Kantor Berita Internasional Ahlulbait - ABNA - Ayatullah Reza Ramezani, Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as, pada Senin (9/2) dalam acara pembaruan baiat terhadap cita-cita Imam Khomeini ra, menjelaskan misi dan cakupan aktivitas lembaga ini.
Ia menyebut bahwa Lembaga Internasional Ahlulbait as berhubungan dengan lebih dari 130 negara di dunia dan merupakan lembaga berbasis masyarakat yang terdiri dari tokoh-tokoh ilmiah, ulama, dan pemikir Ahlulbait di berbagai belahan dunia. Anggota dewan tingginya juga merupakan figur terkemuka dunia Syiah yang, atas mandat Ali Khamenei, mengemban tanggung jawab membimbing urusan Syiah dunia.
Masyarakat Mahdawi: Rasional, Aman, dan Berakhlak
Ayatullah Ramezani menjelaskan dua cara pandang tentang akhir zaman. Pertama, pandangan yang melihatnya sebagai masa keruntuhan dan kehancuran kemanusiaan—narasi yang menurutnya juga dipromosikan budaya populer Barat. Kedua, pandangan Qur’ani yang menjanjikan bahwa bumi pada akhirnya akan diwarisi oleh orang-orang saleh: “Sesungguhnya bumi akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
Ia menambahkan bahwa masyarakat era kemunculan Imam Mahdi afs adalah masyarakat yang ilmu pengetahuannya berkembang luas. Dalam riwayat disebutkan bahwa dari 27 bagian ilmu, baru dua bagian yang tersingkap saat ini. Masyarakat masa depan, katanya, adalah masyarakat rasional, aman, dan berlandaskan akhlak, di mana orang-orang saleh memegang kepemimpinan dan perbaikan terjadi di ranah akidah, akhlak, dan syariat.
Imam Khomeini Menghidupkan Kembali Pandangan Tauhid tentang Manusia
Ramezani menilai bahwa manusia modern haus akan keadilan, keamanan, dan martabat. Namun dalam sistem dominasi global, rasionalitas dipisahkan dari spiritualitas dan direduksi menjadi rasionalitas berbasis keuntungan material. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an memuat lebih dari 300 ayat tentang akal dan keterkaitannya dengan iman. Inilah, menurutnya, esensi wacana Mahdawiyah.
Mengutip berbagai krisis global seperti kemiskinan, diskriminasi, ketidakadilan, rasisme, dan “perbudakan modern”, ia mengatakan bahwa logika negosiasi dalam sistem dominasi sering kali berbentuk penghinaan dan ancaman terhadap bangsa lain.
Menurutnya, Ruhollah Khomeini menantang wacana dominasi ini dengan menghidupkan kembali pandangan tauhid tentang manusia—manusia sebagai makhluk ilahi, bermartabat, dan aktif.
Ia menambahkan bahwa Imam Khomeini “mendamaikan manusia dengan dirinya sendiri”, yang kemudian berujung pada pendamaian dengan Tuhan dan sesama manusia. Pendekatan ini, katanya, mengajak umat manusia membangun “surga dunia” dengan pendekatan tauhid.
Transformasi Konsep Penantian
Ramezani mengkritik penggunaan konsep-konsep seperti HAM, hak perempuan, dan kebebasan secara instrumental di Barat, sementara pada saat yang sama terjadi pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak tak bersalah.
Ia menegaskan bahwa kebebasan sejati adalah seruan bersama seluruh nabi, dan Imam Khomeini dengan pendekatan kenabiannya menghidupkan kembali makna autentik kebebasan serta membawa Iran menuju kemandirian—yang dibayar mahal dengan syahidnya para ilmuwan dan komandan negara.
Menurutnya, Imam Khomeini mengubah konsep “penantian” dari sikap pasif dan negatif menjadi penantian yang aktif, hadir di medan, dan membangun peradaban. Penantian berarti kesiapan, tindakan, dan tanggung jawab. Karena itu, dalam riwayat disebut sebagai amal yang paling utama.
Di bagian akhir pidatonya, Ramezani menegaskan bahwa jalan tersebut kini dilanjutkan oleh Ali Khamenei dengan kesederhanaan hidup, ketegasan, dan tujuan yang sama.
Ia menyatakan bahwa tugas Lembaga Internasioal Ahlulbait as adalah menyampaikan wacana Ahlulbait yang berakar pada Al-Qur’an dan riwayat kepada kalangan elite dan masyarakat dunia, karena—menurutnya—para pemenang masa depan adalah mereka yang mampu menawarkan pemikiran, akhlak, dan gagasan terbaik bagi kemanusiaan.
Your Comment