5 Maret 2026 - 12:54
Source: ABNA
Syeikh Naim Qassem: Serangan Rudal Adalah Tanggapan atas Pelanggaran Gencatan Senjata / Kesabaran Kami Mempunyai Batas

Sekretaris Jenderal Hizbullah menyatakan bahwa kelompok tersebut telah menembakkan rudal setelah 15 bulan menahan diri terhadap apa yang disebut sebagai pelanggaran berulang oleh Israel.

Menurut laporan agensi berita internasional Ahlul Bayt (as) – Abna – Syeikh Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah, pada Rabu malam mengatakan bahwa gerakan ini telah menembakkan rudal ke Israel sebagai tanggapan atas pelanggaran Israel di Lebanon selama 15 bulan terakhir sejak penerapan perjanjian gencatan senjata pada akhir November lalu.
Sekretaris Jenderal Hizbullah menambahkan dalam pidato videonya bahwa kesabaran gerakan ini memiliki batas dan kelebihan musuh Israel sudah sangat besar.
Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Hizbullah mematuhi perjanjian gencatan senjata dan tidak menanggapi serangan berulang Israel untuk tidak dituduh mengganggu proses diplomatik, sementara Israel tidak mematuhi salah satu pun dari pasal-pasal perjanjian tersebut.
Sekretaris Jenderal Hizbullah mengatakan mengenai konsekuensi serangan Israel terbaru ke Lebanon bahwa serangan ini telah mengungsi penduduk lebih dari 85 desa dan pemukiman serta menghancurkan harta benda dan pusat dana "Qard al-Hasan". Sejak penandatanganan perjanjian gencatan senjata, lebih dari 10.000 pelanggaran telah tercatat dan lebih dari 500 warga telah gugur dalam serangan Israel sejak saat itu.
Syeikh Naim Qassem menekankan bahwa perlawanan adalah hak yang sah selama pendudukan Israel berlanjut.
Ia juga mengatakan bahwa tugas Hizbullah adalah menghentikan jalur berbahaya ini dari agresi Israel-Amerika yang terus berlanjut dan bahwa Israel adalah ancaman eksistensial bagi kami, rakyat kami, negara kami, dan seluruh wilayah.
Ia menambahkan bahwa masalahnya bukan pada senjata Hizbullah, tetapi pada pendudukan dan pelanggaran terus-menerus kedaulatan Lebanon.
Sekretaris Jenderal Hizbullah melanjutkan bahwa Israel sedang berusaha memperluas wilayahnya dan Perdana Menterinya Benjamin Netanyahu telah menyatakan usahanya untuk menciptakan "Israel Raya".
Syeikh Naim Qassem juga mengkritik pemerintah Lebanon, mengatakan bahwa pemerintah ini, dengan mencoba melucuti senjata Hizbullah, telah sejalan dengan tuntutan Israel dan keputusan pemerintah Lebanon pada Agustus 2025 telah memberikan legitimasi atas agresi Israel ke Lebanon.
Hizbullah sebelumnya telah menargetkan beberapa target di Israel dengan rudal dan drone serta juga menyerang kendaraan dan pasukan Israel di seberang perbatasan, yang mengakibatkan setidaknya dua tentara Israel terluka.

Your Comment

You are replying to: .
captcha