Media sosial hari ini bukan lagi sekadar ruang berbagi kabar atau tempat bersosialisasi. Ia telah menjelma menjadi semacam “kota paralel” yang hidup berdampingan dengan dunia nyata, lengkap dengan segala dinamika, dampak, dan ancamannya. Di kota ini, orang tidak perlu turun ke jalan untuk membuat kekacauan. Cukup dengan satu unggahan, satu video, satu potongan narasi, ketenangan psikologis masyarakat bisa terguncang.
Bayangkan jika di dunia nyata ada seseorang yang memecahkan kaca toko, merusak fasilitas umum, dan mengganggu ketertiban. Tentu aparat akan bertindak tegas. Namun ketika tindakan serupa dilakukan di ruang digital—dengan menyebarkan hoaks, memelintir fakta, dan menciptakan kepanikan massal—sering kali respons kita jauh lebih longgar. Padahal dampaknya bisa lebih luas dan lebih dalam. Yang dirusak bukan benda, melainkan kepercayaan publik dan ketenangan batin masyarakat.
Di ruang digital ini, muncul “perusuh-perusuh baru” yang tidak terlihat. Mereka tidak melempar batu, tetapi melempar narasi. Senjata mereka bukan kayu atau besi, melainkan hoaks, rumor, framing, dan manipulasi opini. Cara kerjanya pun rapi dan terstruktur. Ada yang bertugas menciptakan cerita palsu atau memelintir fakta. Ada yang bertugas menyebarkan dengan cepat ke berbagai platform. Ada pula figur-figur publik yang, sadar atau tidak, ikut menguatkan narasi itu dengan membagikannya kepada jutaan pengikutnya, sehingga kebohongan tampak seperti kebenaran.
Yang paling canggih adalah penggunaan ribuan akun palsu dan bot untuk menciptakan kesan seolah-olah isu tersebut sedang viral dan ramai dibicarakan. Fenomena yang sering disebut sebagai “ladang like dan komentar” ini membuat orang awam mudah terkecoh. Sesuatu yang sebenarnya kecil, dibuat tampak besar. Sesuatu yang direkayasa, dibuat seolah nyata. Dan tanpa sadar, masyarakat biasa yang terpancing emosi ikut menjadi mata rantai terakhir penyebaran.
Mereka sangat paham bagaimana cara kerja psikologi manusia. Berita yang sesuai dengan keyakinan kita, cenderung langsung kita terima tanpa verifikasi. Emosi marah, simpati, atau takut dijadikan pintu masuk. Sejarah dipelintir, tokoh dipoles atau dijatuhkan, masa lalu digambarkan indah secara sepihak untuk menumbuhkan rasa kecewa pada masa kini. Aktivitas mereka juga meningkat pada saat-saat genting: ketika terjadi krisis, demo, pemilu, atau konflik sosial—ketika orang sedang emosional dan tidak berpikir jernih.
Di tengah situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan hanya aturan, tetapi juga kedewasaan. Setiap warga media sosial seharusnya belajar menjadi “wartawan” bagi dirinya sendiri. Bertanya sebelum membagikan: dari mana sumbernya, siapa yang pertama kali menyebarkan, apakah ada media lain yang mengonfirmasi, dan mengapa berita itu muncul sekarang. Tidak semua yang dibagikan oleh orang terkenal layak dipercaya, apalagi jika di luar bidang keahliannya.
Ruang digital sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Ia bukan lagi dunia maya yang bisa diabaikan. Apa yang terjadi di sana berpengaruh nyata pada cara kita berpikir, bersikap, dan memandang sesama. Karena itu, menjaga ketertiban di ruang ini sama pentingnya dengan menjaga ketertiban di jalanan. Yang dipertaruhkan bukan sekadar arus informasi, melainkan ketenangan pikiran kita bersama.
Your Comment