Menurut Kantor Berita ABNA, pawai akbar 22 Bahman untuk memperingati hari kemenangan revolusi Islam Iran yang ke 37 pada kamis (11/2) juga diikuti oleh Presiden Republik Islam Iran Dr. Hasan Rouhani. Presiden Iran pengganti Ahmadi Nejadi itu turut berbaur dengan lautan manusia yang membanjiri bundaran Azadi di jantung kota Tehran, ibu kota Republik Islam Iran.
Dalam pidatonya dihadapan jutaan rakyat Iran dan diliput ratusan wartawan lokal maupun asing, Presiden Rouhani mengatakan bahwa perubahan sosial yang drastis sejak Revolusi menjadi mungkin melalui kombinasi Islam dan demokrasi. Menurutnya dunia telah menyaksikan kebangkitan besar bangsa Iran dalam upaya meraih cita-cita dan tuntutan sejarahnya yang mengkristal dari kalimat Imam Khomeini. Ia berkata, “Sebagaimana pesan Imam Khomeini, revolusi tidak hanya mengubah sistem politik, namun juga harus mengubah etika dan cara pandang bangsa sama sekali. Bahwa kemajuan dan perubahan bisa dilakukan dengan cara damai, tanpa harus melibatkan kekerasan dan pemaksaan kehendak sama sekali.”
"Para kekuatan arogansi dunia yang telah berurusan dengan Iran dengan bahasa pemaksaan dan fitnah, telah sampai pada kesimpulan, bahwa bangsa kita tidak akan pernah menyerah pada tekanan dan ancaman." tegasnya.
“Kesepakatan bersejarah mengenai hak nuklir Iran dengan Barat telah memberi kemenangan bagi bangsa Iran sekaligus kegagalan dari konspirasi Iranophobia. Masyarakat internasional sekarang jadi tahu, bahwa klaim Iran sebagai ancaman dunia adalah klaim palsu dan menyadari fakta, bahwa rezim Zionislah yang merupakan ancaman bagi perdamaian dunia yang sesungguhnya.” tambahnya.
Dalam lanjutan orasinya, Rouhani menjanjikan masa depan ekonomi yang lebih baik bagi rakyat Iran, "Kita akan berinvestasi dan memanfaatkan semua kemampuan kita untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Dunia akan menyaksikan, dengan kerja keras dan penuh keteguhan, perekonomian Iran akan berkembang dan memasuki hari-harinya yang brilian.”
“Hari ini bukanlah hari untuk masing-masing kelompok untuk bersaing dengan mementingkan kepentingan golongannya yang sempit, melainkan bersatunya semua elemen masyarakat untuk membangun Iran yang lebih baik. Dan untuk itu, kita perlu berinteraksi dengan dunia.” Rouhani menambahkan.
“Untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan, maka Iran harus membuka diri dengan dunia luar, yang karena itu pemerintah bersedia bekerjasama dengan investasi asing.” tambahnya lagi.
"Revolusi tidak spesifik untuk pihak tertentu atau kelompok politik," Katanya tegas.
Dalam lanjutan pidatonya, Presiden Rouhani mendeskripsikan tokoh revolusioner itu menurutnya. Ia mengatakan, "Seorang individu revolusioner adalah orang yang toleran terhadap oposisi dan pendapat yang berbeda. Dia yang berpartisipasi dalam menjalankan kewajiban negaranya. Dia yang bertekad membangun negaranya untuk bisa bersaing dalam pasar dunia, yang menyambut kerja keras untuk membangun negara mereka. Ia menyongsong sebuah revolusi yang menyediakan citra damai Islam ke dunia saat ini.”
“Itulah sosok revolusioner yang sesungguhnya. Revolusi Iran telah menampar pihak-pihak yang mengklaim diri revolusioner namun justru menebar kejahatan. Salah satu bentuk keberhasilan revolusi adalah membantu terwujudnya persatuan nasional dan rekonsiliasi yang paling dibutuhkan rakyat.” Lanjutnya.
Pada bagian lain penyampaiannya, Rouhani mengingatkan rakyat Iran untuk mengambil bagian dalam pemilu mendatang. Pemilu menurutnya adalah hak rakyat untuk punya andil dalam menentukan nasib bangsanya. Baginya, tidak semestinya rakyat menghindari pemilu sebab melalui pemilu, rakyat mampu melakukan perubahan dan perbaikan atas ketidak puasan yang terjadi.
Disebutkan, kemenangan revolusi Islam Iran 37 tahun silam pada 11 Februari 1979 telah membawa perubahan besar bagi bangsa Iran. Runtuhnya Dinasti Pahlevi menandai terkuburnya Imperium Kekaisaran Persia yang kemudian melalui referendum mengubah sejarah bangsa Iran dengan membentuk sebuah negara modern yang bernama Republik Islam Iran, yaitu memadukan nilai-nilai Islam dan demokrasi.