14 Juni 2026 - 20:25
Al-Araby Al-Jadeed: Rahasia Kemenangan Iran atas AS dan Israel adalah “Persatuan Nasional”

Media Qatar Al-Araby Al-Jadeed dalam sebuah analisis mengenai perang terbaru di kawasan menyebut bahwa faktor terpenting yang menggagalkan tujuan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran adalah persatuan nasional rakyat Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Dalam artikelnya yang berjudul “Keterbatasan Kekuatan Trump dan Netanyahu”, media tersebut menilai bahwa perang dan tekanan eksternal justru menghasilkan efek yang berlawanan dari yang diharapkan Washington dan Tel Aviv.

Menurut analisis itu, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini berhadapan dengan sebuah kenyataan historis bahwa kekuatan militer memiliki batas-batas tertentu yang tidak bisa dilampaui tanpa menimbulkan konsekuensi serius.

Teori “Kekuatan Semata” Telah Gagal

Al-Araby Al-Jadeed menulis bahwa strategi Netanyahu yang bertumpu pada penggunaan kekuatan militer terhadap Iran, Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman terbukti memiliki kelemahan mendasar.

Menurut media tersebut, penggunaan kekuatan secara berlebihan tidak selalu menghasilkan kemenangan politik. Sebaliknya, ketika berhadapan dengan masyarakat yang memiliki kemauan kolektif dan daya tahan tinggi, tekanan militer justru dapat memperkuat solidaritas dan semangat perlawanan.

Analisis itu menyamakan fenomena tersebut dengan konsep diminishing returns dalam ekonomi, yaitu ketika penggunaan suatu instrumen secara berlebihan justru menghasilkan efektivitas yang semakin menurun.

Perang Justru Memperkuat Persatuan Iran

Mengutip sejarawan Inggris Arnold Toynbee, Al-Araby Al-Jadeed menyatakan bahwa tekanan dari luar sering kali tidak menghancurkan suatu bangsa, melainkan memperkuat kohesi sosial dan identitas nasionalnya.

Menurut artikel tersebut, hal inilah yang terjadi di Iran. "Persatuan di sekitar identitas nasional Iran dan pembelaan terhadap sistem politik negara itu tidak pernah sekuat dan sedalam sekarang."

Media Qatar itu menilai bahwa serangan dan tekanan eksternal justru menghidupkan kembali rasa kebangsaan di tengah masyarakat Iran dan memperkuat solidaritas internal mereka.

Kelemahan Politik Tidak Bisa Ditutupi dengan Kekuatan Militer

Artikel tersebut juga menyebut bahwa salah satu ilusi terbesar yang berkembang di Israel adalah keyakinan bahwa superioritas militer dapat menggantikan kelemahan politik. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kekuatan dapat memaksakan suatu realitas sementara, tetapi tidak dapat menciptakan legitimasi, stabilitas, dan penerimaan yang berkelanjutan.

Menurut analisis itu, kekuatan Amerika Serikat saat ini berbenturan dengan realitas geografis dan geopolitik Iran, sementara kekuatan Israel berhadapan dengan kemauan kolektif masyarakat yang menjadi sasaran perang dan penghancuran.

Kekuatan Negara Bergantung pada Kekuatan Masyarakatnya

Al-Araby Al-Jadeed juga menyoroti persoalan internal Amerika Serikat dan Israel, termasuk tantangan ekonomi, polarisasi politik, dan ketegangan sosial. Menurut media tersebut, kekuatan sebuah negara pada akhirnya bergantung pada kekuatan masyarakatnya sendiri. Jika masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah, maka kemampuan negara untuk memproyeksikan kekuatan di luar negeri juga akan melemah.

Kemauan Rakyat Lebih Kuat daripada Senjata

Di bagian akhir, Al-Araby Al-Jadeed menyimpulkan bahwa pengalaman sejarah berulang kali menunjukkan bahwa rakyat yang memiliki daya tahan dan semangat perlawanan mampu menghadapi bahkan kekuatan militer terbesar sekalipun.

Menurut artikel itu: Tentara mungkin dapat menduduki wilayah, tetapi tidak dapat menguasai hati dan pikiran masyarakat.Keunggulan dalam jumlah tentara, pesawat tempur, atau tank tidak otomatis menjamin kemenangan jika pihak lawan memiliki tekad yang kuat untuk terus bertahan dan berjuang.

Your Comment

You are replying to: .
captcha