25 Januari 2026 - 21:46
‎Apakah Amerika Pintar? Sebuah Uji Kecerdasan Geopolitik

‎Pertanyaan “apakah Amerika pintar?” tidak dapat dijawab secara simplistik. Jawabannya, dalam batas tertentu, bisa “ya”, dan dalam konteks lain, justru “tidak”. Jika kecerdasan diukur melalui capaian sains dan teknologi, Amerika Serikat memang memiliki keunggulan yang sulit dibantah.

‎Khusnul Yaqin*

‎Pertanyaan “apakah Amerika pintar?” tidak dapat dijawab secara simplistik. Jawabannya, dalam batas tertentu, bisa “ya”, dan dalam konteks lain, justru “tidak”. Jika kecerdasan diukur melalui capaian sains dan teknologi, Amerika Serikat memang memiliki keunggulan yang sulit dibantah. Negeri ini menaungi universitas-universitas papan atas dunia seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford University, University of California, Berkeley, Harvard University, Princeton, Caltech, dan Columbia University—institusi yang menjadi motor utama riset global dalam bidang teknologi, kedokteran, kecerdasan buatan, dan ilmu dasar. Dari perspektif ini, Amerika jelas merupakan kekuatan intelektual dunia.

‎Namun, kecerdasan akademik tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan geopolitik. Sejarah pasca-Revolusi Islam Iran menunjukkan bahwa keunggulan teknologi tinggi Amerika kerap kehilangan efektivitas ketika berhadapan dengan realitas sosial, kultural, dan strategis Iran. Pada awal revolusi 1979, upaya Amerika untuk menundukkan Republik Islam Iran—termasuk operasi militer rahasia dengan dalih pembebasan sandera—berakhir dengan kegagalan total. Operasi tersebut runtuh bukan karena perlawanan bersenjata langsung, melainkan oleh badai gurun Iran dan miskalkulasi strategis, sebuah simbol kegagalan membaca konteks wilayah dan kondisi non-teknis. Dalam arti tertentu, kecanggihan teknologi Amerika menjadi tumpul di hadapan kompleksitas Iran. Alih-alih Amerika menjukkan kecanggihan teknologinya di hadapan masyarakat dunia, justru Amerika memamerkan kedongokannya. 

‎Selama lebih dari empat dekade, Amerika menerapkan embargo dan sanksi ekonomi dengan asumsi bahwa tekanan struktural akan melumpuhkan negara tersebut. Namun, asumsi ini justru berbalik arah. Alih-alih runtuh, Republik Islam Iran secara bertahap membangun kemandirian teknologi—baik dalam bidang pertahanan maupun sipil. Pengembangan teknologi misil, drone, satelit, kedokteran, hingga nanoteknologi menunjukkan bahwa tekanan eksternal dapat berfungsi sebagai katalis inovasi, bukan selalu sebagai instrumen penghancur. Dari sudut pandang ini, strategi Amerika nyata gagal membaca dinamika adaptif negara yang disanksi.‎

‎Republik Islam Iran mampu mengubah tekanan maksimal Amerika dan kroninya menjadi daya ungkit kebangkitan negerinya. 

‎Selain faktor sosial dan politik, faktor terpenting yang menjelaskan daya tahan dan kebangkitan Republik Islam Iran adalah pandangan dunia (worldview) religius Islaminya yang terinternalisasi sebagai kesadaran kolektif. Dalam kosmologi ajaran Islam, sejarah dipahami sebagai arena ujian moral antara keadilan dan kezaliman, di mana penderitaan bukan anomali, melainkan bagian dari tanggung jawab etis untuk tetap teguh di pihak yang benar. Kesadaran ini membentuk moral endurance: kesanggupan menanggung kesulitan tanpa kehilangan arah, karena makna hidup tidak diukur oleh kenyamanan material, melainkan oleh kesetiaan pada prinsip. Narasi Karbala, Imamah, dan penantian keadilan (mahdiisme) menanamkan etos kesabaran aktif—bukan pasrah, tetapi berjuang secara rasional dan berjangka panjang. Worldview ini mengikat individu pada tujuan transpersonal, menyalurkan emosi kolektif menjadi disiplin sosial, dan mengubah tekanan eksternal menjadi momentum penguatan diri. Dengan demikian, selain struktur sosial dan kalkulasi politik, daya ungkit utama Iran terletak pada kesadaran pandangan dunia Islam yang memaknai krisis sebagai panggilan tanggung jawab sejarah, bukan alasan untuk runtuh.‎

‎Pandangan dunia masyarakat Iran inilah yang perlu diserap masyarakat dunia untuk melawan hegemoni amerika dan gerombopannya. 

‎Upaya Amerika untuk mengganti pemerintahan Iran melalui skema perang hibrida—mulai dari eksploitasi isu sosial, tekanan media internasional, hingga eskalasi militer terbatas—juga tidak menghasilkan tujuan strategis apapun. Beberapa episode krisis yang diproyeksikan sebagai “titik runtuh” justru berakhir tanpa perubahan pemerintah Republik Islam Iran. Bahkan retorika ancaman militer yang berulang kali dikemukakan oleh elit politik Amerika sering kali tidak diikuti tindakan nyata, menandakan keterbatasan ruang gerak strategis. Dalam konteks ini, klaim kecerdasan geopolitik Amerika patut dipertanyakan. Dengan kata lain, elit politik amerika lebih terburu nafsu daripada piawai secara geopolitik sehingga selalu menjadi pecundang di depan dengkul Republik Islam Iran. 

‎Lebih jauh, pengalaman Amerika berhadapan dengan aktor-aktor regional yang berafiliasi dengan Iran memperlihatkan problem serupa. Biaya operasi militer yang sangat tinggi tidak selalu sebanding dengan hasil strategis, sementara teknologi mahal kerap dihadapkan pada strategi asimetris berbiaya rendah namun efektif. Ketimpangan antara investasi dan hasil ini mengindikasikan adanya krisis efisiensi dalam pendekatan kekuatan Amerika.

‎Sebagai contoh konkret, dinamika di Laut Merah menunjukkan bagaimana kapal induk Amerika Serikat—termasuk Carrier Strike Group USS Dwight D. Eisenhower—harus beroperasi dengan tingkat kehati-hatian tinggi dan melakukan manuver penghindaran atau lari terbirit-birit berhadapan dengan senjata rakitan kelompok Ansharullah di Yaman, mitra strategis Iran. 

‎Jangankan berhadapan dengan induknya yaitu Republik Islam Iran, dengan kadernya Iran saja yaitu kelompok Ansharullah Yaman, amerika lari tunggang langang seperti pencuri ayam. 

‎‎Fakta operasional ini menegaskan asimetri biaya dan efektivitas: sistem persenjataan sederhana dan tak simetris mampu membatasi kebebasan manuver aset militer paling mahal di dunia. Secara strategis, peristiwa tersebut memperlihatkan pergeseran logika deterrence modern—bahwa keunggulan teknologi dan biaya tidak otomatis menjamin dominasi, terutama ketika berhadapan dengan aktor non-negara yang memanfaatkan ruang, waktu, dan taktik secara adaptif dan cerdas. 

‎Kesimpulannya, jika “kepintaran” Amerika diukur dari pencapaian sains, universitas unggulan, dan inovasi teknologi, maka jawabannya adalah ya. Namun jika kecerdasan dinilai dari kemampuan membaca realitas geopolitik, memahami budaya politik lawan, serta merumuskan strategi jangka panjang yang efektif, maka catatan sejarah menunjukkan banyak kegagalan. Dalam kerangka perbandingan ini, jika Amerika masih disebut pintar, maka Republik Islam Iran dan para mitranya—yang mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di bawah tekanan paling keras—menunjukkan tingkat kecerdasan strategis yang, dalam banyak hal, sangat jauh lebih unggul dari masyarakat amerika dan Barat yang dimitoskan cerdas.

*Akademisi dan Pemerhati Isu Sosial dan Keummatan

Your Comment

You are replying to: .
captcha