Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Dua tahun telah berlalu sejak operasi ledakan pager di Lebanon pada 17 September 2024. Dalam operasi tersebut, bahan peledak ditanam di dalam perangkat komunikasi dan meledak dalam waktu yang hampir bersamaan, menyebabkan ribuan orang mengalami luka serius. Menurut artikel ABNA, yang membuat peristiwa ini menjadi salah satu tragedi paling pahit dalam perang bukan hanya skala serangannya, tetapi juga karena banyak orang yang terkena ledakan bukan personel militer dan bahkan tidak berada di lokasi militer.
Rabab Mustafa, aktivis media Lebanon, dalam wawancara panjang dengan wartawan ABNA menceritakan kenangannya tentang Perang 33 Hari, Perang 66 Hari, insiden ledakan pager, serta gugurnya saudara laki-lakinya dalam Perang Ramadan.
Bagian pertama wawancara tersebut sebagai berikut:
ABNA: Pertama-tama, mohon perkenalkan diri Anda. Jika memiliki kenangan dari Perang 33 Hari, silakan ceritakan kepada kami.
Saya Rabab Mustafa, seorang jurnalis, penerjemah, dan saudari dari seorang syahid Perang Ramadan. Ayah saya berasal dari Baalbek di Lebanon timur, sedangkan ibu saya berasal dari Lebanon selatan, tepatnya kota Nabatieh. Saya tinggal dan dibesarkan di Dahiyeh, Beirut selatan.
Ketika Perang 33 Hari berlangsung, saya berada di Lebanon dan mengalami perang itu secara langsung di lapangan. Saya memiliki banyak kenangan dari masa tersebut. Dari sekian banyak kenangan itu, saya akan menceritakan tiga secara singkat.
Kenangan pertama terjadi di Dahiyeh, Beirut selatan. Saat itu listrik padam. Salah seorang tetangga yang memiliki radio memberi tahu kami bahwa Sayid Hassan Nasrallah sedang berpidato secara langsung. Kami kemudian pergi ke balkon rumah untuk mendengarkan suaranya.
Sayid mengucapkan sebuah kalimat yang tidak akan pernah saya lupakan selama hidup saya. Ia berkata: “Lihatlah mereka, terbakar dan tenggelam di tengah laut.”
Pada saat itu, semua orang meneriakkan “Labbaik Ya Nasrallah.” Warga keluar dari rumah masing-masing dan saling mengucapkan selamat. Mata kami dipenuhi air mata bahagia dan senyum, serta ada perasaan bangga dan kehormatan yang sulit digambarkan.
Kenangan kedua terjadi setelah perang berlangsung selama sekitar dua puluh hari. Kami terpaksa meninggalkan Dahiyeh dan pergi ke Baalbek. Kami tinggal di kawasan tempat keluarga ayah saya berada.
Masyarakat di daerah itu tidak rela para pengungsi tinggal di husainiyah atau sekolah. Mereka justru bersikeras agar para pengungsi tinggal di rumah-rumah mereka.
Saya bahkan masih ingat, ketika ada kelompok yang mengirim bantuan bagi para pengungsi, warga Baalbek menolaknya dan berkata: “Kami sendiri yang akan memenuhi kebutuhan mereka.”
Mereka mengatakan agar bantuan tersebut diberikan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan, karena mereka sendiri mampu menjalankan kewajiban terhadap para tamu mereka.
Kenangan ketiga terjadi dalam Perang 33 Hari, ketika pasukan Israel mendarat di Rumah Sakit al-Hikmah di Baalbek. Para lelaki dari desa-desa di sekitar rumah sakit kemudian pergi menuju pegunungan untuk mendukung para pemuda perlawanan.
Saudara saya yang kemudian gugur memberikan senjata kepada saya dan meminta saya menjaga anak-anak serta perempuan di desa.
Mereka pergi untuk berjihad, tetapi untuk bertempur mereka membutuhkan bantuan dari pasukan perlawanan. Syukur kepada Allah, para pemuda perlawanan berhasil menjalankan tugas mereka dengan baik, sehingga musuh tidak berhasil mencapai tujuannya dan akhirnya mundur.
ABNA: Apa kenangan Anda mengenai Perang 66 Hari dan gugurnya Sayid al-Muqawamah?
Pengalaman perang ini bagi saya jauh lebih berat, pahit, dan menyakitkan dibandingkan perang sebelumnya, karena saya berada jauh dari keluarga dan tanah air.
Dalam perang tersebut, keluarga, kerabat, dan teman-teman saya terpaksa meninggalkan rumah mereka. Saudara laki-laki saya juga mengalami luka di bagian kaki.
Namun malam yang paling menyakitkan adalah malam gugurnya Sayid Hassan Nasrallah. Malam itu terasa panjang, gelap, dan menakutkan.
Saya ingat, ketika membaca berita bahwa markas Sayid telah menjadi sasaran, saya memohon pertolongan kepada Sayidah Fatimah Zahra (s.a.) agar memberikan rahmat kepada kami.
Sayid Hassan bukan sekadar seorang pemimpin Hizbullah. Bagi kami, beliau adalah cahaya yang menunjukkan jalan, harapan yang membimbing kami, dan kekuatan yang menopang kami dalam kehidupan ini.
Ketika mengingat peristiwa itu, jantung saya berdebar sangat keras, seluruh tubuh saya gemetar, dan saya tidak mampu menahan air mata.
Malam itu saya sama sekali tidak bisa tidur. Pikiran saya terus tertuju kepada Sayid.
Seluruh keluarga dan kerabat saya berada di Dahiyeh. Ketika saya membaca berita bahwa Israel membombardir Dahiyeh, bahkan sampai membombardir pintu-pintu masuk kawasan tersebut, saya sadar bahwa sesuatu yang sangat besar sedang terjadi.
Saya mulai menelepon banyak orang untuk menanyakan keadaan mereka.
Namun mereka semua mengatakan: “Jangan tanyakan keadaan kami. Tanyakan keadaan Sayid.”
Pada saat itulah saya teringat Sayidah Ummul Banin (s.a.), ketika beliau berkata bahwa sebelum menanyakan anak-anaknya, kabarkan terlebih dahulu tentang Imam Husain (a.s.) dan apa yang telah terjadi kepada beliau.
Gugurnya Sayid al-Muqawamah: Ujian Ilahi bagi Iman, Kesabaran, dan Keteguhan Kami
Semua teman dan kerabat mengatakan: “Kami semua rela menjadi tebusan bagi Sayid. Seandainya kami semua gugur dan Sayid Hassan tetap hidup.”
Saat itu saya mulai menyadari bahwa apa yang diberitakan media memang benar, tetapi saya tetap tidak ingin menerimanya dan terus memohon kepada Ahlulbait (a.s.).
Gugurnya Sayid meninggalkan luka di hati kami dan merobek jiwa kami, hingga saya sempat berpikir bahwa semuanya telah berakhir.
Namun ternyata ini adalah ujian Ilahi terhadap iman, kesabaran, dan keteguhan kami. Dari situ kami memahami bahwa kami harus bertahan dengan lebih kuat dan dengan tekad yang lebih besar.
Para pemuda perlawanan juga tetap bertahan meskipun Sayid telah gugur dan terjadi ledakan pager, yang menurut Rabab Mustafa juga berkaitan dengan pengkhianatan sebagian pihak di dalam Lebanon.
ABNA: Salah satu peristiwa dalam perang dua tahun lalu adalah ledakan pager. Apa pengaruh insiden ini terhadap masyarakat pendukung perlawanan?
Peristiwa itu merupakan titik balik penting dalam perjuangan, bukan hanya karena jumlah korban yang ditimbulkannya, tetapi juga karena sifat operasinya.
Operasi tersebut menunjukkan bahwa terdapat penetrasi keamanan dan intelijen yang mendalam terhadap sistem komunikasi Hizbullah.
Secara psikologis, operasi itu juga sangat mengejutkan masyarakat Lebanon dan lingkungan perlawanan, karena menciptakan kekhawatiran mengenai keamanan serta kepercayaan terhadap perangkat komunikasi.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pertempuran tidak lagi terbatas pada operasi militer konvensional, tetapi perang intelijen dan teknologi juga memainkan peran yang sangat besar.
Namun menurut saya, tidak benar jika dikatakan bahwa operasi tersebut menyebabkan runtuhnya moral perlawanan atau mengakhiri kemampuan mereka untuk terus bertempur.
Hizbullah tetap melanjutkan operasi-operasinya setelah peristiwa tersebut.
Jelas bahwa mereka perlu melakukan evaluasi ulang dalam bidang komunikasi, keamanan, dan metode operasional.
Dapat dikatakan bahwa pengaruh kejadian itu sangat besar pada aspek keamanan dan psikologis, tetapi tidak sampai mengakhiri kemampuan Hizbullah.
Saat ini kami melihat laporan-laporan lapangan dari Perang Ramadan yang menunjukkan bahwa para pemuda Hizbullah masih terus bertempur. Sebagian dari mereka hanya memiliki satu mata atau satu tangan, tetapi mereka tidak menyerah dan masih berada di medan dengan keberanian dan tekad.
ABNA: Mohon ceritakan tentang karakter saudara Anda yang gugur dan bagaimana Anda pertama kali mengetahui kabar syahidnya.
Syahid Qasim Mustafa bin Ibrahim, berusia 37 tahun. Ia sangat penyayang, beriman, baik hati, suka membantu, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Meskipun masih relatif muda, ia sering memikul tanggung jawab dan tugas yang sangat besar, bahkan melebihi usianya. Ia selalu membantu orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri sedang lelah atau tidak memiliki banyak waktu.
Ia biasa berkata: “Kita tidak boleh membiarkan orang lain pulang dengan kecewa.” Sekalipun hanya mampu memberikan sedikit bantuan atau pelayanan kepada mereka.
Pada hari saudara saya gugur, saya merasa sangat gelisah dan sedang menyiapkan makanan berbuka puasa. Saya berkata kepada suami saya: “Saya merasa sesak. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di Lebanon.”
Sejak pagi saya berusaha menghubungi keluarga, tetapi tidak berhasil. Saat itu sedang terjadi perang dan koneksi internet terputus. Suami saya kemudian menghubungi nomor ayah saya menggunakan ponselnya, dan akhirnya saya dapat berbicara dengan ayah.
Saya mendengar suara bacaan Al-Qur’an. Saya berpikir mungkin itu adalah acara tujuh hari wafatnya bibi saya. Saya dan ayah berbicara, tetapi percakapan kami terasa tidak nyambung. Ayah mengatakan hal-hal lain. Saat itulah ayah saya menyadari bahwa saya belum mengetahui kabar gugurnya saudara saya.
Ia segera mengakhiri pembicaraan dan berkata: “Nanti kita bicara lagi.” Kami kemudian berbuka puasa dan seperti malam-malam sebelumnya pergi berjalan kaki di jalanan.
Namun hati saya tetap tidak tenang. Ketika kami kembali, saya menelepon saudari saya. Untuk pertama kalinya saya berhasil berbicara dengannya.
Nada suaranya terasa berbeda. Saya bertanya: “Kamu baik-baik saja? Kenapa suaramu seperti itu? Kamu lelah?”
Jawabannya hanya: “Tidak.”
Saya kemudian berkata: “Demi Allah, kalau ada sesuatu, tolong katakan kepada saya.”
Saudari saya menjawab: “Bukankah aku sudah mengirim pesan kepadamu? Aku juga menelepon. Kenapa kamu tidak menjawab?”
Saya menjawab: “Demi Allah, aku tidak menerima pesanmu dan tidak menerima panggilanmu.”
Kemudian saudari saya berkata: “Orang yang minggu lalu kamu tanyakan keadaannya dan kamu berkata, ‘Aku serahkan dia kepada Allah,’ sekarang telah pergi menemui Allah.”
Seminggu sebelumnya adalah terakhir kali saya berhasil menghubungi keluarga. Saat itu saya sempat bertanya kepada saudari saya mengenai keadaan saudara laki-laki saya karena saya mengetahui bahwa ia berada di Lebanon selatan. Setelah itu saya tidak berhasil lagi berkomunikasi dengan keluarga.
Pada saat itu saya bertanya kepada saudari saya: “Kamu yakin berita ini benar?” Karena sebelumnya, dalam Perang 66 Hari, sempat muncul kabar serupa yang kemudian dibantah. Saudari saya menjawab: “Demi Allah, berita ini benar. Malam ini jenazah syahid akan dibawa pulang dan besok pagi akan dilaksanakan prosesi pemakamannya.”
Saudara saya gugur pada malam ke-22 Ramadan, salah satu malam Lailatul Qadar, di kota Touline, Wadi al-Hujair.
Pada saat itu dunia seakan jatuh dari pandangan saya dan kehilangan seluruh nilainya. Saya ingin mengatakan sesuatu, ingin berteriak, dan ingin menangis, tetapi saya tidak mampu. Karena ketika itu saya membayangkan Sayidah Zainab (s.a.) berada di hadapan saya, dan saya merasa malu.
Untuk apa saya menangis? Siapakah saya? Musibah yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan seluruh penderitaan Sayidah Zainab (s.a.).
Saya hanya mampu mengucapkan satu kalimat: “Ya Zainab…”
Bersambung…
Komentar Anda