Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Pernyataan kantor Perdana Menteri rezim Zionis tentang kunjungan lebih awal dari jadwal Benjamin Netanyahu ke Washington untuk bertemu Donald Trump memunculkan gelombang analisis dan spekulasi di kalangan politik wilayah pendudukan. Pertemuan yang dijadwalkan pada hari Rabu itu direncanakan di tengah fakta bahwa putaran pertama perundingan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran baru saja berlangsung di Oman.
Menurut pengumuman resmi, ini akan menjadi pertemuan ketujuh antara Netanyahu dan Trump sejak dimulainya pemerintahan baru Amerika dalam kurun lebih dari satu tahun terakhir—jumlah pertemuan yang oleh para pengamat dinilai belum pernah terjadi sebelumnya.
Pernyataan terbaru Trump yang menyebut pembicaraan dengan Iran berlangsung “sangat baik” dan penekanannya pada kelanjutan negosiasi, di wilayah pendudukan disambut dengan reaksi yang hati-hati dan bahkan bernada kekhawatiran. Ia juga menyatakan bahwa Amerika “tidak tergesa-gesa” untuk mengambil tindakan, sikap yang oleh sebagian analis dinilai sebagai jarak dari posisi sebelumnya Gedung Putih.
Sementara itu, Mike Huckabee, duta besar AS untuk rezim Zionis, dalam wawancara dengan Channel 14 rezim tersebut menegaskan bahwa Trump akan tetap pada janjinya dan akan bertindak jika tren saat ini dari pihak Teheran berlanjut. Ia menambahkan bahwa hasil perundingan Oman akan diterimanya dari tim Amerika.
Huckabee juga menilai ancaman Iran terhadap Amerika dan rezim Zionis sebagai hal yang serius, dan menyatakan bahwa jika Iran memperoleh rudal jarak jauh, negara itu dapat menjadi ancaman langsung bagi Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, opini publik di wilayah pendudukan memantau dengan cermat perkembangan terbaru ini. Sejumlah media juga mengikuti pergerakan militer Amerika, termasuk perpindahan kapal induk, untuk menilai kemungkinan eskalasi ketegangan atau potensi tindakan militer.
Your Comment