Kantor Berita Internasional Ahlulbait - ABNA - Dari Dar es Salaam, Tanzania, peringatan hari kelahiran Imam Mahdi afs sekaligus peringatan 47 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran diselenggarakan di aula Jamiatul Mustafa kawasan Kigamboni, Dar es Salaam.
Acara ini dihadiri para ulama, cendekiawan, peneliti, serta pengikut Ahlulbait as dari berbagai wilayah Dar es Salaam dan luar Tanzania, dengan fokus membahas peran Islam dalam mewujudkan keadilan, kejujuran, dan persatuan umat.
Sejumlah tokoh hadir dan menyampaikan pidato, di antaranya Duta Besar Iran untuk Tanzania, Muhammad Javad Hematpanah; Syekh Hamid Jalal, Ketua Komunitas Syiah Itsna Asyariyah Tanzania; Dr. Ali Dina; serta Syekh Dr. Al-Had Musa Salim, Ketua JMAT (Tanzania Peace and Reconciliation Organization).
Islam Sejati adalah Islam Martabat dan Solidaritas
Syekh Hamid Jalal menegaskan bahwa Islam sejati adalah Islam kemenangan, kemuliaan, dan solidaritas; Islam yang berakar pada budaya Karbala dan keyakinan akan penantian tegaknya keadilan universal oleh Imam Zaman, Imam Mahdi afs.
Ia menambahkan bahwa kekuatan Islam terletak pada adanya kepemimpinan, ulama, dan marja’ yang membimbing umat bahkan dalam kondisi paling sulit. Ia mencontohkan Ali Khamenei yang, menurutnya, selalu hadir tanpa rasa takut di tengah situasi berat dan menenangkan rakyat Iran dengan pesan-pesan penuh harapan.
Rahasia Kemenangan Islam
Mengutip ayat Al-Qur’an “Kataballāhu la-aghlabanna ana wa rusulī” (QS. Al-Mujadilah: 21), Syekh Jalal menyebut bahwa Islam memiliki sejumlah “rahasia kemenangan”. Pertama, menjalani kehidupan berdasarkan ajaran Imam Husain (as) di Karbala. Kedua, keyakinan pada keberadaan Imam Mahdi (aj) sebagai harapan tegaknya keadilan dunia. Ia juga menegaskan bahwa keberadaan Republik Islam Iran merupakan bagian dari kemenangan Islam, karena negara tersebut menjaga Islam yang bijak dan kepemimpinan autentik yang diletakkan oleh Ruhollah Khomeini dan dilanjutkan oleh Ayatullah Khamenei.
Islam Kemuliaan, Bukan Kehinaan
Syekh Jalal menekankan bahwa Islam bukan agama kehinaan, melainkan agama kemuliaan. Ia mengutip seruan Imam Husain (as): “Haihata minna dz-dzillah” (mustahil kami menerima kehinaan). Menurutnya, Islam tidak mengajarkan tunduk kepada penindas, tetapi memilih jalan keberanian, pembelaan terhadap kebenaran, dan perlawanan terhadap kezaliman atas dasar keadilan. “Islam memiliki politik Karbala; Islam yang mengenal musuhnya, menghadapinya, dan menjamin tegaknya kebenaran dan keadilan di dunia.”
Kepemimpinan dan Masa Depan Umat
Syekh Jalal menyatakan bahwa kekuatan Islam bersumber dari kepemimpinan, ulama, marja’, dan wakil Imam Zaman yang memberi ketenangan dan harapan kemenangan bagi umat.
Ia menutup pidatonya dengan menyeru kaum Muslimin untuk berpegang pada Islam murni ajaran Nabi Muhammad (saw) dan menjadikan budaya Karbala sebagai jalan hidup, agar umat Islam melangkah maju dengan martabat, persatuan, dan kekuatan. Acara ini juga dihadiri para tokoh agama Tanzania di bawah koordinasi Syekh Dr. Al-Hadi Musa Salim serta jamaah dari berbagai wilayah Dar es Salaam.
Your Comment