Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran tidak membiarkan satu pun bagian kehidupan tetap tak tersentuh. Dampaknya terasa di seluruh bidang. Perang ini tidak mampu tetap terbatas dalam batas-batas geografis, melainkan berubah menjadi kekuatan tersembunyi yang sedang mendesain ulang peta perdagangan dunia; mulai dari jalur-jalur laut dan Selat Hormuz hingga rute-rute darat serta jalur kereta api yang menghubungkan China dengan Eropa.
Berdasarkan laporan jaringan Al Jazeera, ketika biaya melintasi jalur-jalur laut yang tidak aman terus meningkat dan jaringan penerbangan menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, jalur kereta api antarbenua mulai naik sebagai pilihan strategis. Ini menandakan perubahan yang lebih dalam dalam struktur globalisasi dan jalur-jalurnya.
Krisis Laut dan Dampaknya terhadap Langit
Kisah ini bermula dari jalur terpenting pengangkutan energi dunia, yaitu Selat Hormuz; tempat yang penutupannya secara langsung mengguncang pasokan minyak mentah dan bahan bakar pesawat.
Surat kabar China, People’s Daily, meninjau situasi ini dari sudut pandang penumpang biasa. Media itu menulis bahwa banyak orang yang telah merencanakan perjalanan luar negeri untuk liburan awal Mei tiba-tiba menghadapi pembatalan penerbangan yang sudah mereka pesan, tepat sebelum liburan dimulai.
Di balik pemandangan tidak biasa ini, terdapat angka-angka yang mengkhawatirkan. Menurut laporan surat kabar tersebut, krisis Selat Hormuz membuat harga bahan bakar pesawat naik dari 99,4 dolar per barel pada akhir Februari menjadi 209 dolar pada awal April. Kenaikan ini berarti lebih dari 110 persen dalam waktu kurang dari dua bulan.
Karena bahan bakar menyumbang 30 hingga 40 persen dari biaya operasional maskapai, bahkan lebih tinggi pada maskapai berbiaya murah, sebagian maskapai masuk ke dalam situasi yang oleh surat kabar itu digambarkan sebagai: untung di satu rute, rugi di rute lain.
Lonjakan biaya ini dengan cepat menyebabkan gelombang pembatalan penerbangan internasional. Laporan People’s Daily menyebut Asia Tenggara dan Oseania sebagai wilayah yang paling terdampak oleh gelombang pembatalan tersebut. Banyak penerbangan antara kota-kota China dan Asia Tenggara ditangguhkan hingga akhir musim, dan tingkat pembatalan di sejumlah rute pada April mencapai lebih dari 50 persen. Bahkan, pembatalan tambahan untuk dua bulan berikutnya juga telah dijadwalkan.
Jing Chongyi, pakar China dari Akademi Penerbangan Sipil China, mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa ada tiga ciri utama situasi ini: meningkatnya pembatalan penerbangan internasional, maskapai murah mengalami kerugian lebih besar, dan dampak krisis masih terbatas pada wilayah tertentu serta belum berubah menjadi krisis global.
Ia menambahkan bahwa kemampuan mengendalikan situasi ini bergantung pada kelanjutan pasokan bahan bakar ke pasar dan tidak meluasnya cakupan konflik.
Tekanan yang Menumpuk
Krisis bahan bakar pesawat bukan hanya persoalan teknis bagi maskapai penerbangan. Ia merupakan bagian dari gelombang yang lebih luas yang menekan ekonomi riil dan rantai pasok.
Laporan People’s Daily menyebut adanya apa yang dinamakan “biaya tambahan Timur Tengah”. Dampak perang terhadap kehidupan masyarakat dan struktur ekonomi digambarkan dalam bentuk kenaikan tajam harga tiket pesawat, kondisi darurat pada cadangan bahan bakar penerbangan Eropa, penurunan drastis penerbangan di Asia Tenggara, kenaikan biaya produksi sejumlah barang konsumsi, meningkatnya biaya perusahaan, dan keterlambatan logistik lintas batas.
Dalam konteks ini, laporan tersebut mengutip peringatan Fatih Birol, Direktur Badan Energi Internasional, yang mengatakan bahwa perang Amerika, Israel, dan Iran, bersama perang Rusia dan Ukraina, telah menciptakan krisis energi terburuk dalam sejarah.
Karena itu, apa yang terjadi di Timur Tengah tidak hanya terbatas pada minyak dan penerbangan. Ia juga menekan biaya produksi, perdagangan lintas batas, bahkan meningkatkan kemungkinan kembalinya stagflasi di dunia.
Kereta Api: Pintu Keluar Darurat
Di sisi lain, sebuah artikel di surat kabar China Sankei Xiaoxi mengungkap perubahan yang tenang tetapi penting dalam jalur perdagangan antara China dan Eropa.
Jaringan kereta barang China-Eropa, yang pada awalnya dimulai sebagai eksperimen logistik dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan, selama satu dekade terakhir telah berubah menjadi alternatif penting bagi sebagian transportasi laut dan udara.
Artikel tersebut menjelaskan bahwa jaringan ini kini menghubungkan 26 negara Eropa dan 230 kota dengan 120 kota di Asia. Jumlah perjalanan kereta ini juga meningkat dua kali lipat antara 2020 hingga 2023, melampaui 17 ribu perjalanan per tahun. Pertumbuhan ini didukung oleh kesepakatan bea cukai bilateral, sistem terpadu pelacakan kontainer, dan koordinasi lintas perbatasan.
Angka-angka ini mengeluarkan kereta api dari posisi sebagai pilihan sampingan dan mengubahnya menjadi jalur yang terorganisasi dan terlembagakan, yang mampu memindahkan porsi perdagangan barang bernilai tinggi yang terus meningkat antara Timur dan Barat.
Dalam artikel itu, dengan mengutip Bob Savic dan surat kabar South China Morning Post, disebutkan bahwa titik balik perubahan ini adalah krisis Laut Merah dan gangguan pada rute-rute laut tradisional. Krisis ini membuat barang-barang bernilai tambah tinggi beralih ke kereta barang China-Eropa, hingga kereta tersebut berubah menjadi alat kuat untuk menarik investasi internasional dan memperkuat kemampuan perdagangan.
Secara praktis, sebagian perdagangan yang sebelumnya hanya dilakukan melalui pelabuhan dan jalur laut kini menemukan pilihan melalui kereta api: lebih cepat daripada laut dan lebih stabil saat krisis geopolitik.
Dari Guncangan Laut ke Stabilitas Darat
Surat kabar China Daily, dalam analisis yang lebih luas, menggambarkan perang Timur Tengah sebagai guncangan sistemik yang menargetkan tiga pilar utama ekonomi global: energi, rantai pasok, dan pasar keuangan. Guncangan ini masih mengancam proses pemulihan ekonomi dunia yang rapuh.
Dalam situasi ini, China bukan sekadar penonton. Negara ini adalah importir minyak terbesar dari Timur Tengah, sehingga setiap gangguan pada pasokan energi atau keamanan jalur laut akan langsung memengaruhi keamanan energi dan biaya pertumbuhan ekonominya.
Surat kabar tersebut juga berusaha menggambarkan China sebagai kekuatan penstabil, dengan menekankan beberapa poin:
Stabilitas Teluk Persia dan Selat Hormuz bukan hanya persoalan Amerika atau Barat, tetapi syarat bagi stabilitas ekonomi global, khususnya ekonomi negara-negara berkembang.
Sanksi sepihak membuat negara-negara lemah semakin lemah dan mengubah perang menjadi beban tambahan bagi mereka.
Inisiatif seperti Sabuk dan Jalan, kereta barang, serta mekanisme seperti BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai merupakan jalur alternatif atau pelengkap untuk kerja sama dan pembangunan.
Perdagangan Sedang Didesain Ulang
Terlihat jelas bahwa perang Timur Tengah tidak hanya mengganggu jalur perdagangan, tetapi dalam jangka panjang juga menggambarnya ulang.
Setiap kali biaya asuransi kapal tanker naik, atau sebuah penerbangan internasional dibatalkan karena lonjakan harga bahan bakar, perusahaan dan pemerintah akan mencari jalur yang lebih rendah risiko, sekalipun dalam jangka pendek jalur itu lebih panjang atau lebih mahal.
Kondisi ini memberi China kesempatan memainkan peran ganda. Di satu sisi, China sangat terdampak oleh krisis energi dan gangguan jalur laut. Di sisi lain, China berusaha mengubah krisis ini menjadi peluang untuk membangun jaringan alternatif berbasis kereta api dan menjadikannya landasan kerja sama multilateral.
Perang Amerika dan Israel terhadap Iran, dari Selat Hormuz hingga kereta-kereta China, sedang mendesain ulang jalur perdagangan. Jalur-jalur baru ini pada gilirannya berusaha mengubah aturan permainan ekonomi global, di antara lautan yang bergolak dan rel-rel yang membentang mencari stabilitas.
Your Comment