7 Januari 2026 - 21:44
Rasulullah saw Inspirator Dialog Global dan Penyebaran Budaya Islam di Dunia

Ketua Yayasan Muthahhari Indonesia menegaskan peran Rasulullah saw dalam membimbing umat manusia serta menyebarkan ajaran etika dan kebudayaan, dan memperkenalkan beliau sebagai teladan dialog global serta pemersatu antarumat.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Seminar ilmiah bertajuk “Nabi Rahmat; Inspirasi Dialog Global”, yang merupakan bagian dari rangkaian kajian ilmiah pengenalan kepribadian dan kedudukan Rasulullah saw, diselenggarakan atas prakarsa Kantor Studi, Riset, dan Penelitian Deputi Ilmiah dan Kebudayaan Lembaga Internasional Ahlulbait, bekerja sama dengan Kantor Berita Internasional ABNA dan Pusat Pendidikan Jangka Pendek Univerasitas Internasional Al-Mustafa, secara luring dan daring.

KH. Miftah Fauzi Rahmat, MA, Ketua Yayasan Muthahhari Bandung, sebagai pembicara daring dalam seminar tersebut, pada awal paparannya menyinggung negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Ia menyampaikan bahwa negara-negara ini, selain memiliki kesamaan kultural, juga menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa religius dan kultural bersama, sehingga ajaran Rasulullah saw dapat tersampaikan dengan baik melalui bahasa-bahasa tersebut.

Ia menekankan peran para ulama besar dalam penyebaran ajaran Islam dan menyatakan bahwa terdapat ulama-ulama yang secara sistematis menyampaikan ajaran Nabi Muhammad saw di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, sehingga memberikan pengaruh yang mendalam terhadap budaya dan kehidupan sosial masyarakat.

Ketua Dewan Syura PP IJABI ini juga menyinggung peran seni dan lukisan dalam merepresentasikan sosok Rasulullah saw. Ia menjelaskan bahwa dalam banyak karya seni dan ritual keagamaan, kehidupan Nabi, akhlak mulia, dan kapasitas kepemimpinan beliau digambarkan secara simbolik. Karya-karya tersebut, sambil menjaga keaslian sejarah, turut menyampaikan pesan-pesan moral dan edukatif.

Ia juga menegaskan pentingnya peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw (maulid), seraya menjelaskan bahwa perayaan tersebut di Indonesia dan negara-negara Islam lainnya dilaksanakan secara luas, dengan masyarakat menyiapkan makanan khas sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah saw. Menurutnya, perayaan ini merupakan sarana penting untuk memperkuat persatuan dan solidaritas umat Islam.

Pentingnya Ketelitian dalam Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

KH. Miftah Fauzi Rahmat menjelaskan bahwa dalam sebagian terjemahan Al-Qur’an, perbedaan makna kata tidak selalu disampaikan secara tepat, sehingga sejumlah nuansa makna yang halus dalam Al-Qur’an berpotensi hilang. Ia mencontohkan bahwa beberapa istilah Al-Qur’an memiliki makna khusus yang memerlukan pemahaman mendalam agar pesan ajaran Rasulullah SAW dapat disampaikan secara benar.

Ia menegaskan bahwa pemahaman yang tepat terhadap Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad SAW memiliki peran mendasar dalam pembinaan moral dan sosial umat Islam serta masyarakat global.

Nabi  Muhammad saw sebagai Teladan Dialog Global

KH. Miftah Fauzi Rahmat, dengan menyoroti kedudukan global Rasulullah SAW dalam penyebaran nilai-nilai etika dan kemanusiaan, menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw bukan hanya teladan akhlak dan kemanusiaan, tetapi juga sumber inspirasi bagi dialog antarbudaya dan penciptaan perdamaian dunia. Ia menambahkan bahwa melalui pemanfaatan peluang pendidikan, penelitian, dan kebudayaan, pesan-pesan Rasulullah saw dapat disebarluaskan ke tingkat global.

Cendekiawan muslim Indonesia ini  juga menyampaikan bahwa peluang-peluang ini memungkinkan peran Rasulullah saw dalam membimbing masyarakat manusia dan membangun dialog lintas budaya semakin menonjol, serta memastikan ajaran-ajaran beliau dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Pada penutup pernyataannya, KH. Miftah Fauzi Rahmat menyampaikan apresiasi atas kerja sama lembaga-lembaga ilmiah dan pemerintah, seraya menegaskan bahwa penyebaran ajaran Rasulullah saw merupakan tanggung jawab global yang harus dilakukan dengan ketelitian ilmiah dan penghormatan terhadap keberagaman budaya.

Your Comment

You are replying to: .
captcha