2 Mei 2026 - 22:25
Al Mayadeen: Diplomasi AS Telah Kehilangan Tiga Unsur: Kredibilitas, Keberlanjutan, dan Disiplin Kelembagaan

Jaringan Al-Mayadeen dalam sebuah analisis yang ditulis Mazen al-Najjar menilai kondisi diplomasi Amerika saat ini sebagai contoh kemerosotan kredibilitas di arena internasional. Analisis itu menegaskan bahwa Amerika belum kehilangan kekuatannya, tetapi telah kehilangan kredibilitas, keberlanjutan, dan disiplin kelembagaan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Jaringan Al-Mayadeen dalam sebuah analisis yang ditulis Mazen al-Najjar mengkaji kondisi diplomasi Amerika Serikat saat ini sebagai contoh merosotnya kredibilitas dalam hubungan internasional. Dalam analisis tersebut ditegaskan bahwa Amerika belum kehilangan kekuatannya, tetapi telah kehilangan tiga unsur mendasar, yaitu kredibilitas, keberlanjutan, dan disiplin kelembagaan; unsur-unsur yang sangat diperlukan agar sebuah negara dianggap serius dalam perundingan internasional.

Analisis ini dimulai dengan menyinggung berakhirnya periode pertama gencatan senjata dan keputusan Donald Trump untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. Keputusan ini dinilai bertentangan dengan pernyataan sebelumnya yang menyebut bahwa ia tidak ingin memperpanjang gencatan senjata.

Penulis menilai perubahan ini bukan sekadar taktik, tetapi tanda jelas dari pola baru pengambilan keputusan dalam politik luar negeri Amerika. Dalam pola ini, posisi politik diumumkan melalui pernyataan pribadi, seketika, dan kadang saling bertentangan dari presiden, bukan melalui jalur diplomatik resmi dan terstruktur.

Dalam kelanjutan analisis tersebut, dengan merujuk pada pandangan John Mearsheimer, ilmuwan politik Amerika, dan Paul Grenier, penulis Amerika, ditegaskan bahwa pola ini tidak terbatas pada satu keputusan tertentu. Berdasarkan laporan itu, kemungkinan perundingan putaran kedua antara Amerika dan Iran di Islamabad juga diwarnai kebingungan. Di satu sisi, pejabat Iran menolak perundingan di bawah tekanan. Di sisi lain, kehadiran pihak Amerika masih berada dalam ketidakjelasan. Pesan-pesan dikeluarkan, lalu ditarik kembali, kemudian dilanggar. Situasi ini, alih-alih membentuk proses diplomatik klasik, justru menciptakan panggung yang berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi.

Analisis ini menekankan bahwa keseriusan diplomasi tidak lahir dari gaya, tetapi dari strukturnya. Negara-negara dinilai berdasarkan kemampuan mereka memberikan komitmen yang stabil. Kemampuan ini dulu menjadi ciri Amerika Serikat, tetapi kini telah melemah. Amerika telah bergeser dari diplomasi kelembagaan dan bertahap menuju sistem yang personal, sesaat, dan mudah dibatalkan.

Berdasarkan laporan tersebut, pada Juli 2025 lebih dari 1.350 pegawai Kementerian Luar Negeri Amerika, termasuk diplomat karier, diberhentikan, dan total pengurangan tenaga mencapai sekitar 3.000 orang. Selain itu, lebih dari 100 posisi di kedutaan masih kosong, dan hampir separuh kedutaan Amerika tidak memiliki duta besar. Kondisi ini bukan hanya menunjukkan kelemahan manajerial, tetapi juga mengirim pesan jelas kepada pemerintah-pemerintah asing bahwa diplomasi tidak lagi menjadi alat utama kekuatan Amerika.

Analisis tersebut kemudian membahas persoalan “runtuhnya komitmen yang dapat dipercaya”. Keluarnya Amerika dari kesepakatan nuklir Iran disebut sebagai contoh nyata dari kondisi ini. Kesepakatan itu dicapai setelah bertahun-tahun perundingan multilateral, tetapi ditinggalkan ketika pemerintahan berganti. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen Amerika bergantung pada siklus politik dalam negerinya. Akibatnya, pihak-pihak asing tidak lagi melihat kesepakatan dengan Amerika sebagai komitmen yang stabil, melainkan sebagai sesuatu yang sementara dan dapat berubah.

Analisis ini juga menyinggung runtuhnya kerangka pengendalian senjata. Disebutkan bahwa keluarnya Amerika dari perjanjian-perjanjian seperti pembatasan sistem anti-rudal balistik, rudal jarak menengah, dan perjanjian “Open Skies”, serta berakhirnya masa berlaku perjanjian “New START” pada Februari 2026, telah membuat dua kekuatan nuklir terbesar dunia berada tanpa batasan-batasan yang mengikat.

Pada bagian lain, tulisan ini menyinggung “berubahnya perundingan menjadi pertunjukan”. Menurut para analis, perundingan tidak lagi menjadi proses nyata, tetapi berubah menjadi panggung pertunjukan, di mana pesan-pesan media dan posisi-posisi propaganda mengalahkan isi substantif. Contohnya adalah perundingan terbaru antara Amerika dan Iran yang setelah berakhir tanpa hasil, dengan cepat diikuti oleh langkah-langkah seperti blokade laut.

Penulis kemudian menyinggung perubahan perilaku negara-negara lain. Ia menulis bahwa karena menurunnya kemampuan Amerika untuk diprediksi, sejumlah negara berusaha membangun jalur diplomatik independen. Di antaranya, pemulihan hubungan Iran dan Arab Saudi dengan mediasi China serta peran aktif negara-negara seperti Qatar, Mesir, dan Oman dalam mediasi kawasan menjadi contoh dari kecenderungan ini.

Pada bagian akhir, penulis menyimpulkan bahwa “erosi diplomasi adalah salah satu tanda kemerosotan kekuatan besar; bukan karena kekuatan itu telah lenyap, tetapi karena ia tidak lagi mampu menghasilkan hasil yang stabil.” Menurut analisis ini, Amerika memang masih hadir di meja perundingan, tetapi kemampuan pengaruh jangka panjangnya kini menghadapi keraguan serius.

Your Comment

You are replying to: .
captcha