Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Wilayah Somaliland hari ini membantah klaim terkait persetujuan untuk menjadi tuan rumah fasilitas militer Israel atau menampung warga Palestina yang mengungsi dari Jalur Gaza sebagai imbalan atas pengakuan kemerdekaannya oleh rezim Zionis.
Kementerian Luar Negeri wilayah tersebut dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa klaim-klaim itu “tidak berdasar”, dan menyatakan bahwa interaksi Hargeisa dengan Tel Aviv “sepenuhnya bersifat diplomatik” serta dilakukan “dengan penghormatan penuh terhadap hukum internasional.” Di sisi lain, Abdulrahman Zahir Adam, Menteri Luar Negeri Somaliland, menegaskan bahwa tidak ada perundingan apa pun yang dilakukan terkait isu-isu tersebut.
Sebelumnya, Hassan Sheikh Mohamud, Presiden Somalia, menyatakan bahwa “Somaliland telah menerima tiga syarat Israel sebagai imbalan atas pengakuan”, yaitu: pemukiman warga Palestina, pendirian pangkalan militer Israel di pesisir Teluk Aden, serta bergabung dengan Perjanjian Abraham untuk normalisasi hubungan.
Sementara itu, Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis, pada Jumat lalu menyatakan bahwa Israel “mengakui Somaliland sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.”
Klaim pejabat Somaliland ini disampaikan di tengah pandangan para pengamat dan analis yang menilai bahwa langkah rezim Zionis tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas pengaruh di Tanduk Afrika, serta rangkaian tindakan destruktif rezim ini di kawasan yang dipandang sebagai ancaman terhadap kedaulatan negara-negara—dengan Palestina khususnya Gaza, Suriah, dan Lebanon selatan sebagai contoh nyata dan jelas dari bahaya tersebut.
Your Comment