Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wal Muslimin Kazem Seddiqi dalam khutbah kedua, Jumat (24/7) mengatakan, AS di Suriah, Yaman dan Irak sedang berupaya untuk membagi negara-negara ini.
Ia menambahkan, AS melakukan semua penindasan dan ketidakadilan ini sebagai upaya untuk mendukung rezim Zionis Israel.
Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi menegaskan bahwa Iran selalu menjadi pendukung bagi pemerintah-pemerintah yang muncul dari suara rakyat.
AS dengan bersekongkol dengan sejumlah negara Islam, kata Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi, telah membuat kawasan menghadapi krisis, dan negara itu telah menyerahkan senjata-senjatanya kepada pemerintah-pemerintah yang bukan pilihan rakyat untuk mendestabilisasi kawasan.
"Bangsa-bangsa Muslim harus memperkuat persatuannya untuk menghadapi konspirasi AS dan Zionis di kawasan," ujarnya.
Khatib Shalat Jumat Tehran lebih lanjut menyinggung prestasi nuklir Iran dalam perundingan di Wina.
Ia menuturkan, para negosiator nuklir Iran harus memberitahukan keseluruhan dimensi dari kesimpulan nuklir di Wina dan kemungkinan kerugiannya kepada rakyat, dan Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran juga bertanggung jawab untuk mengevaluasi teks kesepakatan mendatang.
Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi juga membantah sejumlah pernyataan tentang terjalinnya hubungan antara Iran dan AS pasca pelaksanaan kesepakatan nuklir.
"Republik Islam Iran berlawanan dengan arogansi dunia, dan antara keadilan dan penindasan tidak mungkin berkompromi," tegasnya.
Di bagian lain khutbahnya, Khatib Shalat Jumat Tehran menyinggung statemen sejumlah pejabat AS pasca kesepakatan di Wina.
Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi menuturkan, pasca kesepakatan di Wina, mereka mengklaim telah membuat bangsa Iran menyerah, namun dunia mengetahui bahwa dalam 36 tahun terakhir, bangsa negara ini berdiri kuat dihadapan AS dan tidak pernah menyerah terhadap ketamakan mereka.
Khatib Shalat Jumat Tehran meminta tim perunding nuklir Iran untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang terkadang ada di kesimpulan nuklir, dan memantau dengan hati-hati atas ingkar janji musuh. (IRIB)