Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Tzachi Hanegbi, mantan penasihat keamanan nasional rezim Zionis, dalam artikel yang dipublikasikan di harian berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth, menulis bahwa sebagaimana dalam kasus Gaza, terkait Iran pun terdapat banyak ketidakjelasan: belum jelas apakah akan tercapai kesepakatan, apakah kesepakatan itu akan menghentikan dukungan Iran terhadap sekutu regionalnya, apakah Amerika akan melakukan serangan, dan apa dampaknya terhadap Hamas di Gaza.
Ia menyatakan bahwa meskipun Israel mencatat sejumlah capaian signifikan dalam perang, musuh berhasil meraih keberhasilan taktis dalam serangan 7 Oktober, yang sebagian di antaranya berubah menjadi capaian strategis.
Hanegbi mengidentifikasi empat perkembangan strategis yang menurutnya bermasalah:
-
Perang telah menghilangkan peluang normalisasi hubungan dengan Arab Saudi.
-
Perang menghidupkan kembali isu Palestina dan solusi dua negara yang sebelumnya mengalami kemunduran besar.
-
Munculnya permusuhan yang tak terduga dan sulit dikendalikan dari Yaman (Houthi), yang menimbulkan kerugian signifikan bagi Israel.
-
Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan Gallant, yang membatasi kebebasan gerak para pemimpin Israel dan mungkin akan diikuti surat perintah lain.
Hanegbi menyimpulkan bahwa musuh-musuh Israel, meskipun mengalami kerugian besar, tetap meyakini bahwa kemenangan pada akhirnya akan berpihak kepada mereka. Mereka memandang sekadar bertahan hidup sebagai kemenangan. Ia menegaskan bahwa Palestina bertahan selama dua tahun penuh tanpa menyerah, meskipun Amerika Serikat sepenuhnya berpihak kepada Israel.
Ia juga menyebut bahwa, menurut pandangan pihak Palestina, pengorbanan mereka menghasilkan pembebasan ratusan tahanan hukuman seumur hidup serta meningkatkan isolasi internasional Israel.
Hanegbi memperingatkan bahwa jika musuh memaknai peristiwa 7 Oktober sebagai keberhasilan strategis, maka perlawanan akan bangkit kembali dengan kekuatan baru dari abu kehancuran.
Ia menambahkan bahwa kegagalan memahami bahwa pembunuhan puluhan ribu orang di Gaza, Lebanon, Iran, dan Yaman merupakan perjudian sembrono dan pada akhirnya akan gagal, adalah kesalahan serius yang tidak boleh diulang. Ia mengingatkan bahwa sebelumnya Israel juga keliru menilai hasil Operasi “Guardian of the Walls,” karena interpretasi Yahya Sinwar terhadap konflik tersebut justru berlawanan dengan keyakinan para pejabat Israel saat itu.
Di akhir tulisannya, Hanegbi menyatakan bahwa pada suatu tahap—mungkin lebih cepat dari yang diperkirakan—rencana penghancuran Israel akan kembali menjadi dasar perencanaan dan tindakan musuh-musuhnya. Untuk mencegahnya sebelum kembali mengejutkan Israel, para pemimpin Israel harus tetap skeptis, waspada, siap, tegas, dan yang terpenting, bersatu.
Your Comment