Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah menggelar pembicaraan tertutup dengan para penasihat seniornya untuk membahas sejumlah opsi guna mengakhiri atau setidaknya menurunkan eskalasi perang terhadap Iran.
Langkah tersebut muncul di tengah konflik yang dinilai telah menimbulkan biaya politik dan militer besar bagi pemerintahan Washington, sementara tekanan terhadap Partai Republik meningkat tajam menjelang pemilu paruh waktu pada 3 November.
Kekhawatiran Dampak Elektoral dan Merosotnya Popularitas Trump
Salah satu faktor utama yang mendorong pemerintah AS mencari bentuk “ketenangan” sebelum pemilu adalah kekhawatiran bahwa perang justru akan berdampak buruk terhadap perolehan suara Partai Republik.
Menurut laporan tersebut, hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan hanya 31 persen warga Amerika Serikat yang mendukung perang tersebut. Tingkat popularitas Trump juga disebut mengalami penurunan signifikan sejak konflik dimulai.
Karena itu, para pejabat senior Gedung Putih disebut berupaya mencegah perang dengan Iran berubah menjadi “beban politik” besar pada pekan-pekan terakhir kampanye pemilu.
Kebuntuan Militer dan Peringatan Pentagon soal Keberlanjutan Perang
Selain tekanan politik, keterbatasan militer juga disebut mendorong Washington mengevaluasi kembali strategi perangnya.
Laporan tersebut menyebut pasukan AS telah menggunakan sebagian besar persediaan rudal presisi mereka. Para komandan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara dilaporkan telah memperingatkan Pentagon bahwa perang yang berkepanjangan dapat membahayakan kesiapan dan kemampuan militer Amerika Serikat di kawasan lain di dunia. Kondisi itu semakin memperkuat dorongan untuk mengurangi intensitas konflik agar Washington dapat memulihkan kembali persediaan persenjataannya.
Namun, upaya Washington menciptakan situasi yang lebih tenang menjelang pemilu dinilai bertentangan dengan operasi militernya di lapangan. Serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Pulau Larak dan Selat Hormuz, disusul ancaman Trump terhadap Iran, dinilai menunjukkan bahwa siklus kekerasan masih terus berlangsung.
Para analis memperingatkan bahwa pendekatan ganda tersebut—di satu sisi mengupayakan penurunan ketegangan, tetapi di sisi lain tetap melanjutkan serangan militer—dapat membuat strategi Washington untuk menciptakan ketenangan sebelum pemilu menemui jalan buntu.
Beralih dari Tekanan Militer ke Tekanan Ekonomi
Pemerintahan Trump kini disebut berupaya mengalihkan fokus dari operasi militer yang membutuhkan biaya besar menuju peningkatan tekanan ekonomi. Melalui penerapan sanksi baru serta ancaman terhadap negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan Iran, Washington berharap dapat mendorong Teheran kembali ke meja perundingan dan memberikan konsesi tanpa harus terlibat dalam perang berskala penuh.
Namun, para pengamat menilai kebijakan ini juga menghadapi tantangan serius. Iran telah memiliki pengalaman selama puluhan tahun menghadapi sanksi, sementara sejumlah kekuatan dunia juga tidak mendukung upaya mengisolasi Teheran secara total.
Menurut laporan tersebut, hingga kini belum dapat dipastikan apakah upaya Washington menciptakan situasi yang lebih tenang benar-benar merupakan langkah untuk mengakhiri perang atau sekadar manuver taktis guna melewati periode sensitif menjelang pemilu paruh waktu.
Kekhawatiran mengenai kemungkinan kembalinya konflik berskala lebih besar setelah 3 November juga masih tetap ada. Sejumlah pengamat menilai Washington masih mempertahankan opsi militer untuk masa mendatang apabila strategi tekanan ekonomi terhadap Iran tidak menghasilkan tujuan yang diinginkan.
Komentar Anda