Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Dalam rangka peringatan Dekade Fajar, sebuah seminar ilmiah bertajuk “Revolusi Islam dan Perannya dalam Pendekatan serta Persatuan Umat Islam dengan Penekanan pada Afghanistan” diselenggarakan di Qom. Seminar ini menyoroti wacana persatuan yang dibangun Revolusi Islam dan peran Imam Khomeini dalam menumbuhkan solidaritas umat Islam dunia.
Acara ini digelar atas kerja sama Komite Kebudayaan dan Pendidikan Panitia Arba’in (Bagian Warga Asing dan Migran), Lembaga Riset Risalat, serta Dewan Mahasiswa Internasional Fakultas Farabi University of Tehran, dengan dihadiri para pelajar dan intelektual migran di Kompleks Pendidikan Ilmu Humaniora Al-Mustafa International University.
Wacana Persatuan Revolusi Islam Menjadi Global
Dr. Muhammad Jome’ah Amini menjelaskan bahwa Revolusi Islam Iran, dengan karakter Islaminya, sikap anti-kolonial dan anti-diktator, fondasi intelektual-budaya, serta penekanan pada isu Al-Quds dan Palestina, sejak awal menjadi poros wacana persatuan umat Islam.
Ia menegaskan bahwa revolusi ini tidak mengangkat identitas etnis, mazhab, atau bahasa, melainkan hanya identitas Islam, yang membuat banyak gerakan Islam di dunia mempercayainya.
Menurutnya, pada 16 Januari 1980, berbagai gerakan pembebasan dunia berkumpul di Iran dalam sebuah pertemuan yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah.
Ia juga menyinggung dua konferensi besar bertema “Pemikiran” dan “Persatuan” yang dihadiri ratusan pemikir Muslim dunia, yang memperkaya dimensi intelektual revolusi ini.
Peran Revolusi Islam dalam Pendekatan Mazhab
Pembicara berikutnya, Hujjatul Islam Dr. Ismail Danesh, menyebut Revolusi Islam di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini sebagai titik balik penting dalam wacana pendekatan mazhab.
Menurutnya, revolusi ini menghidupkan kembali konsep ummatan wahidah (umat yang satu), bukan dengan menghapus perbedaan, tetapi dengan hidup berdampingan secara sadar berdasarkan titik temu akidah. Ia menyinggung pendirian lembaga-lembaga seperti Majma’ Taqrib Mazahib Islami yang berperan besar dalam dialog ilmiah antarmazhab.
Ia juga menekankan bahwa pengenalan musuh bersama umat Islam—yakni hegemoni global dan Zionisme—serta wacana perlawanan, memperkuat persatuan praktis umat.
Dimensi Transnasional Imam Khomeini
Nasrullah Sadeqizadeh, mantan anggota parlemen Afghanistan, menekankan bahwa Revolusi Imam Khomeini bukan sekadar gerakan politik, tetapi gerakan yang lahir dari agama, sehingga sangat dicintai rakyat Afghanistan, baik Syiah maupun Sunni.
Ia menceritakan bahwa pada masa jihad Afghanistan, utusan Gorbachev pernah menawarkan agar Iran menghentikan dukungan kepada mujahidin Afghanistan dengan imbalan menghentikan serangan rudal Irak ke Iran, namun Imam Khomeini menolaknya.
Menurutnya, penerimaan Iran terhadap pengungsi Afghanistan di masa sulit memberi kesan mendalam bagi rakyat Afghanistan.
Ia mengutip kalimat terkenal Imam Khomeini: “Islam tidak mengenal batas negara”, yang menurutnya membuat kaum Muslim tertarik pada kepemimpinan beliau di saat dunia menganggap agama sebagai “candu masyarakat”.
Penutup dari Ulama Ahlusunah Afghanistan
Pembicara terakhir, Maulawi Bahruddin Jowzjani, Ketua Dewan Kemaslahatan Islam Afghanistan, menekankan pentingnya persatuan Syiah dan Sunni di Afghanistan yang hidup berdampingan, bahkan saling beribadah di masjid satu sama lain.
Ia menyebut bahwa pada masa jihad, Syiah dan Sunni berjuang bersama, dan semangat itulah yang menjadi rahasia kemuliaan umat Islam. Ia juga menegaskan bahwa saat ini, membela kepemimpinan Ali Khamenei dan mendukung rakyat Iran adalah kewajiban keagamaan seluruh Muslim.
Seminar ditutup dengan doa untuk kemuliaan Islam, Revolusi Islam, serta semakin eratnya persatuan umat Islam.
Your Comment