22 Juni 2021 - 18:07
Akademisi Jepang Raih Penghargaan Peneliti Teladan dari Iran

Akademisi Jepang Raih Penghargaan Peneliti Teladan dari Iran

Menurut Kantor Berita ABNA, Dr. Rio Ichi Sugi Yama, seorang Iranolog dan tenaga pengajar universitas di Jepang yang aktif memperkenakan Kebudayaan Iran di Jepang mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari Yayasan Seni Budaya Internasional Imam Ridha as bekerjasama dengan Pemerintah Iran urusan kerja sama budaya dan luar negeri. 

Dr Yuichi Sugi Yama dipilih sebagai Peneliti Teladan dari Festival Internasional Imam Ridha as ke-19. Peneliti Jepang tersebut juga mendapatkan piagam penghargaan dan apresiasi  dari Dr. Salehi, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam.

Acara pemberian penghargaan terselenggara di Kantor Kedutaan Besar Iran untuk Jepang di Tokyo pada Minggu (20/6) bertepatan dengan malam peringatan wiladah Imam Ridha as. Penasihat Budaya Kedutaan Besar Iran di Jepang Mr. Divasalar mewakili Kementerian Kebudayaan Iran memberikan penghargaan kepada Dr. Yuichi Sugi Yama.

Dalam pertemuan tersebut, Divasalar berterima kasih atas perhatian yang diberikan kepada para peneliti dan akademisi Jepang yang aktif meneliti dan mengkaji kebudayaan Iran. Ia berkata, "Para profesor Iranologi dan Islamologi Jepang yang luar biasa, serta para cendekiawan Jepang secara keseluruhan telah memainkan peran unik dan berharga dalam menciptakan hubungan kondusif  antara dua negara besar Iran dan Jepang, dan kami selalu menghargai upaya-upaya akademis tersebut,"

Penasihat Kebudayaan Kedutaan Besar Iran di Jepang tersebut lebih lanjut menekankan bahwa Kedutaan Besar Iran di Jepang telah melakukan segala upaya untuk melaksanakan berbagai program dan mempermudah akses bagi para peneliti dan akademisi Iran untuk mengkaji dan meneliti kebudayaan Iran. Dia menambahkan, "Konsulat Kebudayaan Iran di Jepang secara serius dan intensif memanfaatkan berbagai fasilitas untuk mengadakan pertemuan, seminar, dan berbagai konferensi di Jepang. Termasuk dalam mendukung penelitian para pakar Iranologi Jepang, Konsulat Kebudayaan Iran telah menerbitkan buku dan artikel terkait Iran dalam bahasa Jepang dan juga menerbitkan dan menyebarluaskan karya-karya akademisi Jepang mengenai Iran."

"Kehadiran yang efektif dan serius dalam pertukaran budaya, seni serta program dan festival ilmiah di Jepang dan di Iran yang dapat dilihat dalam kerjasama dan dukungan yang berharga dari pejabat dan staf Yayasan Internasional Imam Ridha as pada tahun ini, menunjukkan proses ini akan terus berlanjut dengan sungguh-sungguh." Tambahnya. 

Adapun dalam plakat penghargaan dari Dr. Salehi, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Republik Islam Iran kepada Dr. Yuichi Sugi Yama, bertuliskan:

"Yang terhormat Tuan Rivaichi Sugi Yama

Setelah upaya berharga untuk memperkenalkan budaya Islam asli dengan menciptakan karya-karya yang berkaitan dengan Imam Ridha as dan budaya Ridhawi, Anda telah terpilih sebagai "peneliti teladan budaya Ridhawi" dalam Festival Internasional Imam Ridha as yang ke-19.

Dengan itu, saya dengan tulus mengucapkan selamat kepada Anda atas prestasiini ini dan plakat penghargaan ini diberikan kepada Anda.

Semoga Tuhan senantiasa memberi kesuksesan pada Anda"

Sementara Dr. Rio Ichi Sugi Yama, dalam pernyataannya setelah menerima pengharaan dari Pemerintah Iran dan Yayasan Internasional Imam Ridha as, mengatakan, Saya bangga dan berterimakasih pada Republik Islam Iran dan yayasan ini, yang telah memberikan award sebagai peneliti teladan. Saya senang dan berterima kasih dari lubuk hati saya dan ketika semua  profesor dan teman-teman  peneliti Jepang dan Iran memberi saya ucapan selamat, betapa bahagianya saya. Ke depan saya mencoba untuk belajar dan meneliti tentang Imam Ridha as, Masyhad dan Astan Quds Razavi lebih dari sebelumnya."

Merujuk pada kerja sama yang berharga dari para profesor dan peneliti Iran, khususnya di Astan Quds Razavi, ia menekankan bahwa ia percaya bahwa kegiatan Astan Quds Razavi belum cukup dipelajari dalam sejarah. Dr. Sugi Yama berkata, "Saya telah berkali-kali ke Iran dalam rangka melakukan penelitian. Yang pertama adalah pada tahun 2004 sampai 2006 sebagai peneliti tamu. Kemudian selama hampir 20 tahun terakhir saya berkali-kali ke Iran khususnya ke Masyhad. Saya dengan bebas bisa menggunakan perpustakaan Astan Quds Razavi, yang menurut saya seperti harta karun karena komplitnya. Pengelola dan penanggung atas tumpukan koleksi berharga tersebut dengan tulus dan penuh kasih memberi saya dokumen dan semua yang saya butuhkan, untuk itu saya berterima kasih kepada mereka semua."

Dr. Sugi Yama dalam berbagai hasil penelitian dan tulisannya mempublikasikan berbagai hal terkait posisi Astan Quds Razavi dalam menciptakan pembangunan, lapangan kerja, pelayanan kepada peziarah dari seluruh Iran dan dunia, termasuk Sunni, Syiah bahkan non muslim. Dia juga mempresentasekan peran keberadaan Haram Imam Ridha as di Masyhad dalam memebri dukungan sosial, pengentasan kemiskinan, pendidikan agama, urusan amal dan nirlaba, manajemen rumah sakit dan lain-lain. 

Pada bagian akhir penyampaiannya, Dr. Sugi Yama  berterimakasih dan memuji  beberapa profesor dan peneliti Astan Quds Razavi baik dari Iran maupun dari Jepang, seperti Dr. Nasiri, Dr. Hassanabadi, Dr. Fazel Hashemi, Dr. Hosseinzadeh, Dr. Nemati, Dr. Talaei, Dr. Mahboub, Alm. Dr. Hanehda, mendiang Profesor Yukawa , Dr. Sakamoto, Dr. Sakuraei, Dr. Morimoto, Dr. Abe, dan lain-lain. Dia menyampaikan harapan bahwa karena minat dan rasa hormat yang besar antara dua negara besar Iran dan Jepang untuk pertukaran budaya satu sama lain dan peradaban, hubungan yang tulus dan bersahabat antara kedua negara akan selalu berlanjut dan stabil.