Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Ayatullah Abbas Kaabi, dalam pertemuan para pengelola dan mubalig kelompok dakwah nasional khusus menyambut bulan suci Ramadan 1447 H yang diselenggarakan oleh organisasi payung kelompok dakwah nasional di Kantor Umum Dakwah Islam Provinsi Qom, menyatakan: kesempatan hadir menjelang bulan Ramadan di tengah kelompok dakwah jihadis serta mendengar laporan yang menggembirakan merupakan hal yang membahagiakan.
Ulama Tanpa Rakyat Akan Kehilangan Napas
Ia menegaskan: “Dakwah memiliki hakikat kerakyatan dan ulama juga memiliki identitas kerakyatan.”
Hubungan ulama dengan rakyat seperti ikan dengan laut; jika ulama terpisah dari rakyat atau muncul jarak di antara keduanya, maka ulama tidak akan dapat bertahan hidup. Sebaliknya rakyat tanpa ulama juga akan mengalami kerusakan serius pada identitas keagamaannya.
Ia menambahkan, ikatan ulama dan rakyat adalah ikatan pembentuk manusia, pembangun masyarakat, pemberi identitas, pembawa harapan dan pembuka masa depan.
Pandangan Jihad dan Kolektif; Keunggulan Kelompok Dakwah
Ayatullah Kaabi menyatakan kelompok dakwah jihad memiliki keunggulan karena tidak melakukan dakwah musiman, melainkan sepanjang tahun dengan identitas kolektif, profesi, dan spesialisasi. Pendekatan jihad dalam dakwah adalah kelebihan besar.
Ia menekankan teladan Rasulullah (saw): keaslian mubalig dan keberhasilannya bermakna bila berada dalam kesinambungan gerakan dakwah Nabi. Nabi berasal dari tengah rakyat, merasakan penderitaan mereka, berusaha menyelesaikan masalah mereka, dan berdakwah dengan kasih sayang — dakwahnya selalu disertai pemecahan masalah, bukan sekadar teori.
Pentingnya Sosiologi dan Pemetaan Masalah
Kelompok dakwah harus memperkuat hal tersebut:
pertama memahami masyarakat dan psikologi audiens,
kedua mengidentifikasi masalah rakyat,
ketiga melayani mereka secara tulus di samping dakwah.
Mobilisasi potensi pemerintah dan lembaga pelayanan masyarakat dalam masa dakwah dapat menjadikan kelompok jihad sebagai kekuatan perubahan sosial bahkan politik.
Imam Musa Shadr; Teladan Dakwah Berbasis Masalah
Ia mencontohkan Imam Musa Shadr yang setelah meneliti masyarakat Lebanon menyadari kaum Syiah hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Ia memulai gerakan bukan dengan ceramah, tetapi dengan membangun sekolah teknik dan mendorong kewirausahaan, sekaligus berdakwah agama. Gerakan ini melahirkan lembaga seperti Dewan Tertinggi Syiah Lebanon dan mengokohkan identitas sosial mereka.
Banyak tokoh perlawanan lahir dari madrasah Imam Musa Shadr.
Mubalig Dapat Menginspirasi Bangsa
Seorang mubalig bisa memulai dari desa kecil namun dengan keikhlasan dan pemahaman masalah dapat menjadi inspirasi nasional. Dakwah Ramadan harus disertai pelayanan, empati, dan solusi sosial.
Dakwah yang ikhlas membawa keberkahan; mubalig tidak mencari popularitas, melainkan menjalankan tugas sebagai pelayan umat.
Ramadan; Madrasah Pembangunan Diri dan Jihad Peradaban
Ramadan disebut sebagai madrasah pembangunan diri, pembangunan masyarakat, jihad peradaban dan pembentuk kekuatan Islam. Tujuannya membentuk masyarakat mukmin yang aktif, sadar, sabar, dan visioner.
Umat Revolusi Islam
Menurutnya, yang muncul pada peringatan 22 Bahman adalah manifestasi “umat mukmin”. Yang dimaksud جمهور انقلاب اسلامی bukan sekadar masyarakat umum, tetapi tubuh kokoh pembentuk kekuatan Islam dan Ahlulbait.
Musuh menargetkan identitas agama; karena itu dakwah harus membina manusia mukmin pejuang dan masyarakat tangguh.
Sentralitas Al-Qur’an dan Jaringan Iman
Al-Qur’an harus disampaikan dengan bahasa masa kini agar menjadi panduan hidup. Kelompok dakwah harus menjaga sifat kerakyatan dan tidak terjebak birokrasi.
Dakwah jihad berbeda dengan dakwah tradisional; harus membangun hubungan berkelanjutan dan membentuk jaringan sosial iman aktif.
Lima Poros Strategis Dakwah Ramadan
Ia mengusulkan lima poros utama:
-
Penjelasan landasan tauhid dan identitas
-
Pendidikan manusia pejuang yang hadir di lapangan
-
Pembangunan masyarakat Qurani dan sistem sosial
-
Penguatan semangat perlawanan dan keteguhan
-
Pengokohan hubungan umat dan imamah
Tauhid harus hadir dalam keadilan sosial, pengurangan kesenjangan, solidaritas, pemberantasan korupsi dan amar makruf nahi munkar.
Tauhid dalam Politik Global
Konflik dengan Amerika harus dijelaskan secara tauhid: kekuatan sejati milik Allah dan kekuatan arogan bersifat rapuh.
Pentingnya Hubungan Umat dan Imamah
Jika umat bersama imam di masa ghaibah akan selamat; tanpa imamah ibadah individual pun tidak cukup.
Penutup
Ayatullah Kaabi menegaskan mubalig harus menyampaikan sistem pemikiran Islam secara terpadu dan aplikatif agar masyarakat mencapai pemahaman peradaban agama.
Ia menutup dengan doa percepatan kemunculan Imam Mahdi (af), memohon agar hati masyarakat terpaut pada Al-Qur’an dan Ahlulbait serta diberi taufik berkhidmat pada Islam dan Revolusi Islam.
Your Comment