Ahlulbait News Agency – ABNA, Ayatullah Syaikh Muhammad Ya‘qubi menyelenggarakan salat Idul Fitri di kantornya di Najaf al-Asyraf dan menyampaikan dua khutbah di hadapan jamaah mukmin.
Khutbah beliau berlandaskan ayat 70 Surah Al-Mu’minun dan ayat 78 Surah Az-Zukhruf, di mana Allah berfirman:
“Ataukah mereka mengatakan bahwa dia (Muhammad) gila? (Bukan demikian), tetapi dia telah membawa kebenaran kepada mereka, sementara kebanyakan mereka membenci kebenaran.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 70)
“Sungguh, Kami telah membawa kebenaran kepada kalian, tetapi kebanyakan dari kalian membenci kebenaran.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 78)
Konsep Hak dan Batil
Setelah menjelaskan makna bahasa dari dua ayat tersebut, Ayatullah Ya‘qubi menyebutkan bahwa konsep hak dalam pandangan para ahli bahasa memiliki dua pilar utama:
- Kokoh dan tetap teguh
- Sesuai dengan realitas dan tujuan yang benar
Beliau menegaskan bahwa hak bertentangan dengan batil. Kontradiksi ini dapat terjadi karena:
- Batil tidak memiliki pilar pertama, yakni tidak memiliki keteguhan dan stabilitas. Allah berfirman:
“Dan katakanlah, telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sungguh, kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra [17]: 81)
“(Allah hendak) meneguhkan kebenaran dan menghapus kebatilan, meskipun orang-orang yang berdosa membencinya.” (QS. Al-Anfal [8]: 8) - Batil tidak memiliki pilar kedua, yaitu tidak sesuai dengan realitas dan tujuan yang benar. Dalam kasus ini, hak berlawanan dengan kesesatan (ḍalāl). Allah berfirman:
“Maka setelah kebenaran, tidak ada yang tersisa kecuali kesesatan. Maka bagaimana kalian dapat berpaling?” (QS. Yunus [10]: 32)
Hak dan Batil dalam Kalam Ilahi
Ayatullah Ya‘qubi melanjutkan, menjelaskan bahwa hak adalah salah satu Asmaul Husna, dan keberadaan Allah, tauhid, serta sifat-sifat-Nya yang mulia adalah kebenaran mutlak. Sebagaimana para mufasir menjelaskan ayat berikut:
“Pada hari itu, Allah akan memberikan balasan mereka dengan kebenaran sepenuhnya, dan mereka akan mengetahui bahwa Allah adalah kebenaran yang nyata.” (QS. An-Nur [24]: 25)
Allah adalah hak, dan segala yang Dia turunkan, hukumkan, putuskan, janjikan, utus, serta serukan adalah hak. Segala yang bertentangan dengan itu adalah batil, kesesatan, tipu daya, dan kebanggaan palsu. Oleh karena itu, seorang manusia yang berakal tidak pantas meninggalkan hak demi mengikuti batil, mengingat bahwa batil hanya membawa kesesatan dan menjauhkan dari realitas serta kebenaran.
Kebencian Manusia terhadap Hak
Ayatullah Ya‘qubi menegaskan bahwa kenyataannya justru sebaliknya. Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat Alquran di Surah Al-Mu’minun dan Az-Zukhruf, mayoritas manusia menjauhi kebenaran, membencinya, menentangnya, serta dengan berani mendukung kebatilan.
Fenomena ini sangat mengherankan, namun merupakan fakta yang berulang kali ditekankan dalam Alquran. Dalam banyak ayat, Allah menegaskan bahwa mayoritas manusia tidak beriman, tidak bersyukur, dan tidak memiliki pengetahuan.
Allah berfirman:
“Tetapi kebanyakan manusia tidak mau kecuali mengingkari (kebenaran).” (QS. Al-Isra [17]: 89)
Perwujudan Sempurna dari Hak
Beliau melanjutkan, menjelaskan bahwa riwayat-riwayat suci menegaskan bahwa perwujudan hak yang paling sempurna tidak lain adalah Rasulullah (SAW) dan Amirul Mukminin Ali (AS).
Ali bin Ibrahim dalam tafsirnya menyebutkan:
“Hak adalah Rasulullah (SAW) dan Amirul Mukminin (AS).”
Hal ini didukung oleh ayat Alquran:
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dengan membawa kebenaran dari Tuhanmu. Maka berimanlah, itu lebih baik bagimu.” (QS. An-Nisa [4]: 170)
Ayat ini juga mengisyaratkan kepemimpinan Amirul Mukminin (AS).
Kedengkian terhadap Ahlul Hak
Ayatullah Ya‘qubi juga menyebutkan bahwa riwayat tentang ayat 32 Surah Al-Anfal menunjukkan fenomena kedengkian terhadap para pemegang kebenaran.
Allah berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika mereka berkata, ‘Ya Allah, jika ini adalah kebenaran dari sisi-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit kepada kami atau datangkanlah azab yang pedih kepada kami!’” (QS. Al-Anfal [8]: 32)
Ayat ini turun berkenaan dengan Nu‘man bin Harits al-Fihri, yang pada hari Ghadir menolak baiat kepada Rasulullah (SAW) untuk kepemimpinan Amirul Mukminin (AS).
Beliau menegaskan bahwa kebencian terhadap kebenaran ini terus berlanjut hingga saat ini. Pengikut Amirul Mukminin (AS) dan para pecinta kebenaran telah membayar harga yang mahal dengan nyawa, harta, dan hak-hak mereka hanya karena mereka berada di pihak kebenaran.
Pemerintahan Hak dan Batil
Ayatullah Ya‘qubi juga menjelaskan bahwa ayat 71 Surah Al-Mu’minun menunjukkan bahwa salah satu penyebab kebencian manusia terhadap hak adalah karena bertentangan dengan hawa nafsu mereka.
Mereka menginginkan agama dan sistem yang memenuhi syahwat, melindungi kepentingan, serta meningkatkan kekuasaan dan hak istimewa mereka. Namun, hal ini mustahil, karena akan membawa kepada kesesatan dan kerusakan besar.
Allah berfirman:
“Seandainya kebenaran itu mengikuti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Tetapi Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, namun mereka berpaling dari peringatan itu.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 71)
Keteguhan di Atas Hak
Beliau menutup khutbahnya dengan menyebutkan bahwa fenomena tragis ini telah berulang terhadap semua nabi, rasul, imam, ulama, serta para pencari kebenaran yang tulus.
Allah berfirman:
“Alangkah besar penyesalan terhadap para hamba itu! Tidak datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Yasin [36]: 30)
Meski mayoritas manusia berpaling dari hak, masih ada minoritas yang tetap teguh di atasnya.
Your Comment