Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — perang Arab Saudi dan Yaman merupakan sebuah persamaan yang tidak seimbang, yang dimulai sejak tahun 2014 terhadap Sana’a dan hingga kini masih berlanjut dalam berbagai bentuk, termasuk blokade udara dan laut, tekanan politik, serta serangan militer terbatas.
Perjalanan perubahan dan perkembangan Ansharullah Yaman sejak awal perang hingga hari ini sangat berbeda. Mereka bergerak dari pertempuran dengan persenjataan awal dan ringan menuju posisi yang kini mampu bertempur melawan musuh seperti Israel dan Arab Saudi dengan rudal balistik berat dan drone canggih.
Beberapa waktu lalu, Iran, sebagai salah satu sekutu terpenting Ansharullah, mengambil langkah untuk mencabut blokade udara di Yaman. Langkah ini menyebabkan Arab Saudi melancarkan serangan ke sejumlah wilayah yang berada di bawah kendali Ansharullah, dan kemudian menghadapi respons keras dari Yaman.
Koalisi yang Tidak Efektif Melawan Yaman
Dalam konteks ini, sebuah laporan disusun mengenai pembentukan koalisi multinasional di bawah kepemimpinan Arab Saudi dengan tujuan mengamankan jalur perdagangan internasional di Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, Teluk Aden, serta menghadapi operasi laut Ansharullah. Laporan tersebut mengkaji kemampuan militer para anggota, efektivitas taktis pasukan perlawanan, dan dampak geopolitik koalisi ini.
Dr. Alireza Taqavinia, pakar hubungan internasional, menyoroti ketidakefektifan militer koalisi tersebut. Ia mengatakan: Meskipun 13 negara ikut serta, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Kuwait, dan Qatar, analisis menunjukkan bahwa total kemampuan militer koalisi ini bahkan tidak mencapai 1 persen dari kekuatan militer Amerika Serikat. Sebagian besar anggota koalisi juga tidak memiliki kemampuan operasional yang signifikan dalam bidang logistik dan pertempuran laut.
Ia juga menyinggung kegagalan daya gentar tradisional Amerika di hadapan Yaman. Ia berkata: Pengalaman menunjukkan bahwa Amerika Serikat, meskipun menggunakan kapal induk dan pesawat pembom canggih, gagal menekan kemampuan laut Ansharullah Yaman. Karena itu, terdapat keraguan yang sangat besar mengenai keberhasilan koalisi ini melawan Yaman.
Geografi Yaman dan Keunggulan Relatif dalam Perang
Pakar hubungan internasional itu membahas keunggulan geografis dan pengalaman tempur Ansharullah. Ia mengatakan: Geografi pegunungan yang berada di bawah kendali Ansharullah Yaman menciptakan perlindungan strategis bagi pasukan perlawanan dan membuat kota-kota rudal serta drone mereka terlindungi dari serangan langsung.
Selain itu, pasukan ini memiliki pengalaman operasional tinggi dan keahlian militer yang meningkat melalui pelatihan teknis dan strategis dari para komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran dan Hizbullah Lebanon.
Ia juga menyinggung ketidakefektifan sistem pertahanan Barat seperti Patriot dalam menghadapi ancaman Ansharullah. Menurutnya, hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara teknologi pertahanan dan realitas medan tempur, yang dapat menempatkan titik-titik penting di dalam wilayah Arab Saudi, seperti Aramco, dalam jangkauan Yaman.
Arab Saudi; Pecundang Utama Pertempuran
Dr. Taqavinia juga membahas strategi pembagian biaya perang. Ia mengatakan: Tampaknya Arab Saudi sedang berada dalam sebuah “permainan berbahaya”, sementara Amerika Serikat berusaha memindahkan biaya dan tekanan konflik regional kepada negara-negara Arab. Karena itu, pihak yang paling mungkin menjadi pecundang utama adalah Arab Saudi.
Partisipasi negara-negara seperti Pakistan atau Turki dalam koalisi ini, menurutnya, lebih banyak bersifat simbolis dan dipengaruhi oleh ketergantungan ekonomi kepada negara-negara Arab. Negara-negara tersebut juga akan menghindari keterlibatan langsung dalam ketegangan dengan Iran.
Ia kemudian menyinggung risiko meningkatnya ketegangan di Laut Merah. Ia berkata: Pendekatan Arab Saudi saat ini dinilai tidak rasional dan dapat membuka kemungkinan kembalinya serangan-serangan berat terhadap infrastruktur vital dan energi negara tersebut. Serangan awal Yaman bersifat peringatan kepada Arab Saudi, dan dibandingkan dengan respons yang lebih keras di masa depan, serangan itu masih tergolong kecil.
Pembagian Peran dalam Front Perlawanan
Pakar hubungan internasional ini juga menyinggung reaksi berantai di kawasan. Ia mengatakan: Untuk menghadapi berbagai ancaman di kawasan, Front Perlawanan telah melakukan pembagian peran. Diperkirakan bahwa peningkatan ketegangan oleh Arab Saudi akan memunculkan respons balasan dari kelompok-kelompok perlawanan di kawasan lain, seperti Perlawanan Irak.
Pada akhir laporannya, ia mengatakan: Ketika sebuah adidaya seperti Amerika Serikat tidak mampu mengendalikan ancaman laut yang muncul dari operasi-operasi Ansharullah, maka koalisi multinasional ini menghadapi tantangan mendasar. Karena itu, kegagalan dalam mengelola keamanan jalur perdagangan akan membawa konsekuensi ekonomi dan keamanan yang luas bagi anggota koalisi serta stabilitas kawasan.
Komentar Anda