Menurut Kantor Berita ABNA, ribuan warga Arab Saudi membanjiri upacara pemakaman seorang pemuda muslim Syiah yang meninggal dunia setelah mendapat siksaan dari pihak kepolisian rezim Arab Saudi yang menangkapnya awal Maret lalu.
Upacara pemakaman Makki al-Aridh dihadiri oleh orang-orang di kota Awamiyah di wilayah Qatif di Provinsi Timur, rabu (31/3). Dalam upacara pemakaman tersebut, ribuan orang yang hadir juga mengadakan aksi unjuk rasa mengecam kebijakan represif Riyadh terhadap minoritas Syiah di negara kerajaan tersebut.
Rezim Arab Saudi mengembalikan jasad Makki Aridh dalam keadaan sudah tidak bernyawa setelah 26 hari berada dalam penahanan kepolisian Awamiyah. Disebutkan pemuda Syiah berusia 25 tahun tersebut telah hilang sejak tanggal 2 Maret. Dan ketika pihak keluarga melapor ke pihak kepolisian akan hilangnya salah satu anggota keluarganya, kepolisian malah menyampaikan berita akan kematian pemuda yang dicari tersebut.
Kepolisian Awamiyah mengatakan mereka telah menahan Aridh di sebuah pos pemeriksaan keamanan di Qatif, dan memindahkannya ke kantor polisi di Awamiyah atas tuduhan mengambil foto dari pos pemeriksaan. Disebutkan oleh pihak kepolisian korban meninggal dunia karena ketakutan saat diinterogasi dan diklaim korban mengidap penyakit psikososial. Klaim kepolisian tersebut dibantah pihak keluarga dengan menegaskan bahwa anak mereka tidak memiliki gangguan fisik dan mental, bahkan sebelum penculikan Aridh dalam kondisi sehat. Hasil visum menyebutkan penyebab kematian Aridh karena mengalami penyiksaan fisik sebelumnya. Pihak keluarga korban menuntut kepolisian agar memberikan klarifikasi yang sebenarnya mengenai apa yang terjadi pada Aridh termasuk alasan penculikan, penangkapan dan penyiksaan yang merenggut nyawa korban.
Awamiyah, terletak beberapa 390 kilometer (242 mil) timur laut dari ibukota Riyadh, Arab Saudi. Kota yang mayoritas berpenduduk Syiah tersebut telah melancarkan rangkaian aksi demonstrasi sejak Februari 2011 menyusul kebijakan-kebijakan tidak adil rezim Saudi kepada warga Saudi yang bermazhab Syiah. Salah satu tokoh penggerak aksi damai tersebut, Ayatullah Syaikh Nimr mendapat hukuman eksekusi mati Januari 2016 silam yang menyebabkan kemarahan internasional dan eskalasi serius ketegangan di wilayah tersebut.














