Ahlulbait News Agency – ABNA – Dr. Hadi Sharaf, salah satu tokoh terkemuka komunitas Syiah Suriah, dalam sebuah catatan tertulis mengungkapkan secara rinci isi pertemuan delegasi perwakilan komunitas Syiah Suriah dengan Ahmad al-Shar’a, Presiden Pemerintahan Transisi Suriah.
Dalam catatan tersebut, ia menjelaskan tuntutan komunitas Syiah Suriah kepada Presiden Pemerintahan Transisi dalam pertemuan ini serta tanggapan yang diberikan oleh Presiden terhadap tuntutan tersebut. Ia juga mengungkapkan harapannya terhadap masa depan hubungan antara pemerintahan baru Suriah dengan komunitas Syiah di negara tersebut.
Berikut adalah isi lengkap catatan tersebut:
Delegasi yang dipimpin oleh Syaikh Adham Khatib dan beranggotakan Syaikh Dr. Hasan ‘Amurah, Syaikh Ali Zain, Sayyid Ali Qasim, Insinyur Abbas Hamidh, Dr. Hadi Sharaf, Ustadz Zaki Nuri, Ustadz Muhammad Balwah, Sayyid Muhammad Harajli, Ustadz Ali Khamis, Sayyid Syukrullah Jamal, Ustadz Muhammad Muhyiddin, Ustadz Muhammad Qurbash, Ustadz Jamal Haj Awadh, Sayyid Ibrahim Nasrullah, dan Ustadz Farhan Mansur bertemu dengan Presiden Ahmad al-Shar’a di Istana al-Sha’b di Damaskus.
Pertemuan dimulai pada pukul 02:40 waktu setempat dengan jabat tangan dan pelukan. Sesuai permintaan Syaikh Adham Khatib, diputuskan bahwa selain dirinya, Dr. Hadi Sharaf, Dr. Hasan ‘Amurah, Sayyid Ali Qasim, Ustadz Zaki Nuri, dan Ustadz Ali Khamis akan berbicara dalam pertemuan tersebut.
Syaikh Adham Khatib membuka pertemuan dengan ucapan selamat datang, lalu mengulas berbagai peristiwa penting sejak awal kemenangan Revolusi Suriah hingga saat ini. Ia menyoroti berbagai pelanggaran yang terjadi serta kekhawatiran fundamental dan ideologis yang dirasakan oleh komunitas Syiah Suriah. Presiden dengan seksama mendengarkan semua poin yang disampaikan, mencatatnya dengan pena di selembar kertas yang disediakan untuknya. Ketika pertemuan berlangsung, ekspresi Presiden semakin menunjukkan ketenangan. Pidato Syaikh Adham Khatib berlangsung selama 23 menit.
Pembicara kedua dalam pertemuan ini adalah Syaikh Dr. Hasan ‘Amurah yang membahas pengembangan kapasitas Universitas Jami’at al-Sham cabang Sayyidah Ruqayyah.
Pembicara ketiga adalah saya sendiri (Dr. Hadi Sharaf). Dalam penyampaian saya, saya meminta agar media bersikap adil dalam memberitakan isu-isu terkait komunitas Syiah. Saya juga menekankan perlunya menghindari penggunaan istilah "minoritas" sejauh mungkin, karena kami bukan minoritas di tanah air kami. Kami adalah bagian asli dari masyarakat Suriah dengan hak dan tanggung jawab yang sama. Saya juga menyoroti bagaimana rezim sebelumnya secara sistematis mengecualikan komunitas kami dari layanan dasar guna mengontrol dan memaksa kami mengikuti kebijakan tertentu, dampak dari kebijakan ini masih terasa hingga sekarang. Saya menegaskan bahwa kami siap untuk berkontribusi dalam membangun kembali negara dengan seluruh pengalaman dan keahlian yang kami miliki. Saya juga menolak beberapa praktik keagamaan asing yang tidak sesuai dengan identitas Syiah Suriah. Di akhir pidato, saya meminta agar masalah yang terkait dengan pengelolaan Sekolah Muhsiniyah, terutama mengenai emas yang disita yang seharusnya digunakan untuk gaji pegawai dan biaya operasional sekolah selama tiga bulan ke depan, dapat diselesaikan.
Pembicara keempat adalah Ustadz Zaki Nuri, yang menyoroti kepribadian dan perjuangan Sayyid Mohsen Amin dalam memperkuat persatuan berbagai lapisan masyarakat Suriah. Ia juga menjelaskan peran penting Sekolah Muhsiniyah dalam membentuk komunitas Damaskus sepanjang sejarahnya.
Pembicara kelima adalah Sayyid Ali Qasim, yang menegaskan komitmen komunitas Syiah Suriah terhadap semua hukum negara serta kebutuhan mendesak akan keamanan dan stabilitas.
Pembicara keenam adalah Ustadz Ali Khamis, yang membahas berbagai masalah khusus yang dihadapi oleh komunitas di Nubl dan al-Zahra.
Presiden menanggapi semua isu yang disampaikan dengan sikap positif. Ia mengakui beberapa keistimewaan komunitas Syiah dan menekankan bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan seluruh warga Suriah serta menciptakan kondisi kehidupan yang layak dengan semangat solidaritas dan kerja sama antarsemua elemen masyarakat. Ia berjanji untuk meninjau dan menyelesaikan semua pelanggaran serta penyitaan properti dan aset, baik yang berupa tanah maupun harta benda lainnya.
Ahmad al-Shar’a juga berjanji untuk menyelesaikan semua masalah yang diangkat dalam pertemuan ini serta menerima permintaan Syaikh Adham Khatib untuk meningkatkan tingkat komunikasi dan interaksi dengan komunitas Syiah Suriah. Setelah itu, diskusi lebih lanjut dilakukan mengenai berbagai peristiwa yang telah dan sedang terjadi di Suriah, di mana Syaikh Adham Khatib, Ustadz Muhammad Ma’ruf Balwah, saya sendiri (Dr. Hadi Sharaf), Sayyid Ali Qasim, dan beberapa peserta lainnya turut serta dalam diskusi tersebut.
Presiden dalam kesempatan ini menekankan pentingnya persatuan seluruh rakyat Suriah dalam menghadapi ancaman yang mengintai negara mereka. Pertemuan berakhir pada pukul 04:45, dengan ekspresi ketenangan Presiden yang mencerminkan kepuasannya. Sikap hormatnya terhadap para perwakilan komunitas Syiah sangat jelas terlihat sepanjang pertemuan, dan setelah pertemuan, kami semua merasa optimis dengan hasil yang dicapai.
Foto bersama diabadikan atas permintaan Syaikh Adham Khatib, yang menegaskan bahwa pertemuan ini bukan yang pertama dan terakhir. Pada akhirnya, apa yang telah terjadi adalah berkat anugerah Tuhan serta upaya luar biasa yang telah dilakukan oleh sejumlah tokoh yang setia kepada tanah air dan semua lapisan masyarakatnya.
Hormat kami,
Dr. Hadi Sharaf
Your Comment