12 Juli 2026 - 23:13
Majelis Tahlilan dan Penghormatan untuk Pemimpin Syahid Digelar di Mazar-i-Sharif

Majelis tahlilan dan penghormatan untuk Yang Mulia Ayatullah al-Uzma Syahid Sayyid Ali Husaini Khamenei r.a. digelar dengan kehadiran luas masyarakat Mazar-i-Sharif dan para ulama di Mushalla dan Madrasah Sultaniyah. Dalam acara tersebut, Hujjatul Islam Sayyid Haidar Hashemi, seraya memuliakan kedudukan Syahid Pemimpin Revolusi, menekankan pentingnya persatuan umat Islam dan kajian terhadap pemikiran-pemikiran beliau.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Majelis tahlilan dan penghormatan untuk Yang Mulia Ayatullah al-Uzma Sayyid Ali Husaini Khamenei r.a., Pemimpin Syahid Revolusi Islam Iran, digelar dengan kehadiran luas para ulama, pejabat lokal, Konsul Jenderal dan para pejabat Konsulat Jenderal Republik Islam Iran, serta ribuan warga Mazar-i-Sharif dan daerah-daerah sekitarnya di Mushalla dan Madrasah Ilmiah Sultaniyah.

Dalam acara ini, para pembicara memuliakan kepribadian dan jasa-jasa ulama besar tersebut. Mereka menekankan peran beliau dalam memperkuat persatuan umat Islam, mendukung cita-cita dunia Islam, dan menyebarkan nilai-nilai keagamaan. Para peserta juga, dengan kehadiran penuh semangat, mengenang sosok tersebut dan menegaskan kelanjutan jalan persatuan, kemuliaan, dan solidaritas umat Islam.

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Haidar Hashemi, khatib salat Jumat Mazar-i-Sharif dan pembicara utama acara ini, menyampaikan sejumlah poin mengenai Pemimpin Syahid dalam khutbah salat Jumat dan pidatonya pada majelis tahlilan yang berlangsung megah tersebut.

Hashemi dalam pernyataannya tentang Pemimpin Syahid mengatakan: Kalian mengetahui bahwa dalam hari-hari yang telah kita lalui, setelah empat bulan lebih sejak kesyahidan putra Islam yang agung, pembawa panji keadilan, pembawa panji kebebasan, pembawa panji pembelaan terhadap kaum tertindas dan mustadhafin dunia, Pemimpin Syahid, pemimpin yang siap mengorbankan jiwa, pejuang Ayatullah Khamenei — yang syahid pada tanggal 10 Ramadan, hari wafatnya Sayyidah Khadijah s.a. — jenazah sosok tercinta ini telah diantar dalam prosesi pemakaman. Prosesi pemakaman yang jarang tertandingi dan belum pernah terjadi sebelumnya berlangsung di kota Qom, Najaf Asyraf, dan Karbala Mu’alla; dari pukul dua malam hingga lima pagi, tubuh sucinya yang tercabik-cabik di jalan Islam diiringi oleh rakyat. Inilah penghormatan dunia Islam terhadap kedudukan luhur kesyahidan.

Ia menambahkan: Jika dalam salat jenazah putra Islam yang membangkitkan ini di kota Qom, massa berdiri sepanjang tujuh kilometer, memberikan kesaksian dan memanjatkan doa, semua itu adalah perintah Allah: ﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِینَ قُتِلُوا فِی سَبِیلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْیَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ یُرْزَقُونَ﴾

“Janganlah kamu mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Sebaliknya, mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezeki.”

Khatib salat Jumat Mazar-i-Sharif melanjutkan: Kami menyampaikan belasungkawa atas musibah ini kepada seluruh Muslim di dunia, kepada seluruh negara Islam, dan kepada negara sahabat sekaligus tetangga, Republik Islam Iran.

Hujjatul Islam Hashemi, dengan merujuk pada peran salat Jumat sebagai mimbar kebangkitan, berkata: “Saya, karena memandang salat Jumat sebagai mimbar kebangkitan, dari sisi kalian, wahai bangsa yang setia, wahai masyarakat yang sadar — yang pagi ini telah meninggalkan satu lagi titik terang untuk mengenang tokoh ini — menyampaikan kepada seluruh negara Islam: negara-negara Islam, para pemikir, bahkan orang-orang merdeka non-Muslim, hendaknya mempelajari pemikiran, gagasan, rancangan, dan rencana tokoh ini serta tokoh-tokoh sejenisnya untuk membebaskan diri dari penawanan dan ketergantungan.”

Ia bertanya: Apa yang membuat seorang tokoh seperti ini memerintah di hati manusia? Musuh-musuh Islam yang paling keji bekerja sama untuk membunuh sosok tercinta ini. Israel pembunuh anak-anak, Amerika yang kriminal, untuk apa? Karena ia membela anak-anak Palestina yang tak berdosa. Ia berbicara tentang keadilan dan hak-hak manusia, sesuatu yang tidak dapat ditoleransi oleh dunia kekufuran.

Pada akhir penyampaiannya, pembicara acara tersebut menegaskan: Modal sebuah negara bukan hanya tambang. Modal negara juga bukan hanya kekuatan militer. Semua itu memang diperlukan, tetapi modal terpenting bagi negara adalah modal ilmu, pemikiran, dan hubungan yang mendalam dengan masyarakat; dan semua itu terlihat dalam kehidupan tokoh ini.

Your Comment

You are replying to: .
captcha