Dikutip surat kabar Rai Al Youm, Sabtu (9/9/2023), pejabat
Palestina itu menuturkan, banyak persyaratan yang tetap masih berada di
atas meja, dan masalah Palestina merupakan prioritas.
"Semua yang dimuat oleh media-media berbahasa Ibrani, dan beberapa surat
kabar serta situs-situs besar internasional terkait keselarasan iden
dan sikap, serta rencana pengumuman normalisasi resmi Tel Aviv-Riyadh
dalam waktu dekat, tidak benar, karena sikap Saudi, sampai saat ini
tidak berubah," imbuhnya.
Ia menerangkan, "Para pejabat Saudi, terang-terangan kepada sejawatnya
dari Palestina, menegaskan bahwa pintu Saudi untuk Israel tidak akan
terbuka secara gratis, dan Saudi memiliki banyak persyaratan untuk
menjawab langkah Amerika Serikat yang membuka kasus normalisasi."
Menurut pejabat Palestina, masalah normalisasi sangat sensitif bagi
rakyat Saudi, dan meski berada di bawah tekanan-tekanan AS, serta dunia
internasional, sikap mereka tetap, dan normalisasi hubungan tidak
mengalami kemajuan berarti.
Ia menegaskan, Israel harus mengakui secara resmi seluruh hak rakyat
Palestina yang tercantum dalam semua aturan, piagam, dan
konvensi-konvensi internasional serta Arab, sebagai kompensasi atas
dibukanya normalisasi hubungan.
Pejabat Palestina ini melanjutkan, Israel mengetahui dengan baik sikap
Saudi, terkait normalisasi hubungan, akan tetapi mereka berusaha
menunjukkan kepada publik lewat media bahwa upayanya di bidang
normalsiasi mengalami kemajuan. (HS)
342/