23 Februari 2026 - 13:05
Source: ABNA
Gaza di Ambang Kehancuran Kemanusiaan; Pengepungan, Kekurangan Air dan Obat-obatan

Jalur Gaza sejak dimulainya perang telah memasuki tahap kemanusiaan paling berbahaya; di tengah pengepungan ketat yang berlangsung, infrastruktur telah hancur secara luas, dan layanan dasar menghadapi kekurangan yang semakin meningkat.

Dilaporkan oleh kantor berita ABNA mengutip situs Palestina Al-Resalah.net, krisis ini tidak lagi terbatas pada kekurangan makanan atau obat-obatan, tetapi juga meliputi air, listrik, layanan kesehatan, dan manajemen perkotaan, yang membuat lebih dari dua juta orang menghadapi kondisi kehidupan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal kesulitan ekonomi.

Berdasarkan laporan ini, di jantung bencana ini, krisis air semakin memburuk dari hari ke hari, sementara pembatasan terhadap masuknya bahan bakar, bantuan kemanusiaan, dan barang-barang kebutuhan pokok terus berlanjut.

Seiring dengan meningkatnya harga beberapa barang karena kelangkaan dan pembatasan, lembaga-lembaga pemerintah berusaha menjaga stabilitas sosial minimal dengan mengawasi pasar dan mencegah penimbunan. Namun, terus berlanjutnya pembatasan masuknya bantuan dan penjatahan barang telah menyebabkan krisis obat-obatan dan peralatan medis tetap menjadi salah satu tantangan paling serius.

Krisis Air Parah

Kota Gaza mengumumkan bahwa kota ini, sejak sekitar dua pekan lalu, menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal penyediaan air. Situasi ini terjadi setelah rusaknya jalur air "Mekorot" Israel menyusul operasi militer di wilayah timur yang disebut "Zona Nol".

Menurut Hosni Muhanna, juru bicara pemerintah kota, krisis ini telah memasuki minggu keempat dan lebih dari 85 persen wilayah kota hampir sepenuhnya terputus dari air.

Selama perang, pemerintah kota mengandalkan jalur "Mekorot" sebagai sumber air utama, karena 72 sumur hancur, satu-satunya stasiun desalinasi Al-Sudaniyya tidak berfungsi, dan sumur "Bir Al-Na'ja" dan "Al-Safa" kembali hancur.

Kebutuhan air harian Kota Gaza sekitar 100.000 meter kubik, sementara dalam kondisi terbaik hanya 12.000 meter kubik yang tersedia; artinya defisit lebih dari 75 persen. Akibatnya, jatah air per orang di banyak daerah tidak mencapai lima liter per hari; angka yang jauh di bawah standar kemanusiaan minimum.

Perkiraan PBB menunjukkan bahwa sekitar satu juta empat ratus ribu orang dari total dua juta seratus ribu penduduk Gaza tinggal di hampir seribu kamp pengungsi; tanpa air mengalir dan listrik, suatu kondisi yang, dengan kepadatan penduduk dan panasnya cuaca, melipatgandakan risiko kesehatan.

Bahan Bakar, Arteri yang Terganggu

Di Gaza, krisis air terkait erat dengan krisis bahan bakar. Pemerintah kota tidak mampu mengoperasikan sumur dan instalasi pengolahan air limbah secara teratur karena kekurangan bahan bakar. Meskipun ada masuknya bahan bakar dalam jumlah terbatas, jumlah ini tidak memenuhi kebutuhan operasional, dan hal ini menyebabkan seringnya gangguan pada pemompaan air dan akumulasi air limbah di beberapa daerah.

Otoritas setempat memperingatkan bahwa penjatahan bahan bakar secara langsung berdampak pada sektor-sektor vital, dari rumah sakit hingga layanan kebersihan kota, sehingga memperdalam krisis kesehatan dan lingkungan.

Pasar dan Mata Pencaharian

Di bidang ekonomi, harga beberapa barang kebutuhan pokok meningkat secara signifikan karena terbatasnya pasokan dan meningkatnya biaya transportasi dan koordinasi. Meskipun dalam beberapa pekan terakhir akses terhadap beberapa produk relatif membaik, volatilitas harga masih menjadi ciri utama pasar di tengah kondisi pengepungan.

Di sisi lain, Kementerian Ekonomi dan lembaga pemerintah berusaha mengendalikan pasar dengan mengintensifkan inspeksi dan menangani penimbunan serta penyalahgunaan. Tindakan juga telah diambil terhadap beberapa pelanggar untuk melindungi konsumen dan memastikan distribusi yang adil.

Mengingat menurunnya daya beli dan meningkatnya kemiskinan, yang membuat sebagian besar populasi bergantung pada bantuan kemanusiaan atau pendapatan tidak tetap, pengendalian pasar telah menjadi salah satu prioritas utama.

Krisis Obat-obatan

Kekurangan obat-obatan dan peralatan medis adalah salah satu aspek krisis yang paling kritis dan berbahaya. Rumah sakit menghadapi kekurangan parah obat-obatan esensial, termasuk obat untuk penyakit kronis, antibiotik, serta peralatan bedah dan perawatan intensif.

Otoritas kesehatan telah memperingatkan bahwa berlanjutnya pembatasan masuknya peralatan medis mengancam nyawa ribuan pasien, terutama mereka yang menderita kanker, penyakit ginjal, dan jantung. Kekurangan bahan bakar juga telah mengurangi kapasitas operasional rumah sakit, membawa sistem kesehatan ke ambang kehancuran.

Your Comment

You are replying to: .
captcha