8 Juli 2026 - 18:11
Hari Ini, Teheran Bukan Hanya Ibu Kota; Ia Adalah Iran

Gambar-gambar udara dari jalan-jalan Teheran hanya memperlihatkan sebagian dari realitas hari ini; sebuah realitas yang sejak jam-jam awal pagi Senin, 15 Tir, terbentuk melalui kehadiran masyarakat dari seluruh penjuru negeri di jalur antara Meydan-e Enghelab hingga Meydan-e Azadi, dan menjadikan prosesi pemakaman Imam Syahid Ayatullah Khamenei sebagai salah satu pemandangan perpisahan nasional yang paling luas dan paling emosional.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Teheran hari ini bukan hanya ibu kota; ia adalah panggung sebuah pengantaran bersejarah. Sejak jam-jam pertama pagi Senin, 15 Tir, jalan-jalan menuju Meydan-e Enghelab, jalur pergerakan ke arah Meydan-e Azadi, serta poros-poros di sekitarnya, menyaksikan kehadiran masyarakat yang padat dan sangat besar. Setelah dua hari menyampaikan perpisahan di Mushalla, kali ini mereka turun ke medan untuk mengiringi jenazah Imam Syahid Ayatullah Khamenei untuk terakhir kalinya. Laporan-laporan yang dipublikasikan juga menegaskan jalur utama prosesi pemakaman di Teheran dan kehadiran luas masyarakat di poros tersebut.

Saya berada di Meydan-e Enghelab sejak pukul 05.30 pagi; ketika matahari belum sepenuhnya menyinari Teheran, tetapi jalan-jalan telah dipenuhi massa yang seakan datang dari jantung malam untuk memperbarui ikrar terakhir mereka kepada pemimpin syahid mereka di bawah cahaya siang. Pergerakan masyarakat dari Meydan-e Enghelab menuju Azadi lebih menyerupai sungai manusia daripada sebuah pawai biasa; tenang, terus mengalir, padat, dan seolah tak berujung.

Di tengah kerumunan, semua hadir; para lelaki tua yang datang dengan tongkat, para pemuda yang membawa bendera Iran dan bendera-bendera merah penuntutan darah, perempuan dan laki-laki yang berjalan dengan air mata dan zikir, para ibu dengan bayi-bayi yang masih menyusu, keluarga-keluarga yang datang ke Teheran dari kota-kota jauh maupun dekat, serta masyarakat yang masing-masing seakan memiliki bagian pribadi dalam perpisahan ini. Gambar-gambar udara dari acara tersebut juga memperlihatkan luasnya kehadiran yang jarang terlihat ini; jalan-jalan yang, dari sekitar lapangan-lapangan hingga jalur utama, menghilang di bawah bayang-bayang bendera dan lautan massa berpakaian hitam.

Bendera-bendera merah dengan slogan “Ya Latsarat al-Husain”, gambar-gambar pemimpin syahid, serta plakat-plakat bertema penuntutan darah dan tuntutan hukuman bagi para pelaku kejahatan ini tampak di tangan masyarakat. Suasana acara merupakan perpaduan antara duka, epik, dan kemarahan yang tertahan; duka atas kehilangan seorang pemimpin yang selama bertahun-tahun menjadi simbol keteguhan dan perlawanan, serta epik dari sebuah kehadiran yang ingin menunjukkan bahwa pengantaran ini bukan sekadar akhir dari sebuah kehidupan, melainkan kelanjutan dari sebuah jalan.

Di sepanjang perjalanan, semakin kami mendekati Meydan-e Azadi, kepadatan massa tidak berkurang dan semangat serta gejolak masyarakat pun tidak mereda. Bahkan ketika saya kembali menempuh jalur dari Azadi ke Enghelab, gelombang manusia masih terus berlanjut; seolah jalan tidak pernah berakhir dan massa dari setiap gang serta jalur samping kembali bergabung ke tubuh utama acara. Kehadiran ini tidak hanya terkonsentrasi di satu titik; rentangan massa di jalan-jalan sekitar dan jalur-jalur menuju lokasi menunjukkan bahwa Teheran hari ini telah berubah menjadi sebuah medan besar perpisahan.

Pada saat kendaraan pembawa jenazah suci melintas di tengah lautan massa, teriakan, air mata, tangan-tangan yang terangkat, dan bendera-bendera yang berkibar di langit menciptakan pemandangan yang tidak mudah dimuat dalam bingkai berita. Di sini, berita bukan hanya angka, jalur, dan waktu; berita adalah wajah rakyat yang datang dengan mata berkaca-kaca, tetapi langkah yang teguh, untuk mengatakan bahwa ikatan mereka dengan Imam Syahid tidak akan terputus oleh kesyahidan.

Dua hari perpisahan di Mushalla menjadi pendahuluan bagi hari ini; hari ketika Teheran menyaksikan langsung sebuah lembar sejarah. Dari Mushalla hingga lapangan-lapangan pusat, dari Meydan-e Enghelab hingga Meydan-e Azadi, dan dari jalur-jalur utama hingga jalan-jalan di sekitarnya, terbentuk sebuah prosesi yang bahkan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Masyarakat masih berada di sepanjang jalur; sebagian terus bergerak, sebagian berdiri dengan bendera dan gambar, sebagian dalam diam, dan sebagian lainnya dengan slogan.

Prosesi pemakaman hari ini bukan hanya pengantaran sebuah jenazah; ia adalah pengantaran satu babak dari sejarah Revolusi Islam. Sebuah babak yang ditutup dengan air mata, tetapi berlanjut dengan ikrar baru di jalan-jalan Teheran. Hari ini, Meydan-e Enghelab hingga Meydan-e Azadi bukan sekadar jalur kota; ia adalah jalan sebuah bangsa yang bergerak dari duka menuju ikrar, dari luka menuju keteguhan, dan dari perpisahan menuju awal yang baru.

Your Comment

You are replying to: .
captcha