Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Ahmad Diab dalam analisisnya yang dikirimkan dalam versi bahasa Spanyol kepada kantor berita ini, membahas dua isu kontroversial dunia: kasus Jeffrey Epstein dan ancaman berulang Amerika Serikat terhadap Iran.
Ia menulis bahwa jaringan kekuasaan, rente, dan korupsi yang terungkap dari kasus Jeffrey Epstein bertentangan secara mendasar dengan keyakinan Syiah tentang pengorbanan dan kesyahidan yang berakar dari peristiwa Karbala dan kebangkitan Imam Husain (as). Kontras inilah yang membuat pandangan Syiah tentang perlawanan terhadap kezaliman tetap hidup.
Diab menilai, tekanan terhadap Iran di permukaan tampak seperti pola lama—sanksi, ancaman, dan retorika keamanan global—namun di balik itu terdapat perbedaan yang jauh lebih dalam: satu sisi merepresentasikan kekuasaan tersembunyi, perhitungan dingin, dan elitisme global (yang ia sebut “Epsteinisme” dan terkait dengan Zionisme); sementara di sisi lain berdiri memori Karbala, di mana Imam Husain (as) melalui kesyahidannya menunjukkan bahwa kebenaran, meski tampak kalah, pada akhirnya tidak tunduk pada kezaliman.
Ia menegaskan bahwa bagi banyak pihak di dunia non-Barat, kasus Epstein memperlihatkan standar ganda dalam sistem internasional: hukum longgar bagi kaum berkuasa dan keras bagi yang lain.
Dalam konteks ini, pemimpin Iran bagi para pendukungnya bukan sekadar tokoh politik, melainkan simbol kelanjutan jalan Karbala—perlawanan berbasis keyakinan agama dan identitas historis.
Diab menulis bahwa dalam perspektif Syiah yang berakar pada pengalaman 1.400 tahun perlawanan, tekanan dan serangan terhadap Iran dipandang sebagai bagian dari pertarungan lama antara kekuatan hegemonik dan mereka yang menolak tunduk.
Ia juga memperingatkan bahwa perang berkepanjangan di Teluk Persia akan membawa konsekuensi besar, baik bagi Amerika Serikat maupun Israel. Ia menyebut bahwa perang panjang secara historis melemahkan posisi ekonomi dan kredibilitas Amerika, sementara Israel dengan wilayah dan populasi yang terbatas akan kesulitan menghadapi konflik jangka panjang. Penutupan Selat Hormuz, misalnya, dapat mengguncang harga minyak dan ekonomi global.
Diab menambahkan bahwa Iran tidak sendirian di kawasan, dengan jaringan sekutu regional seperti Hizbullah di Lebanon, kelompok perlawanan di Irak dan Suriah, serta Ansarullah di Yaman.
Menurutnya, jika setelah tekanan dan serangan berkepanjangan sistem politik Iran tetap bertahan dan masyarakatnya tetap menyatakan perlawanan, maka itu akan dipandang sebagai kekalahan strategis bagi pihak-pihak yang ingin melemahkannya.
Ia menutup analisisnya dengan menegaskan bahwa inti narasi Syiah berawal dari Karbala: meski Imam Husain (as) gugur di medan perang, kesyahidannya justru mengabadikan kemenangan moral atas kezaliman—sebuah keyakinan yang terus membentuk cara pandang Syiah terhadap konflik dan perlawanan hingga hari ini.
Your Comment