18 Februari 2026 - 20:06
Kekhawatiran Menlu AS terhadap teologi Syiah; Islam Syiah satu-satunya pembacaan yang membuat Amerika kewalahan

Versi Islam Syiah di Iran di bawah kepemimpinan ulama otentik dan berlandaskan teori Wilayat al-Faqih telah membuktikan bahwa—berbeda dengan negara-negara kawasan yang bergantung—ia bukan pihak yang sekadar patuh, melainkan mendahulukan kepentingan nasional dan agamanya di atas kehendak kaum hegemon. Inilah rahasia ketidak-terkalahkannya di hadapan Amerika.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Analisis atas pernyataan terbaru Menteri Luar Negeri Amerika dengan jelas menunjukkan perbedaan Republik Islam Iran dengan negara-negara Islam lainnya. Dari sudut pandang hegemoni, bernegosiasi dengan negara-negara seperti Arab Saudi, Mesir, Turki, Suriah, Yordania, Qatar, UEA dan lain-lain—yang dikelola dengan versi Wahabi dan sekuler—sangat mudah; tetapi tidak demikian dengan Iran karena:

Pertama, di negara-negara tersebut, bahkan dengan pembacaan yang berbalut Islam, kebijakan luar negeri umumnya tunduk pada kepentingan sementara, kalkulasi kekuatan, relasi dagang, serta pemenuhan kepentingan Barat. Namun menurut pengakuan diplomat tertinggi Amerika (Marco Rubio), Iran mengambil keputusan berdasarkan “keyakinan agama murni” dan “teologi Syiah”; kerangka yang tidak bisa ditawar dengan uang, kekuatan, ataupun tipu daya.

Kedua, Islam Syiah autentik (yang berpusat di Iran), berbeda dari sebagian pembacaan kompromistis di kawasan, menjadikan ideologi perlawanan terhadap kezaliman sebagai prinsip utama. Hal ini membuat kesepakatan dengan Iran sangat sulit bagi Amerika, karena revolusi ini tidak dapat dipalingkan dari cita-citanya melalui janji ekonomi ataupun ancaman militer.

Ketiga, Versi Islam Syiah di Iran di bawah kepemimpinan ulama otentik dan mengikuti teori Wilayat al-Faqih telah membuktikan bahwa—berbeda dengan negara-negara kawasan yang bergantung—ia bukan pihak yang patuh begitu saja dan menempatkan kepentingan nasional serta agama di atas tuntutan kaum hegemon. Inilah rahasia ketidak-terkalahkan di hadapan Amerika.

Your Comment

You are replying to: .
captcha