasi mendatang dalam mencapai kebebasan, kemuliaan, martabat, serta kehidupan yang luhur dan bahagia dalam ketaatan kepada Allah.

Sekretaris Jenderal Hizbullah mengatakan, “Kita berhadapan dengan warisan yang sangat besar, berupa pidato, khutbah, pertemuan, dialog, notulen rapat, dan berbagai kenangan lisan selama puluhan tahun. Semua itu harus dihimpun, diarsipkan, lalu disediakan bagi para peneliti dan masyarakat agar kekayaan intelektual, budaya, politik, dan praktis tersebut dapat dimanfaatkan.”

Enam Pilar Warisan Sayid Para Syuhada Perlawanan

Sheikh Naim Qassem kemudian menjelaskan enam tema yang menurutnya menjadi pilar warisan Sayid Hassan Nasrallah sekaligus fondasi Hizbullah dan Front Perlawanan.

Ia mengatakan bahwa pilar pertama adalah keterikatan kepada Islam dan komitmen terhadap Islam Muhammadi yang autentik. Islam tersebut, menurutnya, memberikan perhatian pada pendidikan manusia dan menawarkan metode yang dapat memperbaiki kehidupan seseorang serta menjamin kebahagiaannya di akhirat.

“Sepanjang periode itu, Sayid Hassan bekerja untuk menonjolkan konsep, pemikiran, akidah, dan pendidikan yang berlandaskan Islam,” katanya.

Pilar kedua adalah pendidikan jihad.

Sheikh Naim Qassem mengatakan, “Ini merupakan persoalan mendasar. Jihad adalah prinsip dan fondasi. Untuk menjaga generasi, tanah, hak, dan martabat kita, kita harus berjihad menghadapi musuh.”

Menurutnya, salah satu karakter utama Sayid Hassan Nasrallah adalah penekanannya terhadap dimensi Karbala dan Asyura dalam persoalan jihad serta keteladanan kepemimpinan Imam Husain As.

Ia kemudian mengutip Imam Khomeini Ra: “Apa pun yang kita miliki berasal dari Asyura.”

Menurut Sheikh Naim Qassem, penerapan nyata dari pernyataan tersebut diwujudkan oleh Sayid para syuhada umat, yang tidak hanya pada hari-hari Asyura, tetapi sepanjang waktu menekankan jihad, semangat kesyahidan, dan pendidikan umat.

Pilar ketiga adalah wilayat.

Sheikh Naim Qassem mengatakan bahwa wilayat bukanlah sesuatu yang diada-adakan, melainkan salah satu dasar agama.

“Wilayat merupakan rangkaian yang berlanjut dari Allah kepada Nabi, kemudian kepada Amirul Mukminin Ali As, para Imam As, Wilayat Faqih pada masa kita, hingga penyerahan panji kepada Imam Mahdi Aj,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Wilayat Faqih, yang menurutnya terwujud dalam hubungan dengan Imam Khomeini Ra dan kemudian Imam Khamenei, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian tersebut.

Pilar keempat adalah hubungan dengan Imam Mahdi Aj.

Sheikh Naim Qassem mengatakan bahwa Sayid Hassan Nasrallah selalu berbicara mengenai hubungan dengan Imam Mahdi Aj, panji Mahdawi, dan keyakinan bahwa para pejuang merupakan bagian dari pasukan Imam Mahdi Aj.

Sayid Nasrallah, lanjutnya, senantiasa menegaskan bahwa umat berada pada masa penantian.

“Penantian berarti menerima wilayat Imam Mahdi Aj serta memiliki keyakinan terhadap kemenangan yang pasti dan keadilan yang kelak akan memenuhi seluruh dunia.”

Pilar kelima adalah persatuan Islam.

Menurut Sheikh Naim Qassem, Sayid Hassan Nasrallah sangat menaruh perhatian pada persatuan antara Sunni dan Syiah, persatuan di dalam komunitas Syiah sendiri, serta perluasan semangat persatuan pada tingkat nasional dan kemanusiaan. Pendidikan yang dibangun atas landasan tersebut, menurutnya, telah menciptakan semangat saling mendekatkan diri.

Pada tingkat dalam negeri, lanjutnya, Sayid Hassan adalah seorang patriot yang kuat. Ia meyakini kehidupan bersama, persatuan nasional, dan solidaritas antara tentara, rakyat, dan perlawanan.

Sheikh Naim Qassem mengatakan bahwa pilar keenam adalah pertahanan dan perlawanan.

“Jika kita ingin mendefinisikan perlawanan pada masa modern, kita mengatakan bahwa pejuang perlawanan pertama adalah Sayid Hassan. Mengapa? Karena ia membangun perlawanan, menggerakkan masyarakat berdasarkan prinsip tersebut, serta bekerja bersama para pejuang perlawanan di seluruh dunia untuk menciptakan solidaritas, hubungan, dan interaksi,” katanya.

Sekretaris Jenderal Hizbullah kemudian mengenang salah satu komandan Front Perlawanan, Syahid Hajj Qassem Soleimani.

“Kita tidak boleh melupakan apa yang telah dilakukan Syahid Hajj Qassem Soleimani. Syahid Soleimani benar-benar menjadi penopang besar bagi perlawanan di seluruh kawasan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Sheikh Naim Qassem juga menyampaikan penghormatan kepada rakyat Irak.

Ia mengatakan, “Saya menyampaikan salam kepada rakyat Irak yang mulia, marjaiyah mereka, kepemimpinan, Hashd al-Shaabi, seluruh angkatan bersenjata, serta semua lapisan dan kelompok masyarakat Irak. Mereka berhasil mengeluarkan pendudukan Amerika dari Irak dan dengan pengorbanan, keteguhan, serta perjuangan yang terus-menerus mampu mengusir kekuatan arogan Amerika dari Irak yang mulia, heroik, dan penuh perlawanan; Irak yang memiliki peran penting dalam menciptakan kemuliaan dan menghancurkan ISIS.”

Ia menambahkan bahwa rakyat Irak, menurutnya, memiliki kemampuan untuk mengeluarkan setiap kekuatan pendudukan dari wilayah mereka, baik kelompok takfiri maupun kekuatan yang disebutnya arogan dan kolonialis, agar Irak tetap merdeka, bermartabat, dan kuat.

Sheikh Naim Qassem juga menyatakan keyakinannya terhadap pembebasan Lebanon selatan.

“Pembebasan Lebanon selatan berada di depan mata kita. Israel tidak dapat terus berada di selatan untuk selamanya. Perlawanan, dengan keteguhannya, telah menciptakan sebuah legenda,” katanya.

Menurutnya, penyelesaian harus dimulai dengan keluarnya Israel dan Amerika yang, dalam pandangannya, memberikan dukungan penuh terhadap agresi di kawasan.

Sheikh Naim Qassem kemudian berdoa agar Allah meninggikan derajat rakyat Palestina di wilayah pendudukan, Gaza, Tepi Barat, dan Al-Quds serta membebaskan mereka.

Ia mengatakan bahwa pengorbanan rakyat Palestina sangat besar, sementara kezaliman yang menurutnya dilakukan Israel, Amerika Serikat, dan Barat belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun, menurutnya, dengan kehormatan dan pengorbanan rakyat tersebut, kemenangan pada akhirnya pasti tercapai.

“Perang memiliki berbagai tahapan, tetapi tahap akhirnya akan menjadi milik para pemilik tanah dan pemilik hak; mereka yang berjalan di jalan para mujahid dan syuhada,” katanya.

Di bagian akhir pidatonya, Sekretaris Jenderal Hizbullah menegaskan kesiapan kelompoknya untuk bekerja sama dalam persoalan-persoalan internal Lebanon, tetapi menolak apa yang disebutnya sebagai dikte dari luar.

“Kami siap bekerja sama dalam persoalan monopoli senjata, ekonomi, lapangan kerja, kehidupan bersama, dan dana para deposan melalui lembaga-lembaga hukum yang ada. Namun kerja sama ini harus berlangsung tanpa dikte dari perwalian Amerika maupun pihak asing lainnya,” tegas Sheikh Naim Qassem.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha