Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Konferensi ilmiah-kultural “Kebangkitan Islam dan Tugas Para Ulama Agama dari Perspektif Pemimpin Syahid Umat Islam, Yang Mulia Ayatullah al-Uzma Khamenei r.a.” diselenggarakan dengan kehadiran para elite ilmiah dan keagamaan di Perwakilan Jami’ah al-Mustafa Afghanistan.
Bapak Mohammad Asef Hekmat, Wakil Bidang Riset Perwakilan Jami’ah al-Mustafa Afghanistan, dalam pernyataannya menyebut prosesi pemakaman megah Pemimpin Syahid Umat Islam sebagai tanda kebangkitan dan kesadaran diri umat Islam. Ia memperkenalkan jihad tabyin sebagai tugas utama para ulama agama, serta menyebut unsur-unsur dasarnya berupa menghilangkan kelalaian, meningkatkan bashirah, membimbing masyarakat, memperkuat kecenderungan Islam yang autentik, mengenali musuh, dan memperkuat ghirah Islam. Ia menegaskan: Para ulama harus menjauh dari kecenderungan duniawi, mengubah ilmu menjadi wawasan, dan menjadikan masyarakat Islam tangguh dalam menghadapi tantangan pemikiran dan budaya.
Selanjutnya, Ayatullah Modaqeq, salah seorang pengajar hauzah-hauzah ilmiah Kabul, menyebut kebangkitan Islam sebagai konsep yang berakar dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Ia menggambarkannya sebagai kembalinya umat Islam kepada identitas yang autentik dan penolakan terhadap dominasi pihak asing. Dengan merujuk pada peristiwa Asyura, ia menyebut peristiwa tersebut sebagai contoh kelalaian umat, sementara kesyahidan Imam Husain a.s. menjadi faktor kebangkitan kaum Muslimin. Ia menambahkan: Pada masa sekarang pun, kesyahidan Pemimpin Syahid Umat Islam telah melahirkan gelombang baru kebangkitan di dunia Islam.
Prosesi Pemakaman Bersejarah Pemimpin Syahid; Simbol Kesadaran Diri Umat Islam
Ia menyebut prosesi pemakaman bersejarah Pemimpin Syahid sebagai simbol kesadaran diri umat Islam dan menekankan pentingnya para ulama menjaga kebangkitan ini.
Selanjutnya, Hujjatul Islam wal Muslimin Mesbah, Kepala Urusan Takiyah, Masjid, dan Husainiyah Syiah di Kementerian Haji dan Wakaf, menyebut tawakal kepada Allah, pencarian kemuliaan, dan perhatian terhadap persatuan umat Islam sebagai ciri-ciri paling menonjol Pemimpin Syahid. Ia menilai kehadiran luas masyarakat dalam upacara pemakaman sebagai balasan Ilahi atas perjuangan beliau serta manifestasi kemuliaan dan kehormatan umat Islam.
Hujjatul Islam wal Muslimin Nazari, Kepala Kompleks Sekolah dan Pusat Kebudayaan Entezar, menyebut faktor-faktor kebangkitan Islam dari perspektif Pemimpin Syahid sebagai kembalinya kepada Islam murni, pencarian kemuliaan dan kepercayaan diri, kemerdekaan politik, budaya, dan pemikiran, serta persatuan umat Islam. Ia menegaskan: Para ulama harus memainkan peran aktif mereka dalam membimbing masyarakat dengan berporos pada keadilan, jihad tabyin, pembelaan terhadap persatuan Islam, menghindari penghinaan terhadap mazhab-mazhab, dan menghadapi ekstremisme.
Dalam bagian lain konferensi tersebut, Bapak Sayyid Mohammad Alami, Wakil Bidang Ilmiah Perwakilan Jami’ah al-Mustafa Afghanistan, dengan mengajukan pertanyaan mengapa setelah empat belas abad kita masih memerlukan kebangkitan Islam, menyatakan: Islam autentik dalam sebagian bidang telah mengalami kelalaian dan penyimpangan, dan kembali kepada Islam murni hanya mungkin melalui jalan kebangkitan Islam. Ia menyebut kebangkitan Islam sebagai sebuah proses peradaban, serta memperkenalkan para ulama agama sebagai pembawa panji Islam murni dan komandan jihad tabyin serta perang narasi.
Sayyid Mohammad Alami juga menyebut Pemimpin Syahid sebagai penghalang terbesar di hadapan sistem dominasi, dan menggambarkan kesyahidan beliau sebagai titik balik dalam kebangkitan umat Islam.
Your Comment