8 September 2026 - 22:06
Militer Lebanon Tak Mampu Hadapi Israel, Arti Strategis Dataran Tinggi Ali al-Taher Dibesar-besarkan

Mantan Duta Besar Iran untuk Lebanon, Mojtaba Amani, mengatakan Hizbullah selama ini mengambil keputusan secara independen dan tidak mengharapkan Iran mengambil keputusan atau terjun ke medan operasi atas nama kelompok tersebut.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Amani juga menilai militer Lebanon saat ini tidak memiliki kemampuan dan perlengkapan yang memadai untuk menghadapi Israel jika Hizbullah dilucuti. Ia menyampaikan pandangan tersebut sekitar 70 hari setelah tercapainya kesepakatan kerangka antara Lebanon dan Israel.

Menurut Amani, meski lebih dari dua bulan telah berlalu sejak kesepakatan itu, serangan Israel di Lebanon selatan masih terus berlangsung. Bahkan, pejabat Lebanon yang sejak awal mendukung jalur tersebut kini mulai mengeluhkan bahwa kesepakatan itu belum mampu menghentikan pendudukan maupun serangan.

“Pihak-pihak di Lebanon yang mendukung kesepakatan ini sebagai jalur yang tepat atau satu-satunya pilihan, termasuk presiden dan perdana menteri Lebanon, kini mengakui bahwa praktis tidak ada hasil yang diperoleh. Pendudukan belum berakhir, serangan belum berhenti, dan persoalan warga Lebanon yang ditahan juga belum terselesaikan secara berarti,” kata Amani kepada ABNA.

Ia menambahkan bahwa Hizbullah sejak awal telah menentang kesepakatan tersebut. Menurutnya, perkembangan di lapangan selama lebih dari dua bulan terakhir menunjukkan bahwa kekhawatiran kelompok perlawanan terhadap hasil kesepakatan itu bukan tanpa alasan.

Hizbullah Tidak Mengharapkan Iran Mengambil Keputusan untuk Mereka

Menjawab pertanyaan mengenai ekspektasi Hizbullah terhadap Republik Islam Iran, Amani mengatakan kelompok tersebut selalu mengambil keputusan secara independen.

“Saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa Hizbullah tidak mengharapkan Iran mengambil keputusan atas nama mereka atau masuk ke dalam operasi menggantikan mereka. Memang, opini publik mungkin memiliki pandangan berbeda dan kadang meminta bantuan atau dukungan Iran, tetapi keputusan Hizbullah bersifat independen,” ujarnya.

Amani mengatakan sebelum serangan Israel terbaru terhadap Iran, Teheran tidak menjalankan operasi militer bersama dengan Hizbullah melawan Israel.

Dalam perkembangan setelah 7 Oktober, menurutnya, Hizbullah dan Iran bertindak secara independen, sementara masing-masing front perlawanan juga menentukan langkah berdasarkan perhitungan mereka sendiri.

Ia menegaskan Iran tetap berkomitmen mendukung perlawanan Lebanon.

Menurut Amani, apabila Iran memutuskan memberikan respons terhadap tindakan Israel, Teheran akan menentukan sendiri waktu, tempat, dan bentuk tindakannya berdasarkan kalkulasinya.

Nilai Strategis Dataran Tinggi Ali al-Taher Dinilai Dibesar-besarkan

Amani juga menanggapi klaim Israel mengenai keberhasilan memperoleh kendali operasional atas Dataran Tinggi Ali al-Taher. Menurutnya, Israel berusaha membesar-besarkan arti strategis kawasan tersebut karena membutuhkan sebuah pencapaian yang dapat ditampilkan kepada publik domestik.

“Dalam perang modern saat ini, penguasaan sebuah dataran tinggi tidak serta-merta berarti memperoleh keunggulan yang menentukan atau membuka jalan bagi kemajuan besar,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar informasi militer saat ini diperoleh melalui satelit, balon pengintai, dan drone sehingga penguasaan satu titik ketinggian saja tidak cukup untuk mengubah keseimbangan perang secara mendasar.

Amani juga mengatakan apabila Israel menempatkan fasilitas dan peralatan militer di kawasan tersebut, perangkat itu sendiri dapat menjadi sasaran.

Ia mencontohkan bahwa pada awal perang setelah 7 Oktober, Hizbullah mampu menyerang sejumlah kamera dan perangkat pengawasan Israel di sepanjang perbatasan dengan menggunakan persenjataan yang relatif sederhana.

Menurutnya, narasi mengenai Dataran Tinggi Ali al-Taher sebagian harus dipandang sebagai bagian dari perang psikologis dan media Israel.

Amani menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membutuhkan pencapaian di medan perang dan karena itu berkepentingan membesar-besarkan isu tersebut.

Ia kemudian mengingat pengalaman perang Iran-Irak. Menurut Amani, ketika Irak membombardir Bandara Mehrabad pada awal perang, Imam Khomeini tidak membiarkan serangan tersebut menciptakan suasana seolah Iran telah kalah atau runtuh.

Ia juga menyinggung pendudukan Khorramshahr yang berlangsung selama 34 hari sebelum kota itu direbut kembali melalui Operasi Beit al-Moqaddas.

“Karena itu, penguasaan satu titik atau terjadinya satu serangan tidak boleh dianggap sebagai perubahan pasti terhadap hasil sebuah perang,” ujarnya.

Potensi Konflik Lebih Luas Tetap Ada

Amani mengatakan kemungkinan serangan Israel berkembang menjadi konflik yang lebih luas dengan Hizbullah tetap ada. Namun, menurutnya, kondisi kawasan serta kalkulasi politik domestik Israel dan Amerika Serikat akan sangat memengaruhi keputusan masing-masing pihak. Ia menilai Netanyahu membutuhkan kemenangan menjelang pemilu dan dapat mencari sebuah operasi yang bisa ditampilkan sebagai keberhasilan yang jelas.

Namun, kata Amani, Netanyahu juga tidak dapat memasuki perang baru hanya berdasarkan harapan atau kemungkinan kemenangan. Ia mengatakan retorika kampanye Netanyahu menunjukkan upaya untuk menampilkan dirinya sebagai sosok yang mampu menyelamatkan Israel dari kehancuran.

Menurut Amani, hal itu menunjukkan bahwa persoalan kelangsungan dan masa depan Israel telah menjadi isu penting dalam politik domestiknya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump, menurutnya, belum tentu menginginkan meluasnya perang baru di kawasan karena hal itu dapat merugikan kepentingan Amerika dan meningkatkan biaya bagi Washington.

Karena itu, Amani menilai terdapat kontradiksi antara kebutuhan Netanyahu memperoleh pencapaian militer dan kepentingan AS untuk mengendalikan eskalasi regional.

Militer Lebanon Dinilai Belum Mampu Menghadapi Israel

Menjawab pertanyaan apakah militer Lebanon mampu menjamin keamanan wilayah selatan setelah pelucutan senjata Hizbullah, Amani mengatakan kondisi persenjataan militer Lebanon belum memungkinkan mereka menghadapi serangan Israel secara efektif.

Ia merujuk pada pengalamannya ketika menjabat sebagai duta besar Iran di Lebanon. “Saya pernah berbicara dengan menteri pertahanan dan pejabat Lebanon mengenai kondisi militernya. Menariknya, seorang duta besar Eropa mengatakan kepada saya bahwa negara-negara Eropa telah membantu militer Lebanon. Ketika saya bertanya bantuan seperti apa, ia menjelaskan bahwa sebagian besar berupa pakaian, sepatu bot, dan perlengkapan non-tempur,” katanya.

Menurut Amani, militer Lebanon tidak memiliki sistem pertahanan udara yang efektif maupun angkatan udara yang dapat diandalkan untuk menghadapi serangan Israel.

Sebagian anggaran militer Lebanon, lanjutnya, juga masih ditopang bantuan negara-negara asing.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan militer Lebanon saat ini belum mampu secara mandiri menjamin keamanan negara.

Amani menambahkan bahwa munculnya perlawanan Lebanon sendiri terjadi ketika militer negara itu tidak memiliki kemampuan memadai untuk mempertahankan wilayah Lebanon dan mencegah serangan Israel.

Ia menilai sulit membayangkan ada pihak di Lebanon yang benar-benar percaya bahwa Israel akan menghentikan serangannya apabila Hizbullah menyerahkan senjata.

“Pertanyaan utamanya adalah, jika daya tangkal perlawanan diambil dari Lebanon, siapa yang akan menghadapi kemungkinan agresi Israel?” katanya.

Menurut Amani, tidak masuk akal membiarkan militer Lebanon tanpa perlengkapan pertahanan efektif, tetapi pada saat yang sama berharap pasukan tersebut mampu melindungi negara dari kekuatan militer yang jauh lebih lengkap.

Negosiasi dengan Israel Dinilai Belum Membuahkan Hasil

Amani juga mengkritik pendekatan pemerintah Lebanon yang dalam beberapa bulan terakhir berfokus pada perundingan melalui mediasi Amerika Serikat. Ia mengatakan selama proses tersebut, serangan dan penghancuran oleh Israel masih terus terjadi.

“Karena itu, pertanyaannya adalah, apa hasil konkret dari jalur negosiasi ini bagi Lebanon?” ujarnya.

Menurut Amani, Hizbullah dan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri berpendapat pemerintah Lebanon sebenarnya dapat memanfaatkan kapasitas dialog Iran-AS serta daya tawar Iran untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut, tetapi Beirut memilih jalur lain.

Ia menambahkan bahwa sebagian kalangan di Lebanon juga menilai negosiasi langsung maupun tidak langsung dengan Israel berpotensi bertentangan dengan sejumlah prinsip dan aturan dasar negara. Namun, pemerintah Lebanon tetap memilih jalur tersebut.

“Kadang sebuah metode memang harus dicoba sampai terlihat apakah benar-benar efektif atau tidak. Kini sudah lebih dari dua bulan negosiasi dilakukan, tetapi di lapangan kita belum melihat serangan Israel berhenti,” katanya.

Situasi Politik Lebanon Tetap Rapuh

Amani mengatakan Lebanon memiliki sistem politik berbasis konsensus dan sektarian, sehingga keputusan-keputusan penting membutuhkan kesepahaman di antara berbagai kelompok.

Karena itu, menurutnya, isu persenjataan Hizbullah bukan semata persoalan militer, tetapi juga terkait langsung dengan struktur politik dan sosial Lebanon.

Ia mengatakan pemerintahan saat ini juga terbentuk berdasarkan keseimbangan tersebut.

Apabila para menteri Syiah keluar dari pemerintahan, menurutnya, struktur konsensus dalam kabinet dapat terganggu dan kemungkinan pembentukan pemerintahan baru dapat muncul.

Amani juga mengatakan pemilihan parlemen Lebanon yang semula dijadwalkan berlangsung tahun ini telah diperpanjang selama dua tahun dalam kondisi saat ini, sehingga masa jabatan parlemen disebut akan berlangsung hingga 2028, meski perkembangan politik domestik masih dapat memengaruhi proses tersebut.

Amani: Sikap Diam Hizbullah Bagian dari Kesabaran Strategis

Menanggapi pertanyaan apakah sikap diam Hizbullah belakangan ini dapat menjadi pendahuluan bagi sebuah operasi mengejutkan, Amani mengatakan kelompok tersebut selama bertahun-tahun menunjukkan kemampuan menerapkan “kesabaran strategis” dan bertahan dalam kondisi sulit. Menurutnya, pendekatan tersebut juga terlihat dalam hampir tiga tahun terakhir.

Ia mengatakan setelah tercapainya kesepakatan yang dimediasi AS dan Prancis, serta melibatkan militer Lebanon dan UNIFIL dalam pengawasan pelaksanaannya, Israel berulang kali melakukan pelanggaran, serangan, dan pembunuhan.

Namun Hizbullah pada beberapa periode memilih tidak membalas demi menjaga kondisi politik Lebanon dan jalannya kesepakatan domestik. Amani mengatakan situasi berubah setelah serangan Israel terhadap Iran dan masuknya Teheran ke dalam konflik.

Setelah itu, menurutnya, Hizbullah juga memasuki tahap tindakan yang berbeda. Ia menilai jumlah serangan Israel terhadap Lebanon kini berkurang dibanding sebelumnya.

Menurut Amani, ada dua faktor utama. Pertama, keterlibatan Iran dalam perhitungan konflik. Kedua, Hizbullah telah menunjukkan bahwa kelompok tersebut tidak dapat dimusnahkan dengan mudah dan serangan terus-menerus terhadapnya belum tentu menghasilkan apa pun selain meningkatnya biaya bagi Israel.

Israel Dinilai Harus Mengakui Realitas Perlawanan

Amani mengatakan situasi kawasan masih kompleks dan rapuh. Menurutnya, pemilu di Amerika Serikat dan Israel, serta kepentingan yang saling bertentangan di antara berbagai aktor, membuat pengambilan keputusan menjadi semakin sulit.

Ia mengatakan Israel telah menguji kekuatan militer Iran dan Hizbullah dan pada akhirnya, menurut pandangannya, harus menerima realitas kekuatan kedua pihak tersebut.

Amani menambahkan bahwa kelompok perlawanan selama bertahun-tahun telah menunjukkan kemampuan bertahan di bawah tekanan berat.

“Israel, melalui tindakannya dan insistensinya untuk terus melakukan serangan, menurut saya berada di jalur yang pada akhirnya akan memaksanya mengakui kekuatan dan ketahanan perlawanan. Sementara perlawanan, dengan bertahan dan mempertahankan kemampuan daya tangkalnya, sedang bergerak di jalur yang dapat disebut sebagai jalan menuju kemenangan,” pungkasnya.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha