27 April 2026 - 21:19
Mengapa Trump tidak mampu mematahkan dominasi Iran atas Selat Hormuz?

Media Amerika, The Hill, melaporkan bahwa meskipun telah memberikan tekanan militer, Amerika Serikat masih belum mampu mematahkan dominasi Iran atas Selat Hormuz.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — The Hill melaporkan bahwa Iran tetap mempertahankan kendali dan pengaruhnya atas Selat Hormuz serta menjadikan jalur ini sebagai salah satu instrumen strategis paling kuat dalam konfrontasinya dengan Amerika Serikat dan Israel; sesuatu yang ternyata jauh lebih sulit dipatahkan daripada yang dibayangkan Washington.

Media tersebut, mengutip sejumlah analis, menulis bahwa strategi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melanjutkan blokade laut dan membatasi pergerakan kapal dari pelabuhan-pelabuhan Iran tidak menghasilkan dampak yang diharapkan, dan bahkan bisa jadi lebih menguntungkan Teheran ketimbang melemahkannya.

Alam Saleh, profesor studi Iran di Australian National University, mengatakan bahwa blokade Amerika belum tentu praktis dan efektif, serta tidak akan pernah memaksa Iran mundur atau menyerah.

Dalam wawancaranya dengan The Hill, ia menjelaskan bahwa jika Iran menghalangi ekspor minyak negara-negara lain melalui Selat Hormuz, dan pada saat yang sama Amerika juga menghentikan ekspor minyak Iran dari jalur yang sama, maka akibatnya adalah Selat Hormuz akan tertutup sepenuhnya melalui tindakan simultan Iran dan Amerika.

Strategi Iran

Menurut analis ini, itulah persis yang diinginkan Teheran: menjaga harga minyak tetap tinggi, menekan ekonomi global, dan membuat kelanjutan perang menjadi beban berat bagi Amerika. Ia bahkan meyakini bahwa langkah-langkah Trump justru mempercepat terwujudnya strategi Iran.

Iran pada praktiknya menutup Selat Hormuz tidak lama setelah dimulainya serangan gabungan Amerika dan Israel. Meski militer Amerika telah bertahun-tahun memprediksi skenario ini dalam berbagai latihannya, kecepatan pelaksanaan dan tingkat efektivitas langkah Iran telah mengejutkan Washington.

Jim Krane, pakar energi dari Baker Institute, Rice University, mengatakan bahwa Iran kini telah membuktikan bahwa bila diserang, ia memiliki kemampuan untuk menyandera ekonomi global; sebuah kemampuan yang memberi Teheran daya tangkal sangat tinggi terhadap serangan-serangan di masa mendatang.

Dampak situasi ini juga telah terlihat di dunia; Amerika menghadapi kenaikan harga bahan bakar, sejumlah negara mengumumkan keadaan darurat nasional, dan para petani di berbagai belahan dunia menghadapi kelangkaan pupuk kimia yang semakin parah.

Sementara itu, ekspor minyak Iran juga tidak sepenuhnya terhenti. Saleh mengatakan bahwa menghentikan ekspor minyak ke China—yang membeli sekitar 90 persen minyak mentah Iran—jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan.

Faktor geografi

Meskipun serangan Amerika dan Israel telah menimbulkan kerusakan militer bagi Iran, faktor geografi tetap bekerja menguntungkan Teheran.

Saleh menegaskan bahwa bahkan militer terkuat di dunia pun tidak mampu sepenuhnya mengendalikan lebih dari tiga ribu kilometer wilayah laut, atau mendominasi jalur-jalur pelayaran yang rumit dan garis pantai yang luas di kawasan selat itu.

Mark Nevit, mantan profesor Akademi Angkatan Laut Amerika, juga mengatakan bahwa selama Iran masih mampu meluncurkan drone dari titik mana pun di dalam negerinya, negara itu akan tetap mampu mengancam kapal-kapal dan mempertahankan pengaruhnya atas Selat Hormuz.

Sahar Razavi, direktur Pusat Studi Iran dan Timur Tengah di Sacramento University, juga sependapat dan mengatakan bahwa selama pemerintahan Iran masih berdiri, Amerika pada praktiknya tidak akan mampu melenyapkan pengaruh Iran atas Selat Hormuz secara total.

Ranjau dan aliansi

Salah satu kekhawatiran besar lainnya adalah ranjau laut milik Iran. Dalam laporan ini, seorang pejabat pertahanan Amerika menyatakan bahwa pembersihan ranjau-ranjau tersebut bisa memakan waktu hingga enam bulan, dan pada dasarnya tidak mungkin dimulai sebelum operasi militer berakhir.

Iran juga memanfaatkan krisis ini untuk menata ulang aliansi-aliansi internasional. Teheran mengajukan gagasan penarikan biaya lintas bagi kapal-kapal yang melewati selat, dan bahkan mungkin meminta beberapa negara membayar biaya tersebut dengan yuan China atau mata uang digital; sebuah langkah yang dapat mengurangi ketergantungan pada dolar dan menurunkan efektivitas sanksi Amerika.

John Calabrese, peneliti dari Middle East Institute, meyakini bahwa jika Iran memberi kemudahan melintas kepada kapal-kapal dari negara-negara sahabat, sementara membatasi pelintasan pihak lain, maka secara bertahap langkah ini bisa memecah koalisi anti-Iran.

Laporan ini juga menyinggung ketidakpuasan sejumlah negara seperti Inggris dan Prancis atas keputusan Trump memulai perang tanpa koordinasi sebelumnya. Razavi mengatakan bahwa Iran sedang berupaya memanfaatkan celah ini; celah yang justru diciptakan oleh Amerika sendiri.

Kartu truf dalam negosiasi

Meski demikian, para analis memperingatkan agar kekuatan Iran tidak dibesar-besarkan. Menurut Calabrese, Iran memang belum mencapai dominasi permanen dan mutlak atas Selat Hormuz, tetapi telah berhasil membuktikan bahwa mereka mampu membatasi lalu lintas kapal. Dengan demikian, Teheran kini memiliki kartu truf penting dalam negosiasi, meski belum sampai pada tahap mampu merancang ulang tatanan kawasan sendirian.

Para pakar meyakini bahwa dalam jangka panjang, satu-satunya solusi nyata adalah menciptakan jalur-jalur alternatif untuk ekspor minyak melalui jaringan pipa dan rel kereta di luar Selat Hormuz. Namun pelaksanaan proyek semacam itu akan memerlukan waktu bertahun-tahun. Hingga saat itu, Selat Hormuz akan tetap menjadi senjata strategis paling efektif di tangan Iran.

Alam Saleh pada akhirnya menegaskan bahwa eskalasi militer semata tidak akan menyelesaikan krisis, dan satu-satunya cara untuk mengakhiri krisis ini adalah mencapai sebuah kesepakatan dan solusi politik.

Your Comment

You are replying to: .
captcha