15 Februari 2026 - 20:10
Ekonomi Suriah di Bawah Pemerintahan Julani Memasuki Fase Perangkap Kemiskinan

Penurunan tajam produk domestik bruto, merosotnya nilai mata uang nasional, dan inflasi tinggi telah membawa ekonomi Suriah ke tahap yang dikenal secara global sebagai perangkap kemiskinan, yakni kondisi struktural berkelanjutan yang sulit keluar tanpa intervensi mendasar.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Penurunan tajam produk domestik bruto, merosotnya nilai mata uang nasional, dan inflasi tinggi telah membawa ekonomi Suriah ke tahap yang dikenal secara global sebagai perangkap kemiskinan, yakni kondisi struktural berkelanjutan yang sulit keluar tanpa intervensi mendasar.

Menurut laporan surat kabar Al-Araby Al-Jadeed, peneliti ekonomi Amer Kharboutli menyatakan situasi Suriah mencerminkan gangguan struktural mendalam: melemahnya ekonomi, turunnya taraf hidup, merosotnya daya beli, dan penurunan pendapatan per kapita yang dalam 14 tahun terakhir turun lebih dari 84 persen dibanding 2010. Tingkat kemiskinan kini menjadi yang tertinggi dalam sejarah modern Suriah, diperkirakan sedikitnya 80 persen populasi hidup miskin, baik berdasarkan garis kemiskinan menengah Bank Dunia (3,65 dolar per hari) maupun kemiskinan ekstrem (2,15 dolar per hari).

Ia menekankan keluar dari perangkap kemiskinan memerlukan pendekatan komprehensif: bantuan jangka pendek bagi kelompok rentan sekaligus strategi jangka panjang untuk pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan. Pemerintah Julani bersama organisasi internasional pada akhir November 2025 meluncurkan strategi nasional pengurangan kemiskinan multidimensi, termasuk peningkatan perlindungan sosial serta penghubung bantuan dengan layanan pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan.

Laporan Bank Dunia akhir 2024 dan awal 2025 menunjukkan kemiskinan semakin parah: sekitar seperempat penduduk hidup dalam kemiskinan ekstrem dan dua pertiga di bawah garis kemiskinan minimum, dengan sekitar 5,7 juta orang hidup kurang dari 2,15 dolar per hari. Bank Dunia juga memperkirakan kontraksi ekonomi berlanjut dan inflasi tinggi, sementara pemulihan pertumbuhan bergantung pada stabilitas politik, pelonggaran sanksi, dan masuknya investasi.

Pakar ekonomi Shadi Ahmad menambahkan daya beli upah di sektor publik dan swasta tidak lagi menutupi kebutuhan dasar; garis kemiskinan keluarga naik dari 870 ribu lira pada 2021 menjadi lebih dari 3,5 juta pada 2023 dan kini diperkirakan melampaui 5 juta lira. Ia mengusulkan bantuan difokuskan pada alat produksi kecil — seperti pengolahan minyak dan industri pangan desa — guna menciptakan pendapatan berkelanjutan, memperkuat pertanian, serta mengurangi migrasi internal. Ia juga menekankan reformasi sistem perlindungan sosial agar bantuan tepat sasaran kepada kelompok rentan seperti perempuan kepala keluarga, lansia, dan penyandang kebutuhan khusus, sekaligus menghubungkannya dengan pendidikan dan layanan kesehatan untuk mendorong pemberdayaan, bukan ketergantungan.

Your Comment

You are replying to: .
captcha