Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — media Australia The Conversation dalam sebuah analisis komprehensif mengkaji dimensi kegagalan strategis perang Amerika dan rezim Zionis terhadap Iran, serta menggambarkannya sebagai “bencana bagi Gedung Putih”.
Media ini menegaskan bahwa hanya dua bulan setelah dimulainya perang tersebut, alasan awal Washington untuk menyerang Iran dan bahkan kriteria minimal Amerika untuk menyatakan kemenangan kini tampak tidak jelas dan saling bertentangan.
Klaim Kemenangan; Tanda Kekalahan yang Fatal
Laporan ini menyebutkan bahwa para pejabat Amerika kini mengklaim perang secara praktis telah berakhir sekitar satu bulan lalu, bersamaan dengan diberlakukannya gencatan senjata, “untuk keuntungan Amerika”. Klaim ini oleh media tersebut digambarkan sebagai tanda kekalahan fatal pemerintahan Donald Trump.
Dalam analisis ini, pernyataan Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika, pada 5 Mei, digambarkan sebagai contoh jelas dari kebingungan tersebut. Rubio mengatakan bahwa tujuan utama Amerika saat ini adalah mengembalikan Selat Hormuz ke kondisi di mana “semua orang dapat menggunakannya, tidak ada ranjau, dan tidak ada seorang pun yang dipaksa membayar pungutan.”
The Conversation menulis bahwa Rubio berusaha menggambarkan langkah ini sebagai operasi “defensif dan kemanusiaan”, serta mengklaim bahwa operasi itu hanya akan berubah menjadi perang apabila kapal-kapal Amerika menjadi sasaran; sesuatu yang juga terjadi pada hari yang sama.
Kontradiksi Terang-terangan di Gedung Putih
Media ini menegaskan bahwa Rubio mengabaikan kontradiksi terang-terangan dalam klaim tersebut, yaitu bahwa operasi yang disebut-sebut “kemanusiaan” itu merupakan akibat langsung dari perang yang pada saat bersamaan diklaim telah dimenangkan oleh Amerika.
Proyek Kebebasan; Berjalan Sehari lalu Dihentikan
Menurut The Conversation, situasi menjadi semakin “menggelikan” ketika Trump, hanya sehari setelah memulai rencana yang disebut “Proyek Kebebasan” untuk mengawal kapal-kapal tanker di Selat Hormuz, tiba-tiba menghentikannya.
Trump menyebut alasan keputusan itu sebagai adanya “kemajuan besar” menuju kesepakatan dengan Iran; sesuatu yang menyebabkan lonjakan jangka pendek di pasar global, meskipun pasar dengan cepat kembali jatuh.
Trump Melebih-lebihkan soal Kesepakatan dengan Iran
Menurut media ini, meskipun tidak diragukan bahwa Trump sangat ingin keluar dari perang yang membawa bencana ini, terutama sebelum perjalanannya ke Beijing pada 14 Mei, ia sangat melebih-lebihkan kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Berdasarkan laporan tersebut, Iran hanya sedang meninjau sebuah proposal 14 poin untuk memulai 30 hari perundingan dengan tujuan menemukan solusi yang berkelanjutan untuk mengakhiri perang.
Alasan Sebenarnya Kegagalan “Proyek Kebebasan”
Media Australia ini menegaskan bahwa alasan sebenarnya ditinggalkannya “Proyek Kebebasan” adalah karena sejak awal segera tampak bahwa rencana tersebut tidak mampu menyelesaikan krisis. Sebagian besar pemilik 1.500 kapal yang terkatung-katung di belakang Selat Hormuz tidak bersedia mengambil risiko melintas, bahkan dengan pengawalan Angkatan Laut Amerika. Iran juga menunjukkan bahwa tindakan-tindakan provokatif tidak akan dibiarkan tanpa respons.
Daya Tawar Iran Meningkat
Menurut laporan The Conversation, para pejabat Iran memandang berakhirnya blokade sebagai sebuah tindakan timbal balik yang logis. Pada saat yang sama, mereka menyadari bahwa waktu berjalan merugikan ekonomi global, dan tertutupnya Selat Hormuz akan membebankan biaya besar kepada Barat; hal yang meningkatkan daya tawar Iran.
Media ini menulis: “Iran kini, dengan bertumpu pada geografi dan kemampuan rudal balistiknya, telah menciptakan deterensi yang kredibel terhadap serangan-serangan di masa depan.”
Trump Tidak Memiliki Struktur Kebijakan untuk Kesepakatan Nuklir
Laporan itu menegaskan bahwa bahkan jika perundingan dimulai, hambatan yang sama seperti sebelum perang tetap ada, yaitu bahwa Trump tidak memiliki struktur kebijakan yang teliti dan terlembaga seperti yang dimiliki pemerintahan Barack Obama untuk mencapai kesepakatan nuklir tahun 2015.
Menurut analisis ini, kesepakatan Obama tercapai setelah 20 bulan perundingan intensif. Namun Trump, untuk mencapai kesepakatan serupa, tidak memiliki kesabaran yang diperlukan, keahlian teknis, maupun hubungan diplomatik langsung.
Amerika Tidak Dapat Memaksa Iran Menyerah dengan Pengeboman
Media Australia ini, seraya mengajukan keraguan serius mengenai keinginan Trump untuk kembali masuk ke dalam perang, menegaskan bahwa sekalipun keinginan seperti itu ada, Amerika dan rezim Zionis tidak dapat memaksa Iran menyerah melalui pengeboman.
Sekutu-sekutu Amerika Menjauh dari Washington
Dalam kelanjutan analisis ini disebutkan bahwa perang terhadap Iran telah menghancurkan kepercayaan sekutu-sekutu kawasan Amerika terhadap kemampuan Washington untuk mendukung mereka. Bahkan sekutu-sekutu tradisional Amerika pun menjauh dari Washington; sekutu-sekutu yang pada awalnya dipersalahkan atas krisis, lalu dihukum karena tidak mampu menyelesaikan krisis yang tidak mereka ciptakan.
Menurut pengakuan media ini, perubahan terus-menerus tujuan perang oleh Trump dan upayanya yang kacau untuk menemukan jalan keluar menunjukkan bahwa seluruh proyek ini merupakan sebuah “kegagalan strategis besar”.
Your Comment