Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Harian Haaretz melaporkan bahwa selama tiga tahun terakhir, sekitar 270 ribu orang telah meninggalkan wilayah Israel. Peningkatan angka emigrasi ini terjadi di tengah berlanjutnya perang Gaza sejak 2023, yang kemudian meluas ke berbagai front regional, termasuk Lebanon, Iran, Yaman, dan Irak. Menurut Haaretz, angka emigrasi tergolong tinggi dan mencakup kalangan profesional seperti dokter, insinyur, akademisi, serta kelompok berpenghasilan tinggi.
Sejumlah riset akademik di Israel menunjukkan bahwa meningkatnya emigrasi mulai berubah menjadi persoalan ekonomi, terutama karena negara kehilangan penerimaan pajak dan tenaga kerja terampil. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Itay Ater, Nitai Bergman, dan Doron Zamir dari Universitas Tel Aviv, yang hasilnya dipublikasikan media Israel Walla, Israel diperkirakan kehilangan sekitar 910 juta shekel per tahun, atau hampir 250 juta dolar AS, dari pendapatan pajak akibat emigrasi.
Sejumlah estimasi tambahan untuk periode 20 bulan pada 2023–2024 bahkan memperkirakan kerugian tersebut mencapai sekitar 1,5 miliar shekel. Yang dinilai semakin mengkhawatirkan adalah laju peningkatan kerugian tersebut.
Pada 2020, jumlah penerimaan pajak yang hilang diperkirakan sekitar 256 juta shekel. Namun hanya dalam empat tahun, angkanya meningkat hampir empat kali lipat. Menurut para peneliti, lonjakan ini menunjukkan adanya perubahan dalam profil orang-orang yang meninggalkan Israel.
Jika sebelumnya emigrasi lebih banyak diasosiasikan dengan kalangan muda yang menganggur atau orang yang ingin menghindari kewajiban militer, kini kelompok yang pergi juga mencakup warga berpenghasilan tinggi dan pembayar pajak utama.
Karena itu, persoalan emigrasi kini tidak lagi sekadar masalah demografi, tetapi juga dipandang sebagai ancaman terhadap basis ekonomi, penerimaan negara, dan ketersediaan tenaga profesional terampil.
Komentar Anda